10

875 30 3
                                    

"aku keras kepala dan aku menerimanya"
.

.

"kita sama Anggrek udah sepaket, jadi kalau Anggrek ikut kita juga harus ikut" ucap Githa sembari menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Matanya menatap penuh selidik terhadap lelaki yang tadi menyerukan nama Anggrek begitu keras.

Cowok tampan yang sedang berdiri di depan pintu dengan 4 perempuan mengelilinginya terlihat takut. Ekspresinya sekarang berubah pucat setelah teman teman Anggrek memberi syarat untuk bisa menemui Anggrek. Cowok ini sebenarnya tipe anak yang periang tetapi setelah bertemu ketiga teman Anggrek tidak ada kata riang dalam wajahnya.

"tapi... Gue cuma punya urusan sama Anggrek" jawabnya pelan dengan kepala yang tertunduk lemah.

"kan gue udah bilang kalau Anggrek ikut temennya juga harus ikut" ucap Githa sambil memasang ekspresi penuh angkuh. Githa sangat sangat ingin tahu segalanya tentang Anggrek. Di hadapan para sahabatnya Anggrek itu terlihat tak peduli dengan dirinya sendiri. Begitu pikir Githa. Githa takut jika Anggrek memendam sebuah masalah sendirian. Untuk apa sahabat jika tak bisa menjadi obat. Benar?

"sudahlah kalian tunggu saja disini" kata Anggrek yang sudah malas menonton perdebatan Githa dengan cowok yang sedang mencarinya.

"tapi-" kata Githa sok dramatis dengan raut muka yang dibuat penuh memelas.

Anggrek memalingkan wajahnya dan menarik cowok ini menjauh dari para sahabatnya. Anggrek melihat jika Githa memandangnya dengan wajah penuh kecewa. Tapi Anggrek harus tahu dulu maksud cowok ini ingin menemuinya.

Mereka berhenti di pinggir tangga yang ada di samping kelas Anggrek. Anggrek membelokkan kakinya masuk lebih jauh ke dalam ruangan terbuka yang menghubungkan ke lantai dua.

"ada apa?" tanya Anggrek secara langsung tanpa basa basi terlebih dahulu karena Anggrek ingin cepat cepat menyelesaikan urusannya dengan cowok ini.

"kak, apa kabar?" tanya cowok yang memanggil Anggrek dengan sebutan 'kak'.

"gue bukan kakak lo dan jangan basa basi sama gue!" kata Anggrek dengan tangan yang terlipat di depan dada dan kepala yang sengaja di dongakkan ke atas agar menambah kesan angkuh pada dirinya.

"iya maaf" jawab cowok yang memiliki dua cekungan cukup dalam pada kedua pipinya. Bahkan hanya berbicara pun kedua lesung pipinya langsung terlihat sangat jelas. Itu membuatnya wajahnya terkesan sangat manis.

"cepetan kalau mau ngobrol" kata Anggrek sedikit menambahkan bentakan pada kalimatnya. Sontak cowok yang sedang menunduk di hadapannya langsung mengangkat kepalanya secepat angin.

"apa lo ada waktu minggu ini?"

"emang kenapa?"

"gue mau ajak lo ke pembukaan cafe keluarga gue" ajak cowok ini dengan nada yang terdengar berharap.

Anggrek terlihat menimang nimang jawaban antara ya atau tidak. Sebenarnya dia tidak ada janji ataupun acara dengan siapapun. Tapi seperti ada sesuatu yang menyuruhnya untuk terus menimang jawaban. Padahal sebenarnya dia sangat senang datang ke pembukaan cafe atau restoran karena banyak makanan gratis disana.

"ya gue mau" kata Anggrek dengan seulas senyum terlukis tipis di wajahnya. Cowok ini seperti terhipnotis dengan senyuman Anggrek hingga dia pun ikut tersenyum juga.

"acaranya jam 1 siang, terima kasih karena mau datang" ucapnya sebelum akhirnya pergi meninggalkan Anggrek dan kembali ke kelasnya.

Anggrek memutar badannya dan berniat kembali ke kelasnya karena baru saja terdengar bel istirahat sudah selesai. Baru saja satu gerakan berbalik badan dia sudah dihadapkan dengan laki laki lain. Cowok ini menatapnya dengan tatapan dingin. Meskipun berdiri agak jauh dari tempat Anggrek sangat terlihat jika cowok ini menyimpan sebuah kemarahan.

Trouble Maker ClassTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang