Part 33

1.6K 111 31
                                        

"Bagaimana mungkin?!" Teriak Argus berang, mimik wajahnya tersirat kemarahan. "Bukankah aku telah menghancurkannya?!"

"Ya, kau menghancurkannya dengan bodohnya." Kekeh Lesley sambil bangkit dengan kokohnya. "Apa kau tahu apa yang kau hancurkan?"

"Gantungan plastik." Tandas Miya, cara berdirinya kokoh dan aura violet mengelilinginya. "Tidak kupercaya tipuan sederhana seperti itu dapat menipumu."

"Bagaimana bisa?! Aku benar-benar yakin kau baru mengambilnya dari tempatnya!" Bentak Argus.

Lesley dan Miya menyeringai, sementara Harley, Layla, Alucard, Gusion, dkk (biar nggak lama nyebutin satu-satu) menatap kedua cewek itu bingung.

Flashback**

"Eh, Mi. Emang kamu udah tau gimana bentuk yang kamu cari?" Tanya Lesley.

"Tau, lah. Kamu tau 'kan beberapa hari ini aku tidurnya malem terus? Nah, aku bikin replikanya." Seringai Miya.

"Kamu bawa?" Tanya Lesley lagi.

"Yoi, tadinya mau aku tunjukin ke Alu. Tapi nggak sempet, aku jadiin gantungan kunci." Jawab Miya ringan.

Lesley hanya mengangguk-angguk, lalu keduanya tetap berjalan beriringan sementara dibelakang Layla dan Harley mengobrol seru tentang kekasih masing-masing.

Emang ya, derita yang nggak punya pacar tuh yang nanggung yang ada didepan ini.

"Ini pilih kiri atau kanan ya?" Tanya Layla saat mereka berhenti di persimpangan dua lorong.

"Kanan kiri aja aku masih bingung, La." Jawab Miya kalem.

"Kakak inget-inget coba, belok kemana?" Tanya Harley.

"Kata papa waktu itu belok kanan." Jawab Miya. "Kanan yang mana?"

"Yang sebelah sini." Ucap Lesley sambil menggerakan bola matanya ke lorong yang kanan.

"Bola mata kamu kenapa, Les? Kok bisa gerak-gerak gitu? Ajarin Miya dong." Kata Miya, wajahnya polos bikin Lesley keki.

"Iyaa!! Bola mata aku bisa gerak gara-gara pake payung." Celetuk Lesley keki.

"Nggak keliatan payungnya." Ujar Miya, "Miya bingung."

"Aish, malah ribut soal payung-payungan. Gimana sih?" Gerutu Harley.

"Ih bentar dulu, Har." Amuk Miya, ia menjitak kepala Harley. "Aku mau belajar gerakin bola mata dulu sama kakakmu ini."

"Heleh, Kak. Kalo kakak liat ke kanan 'tau kiri bola mata kakak juga gerak tau." Gerutu Harley sambil mengusap kepalanya yang dijitak Miya.

"Oiya, ya. Baru nyadar." Gumam Miya, "jadi selama ini mata aku pake payung?"

"Ya nggaklah, Miya sayaaangg!! Duh keki sumvah." Amuk Layla, "jalan cepet! Aku udah sebel disini sama orang polos sama nggak pekaan."

"Lah, aku dong?" Tanya Miya pilon, sementara tiga orang itu sudah pergi ke lorong kanan. "He-hei tunggu!"

Tibalah mereka disebuah pintu yang terbuat dari besi. Pintu tersebut bersinar lembut menyinari tubuh Miya, lalu saat sinar itu meredup pintu itu terbuka.
Tampaklah oleh keempat orang itu, sebuah meja kecil dengan busur biru yang melayang disitu. Menandakan itu meja berisi pusaka Miya.
Miya menempelkan ibu jarinya di dekat laci rahasia, lalu laci tersebut terbuka. Munculah lencana ungu itu, berpendar-pendar indah.

The Moon Elf [Complete]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang