TIGA PULUH EMPAT

151 12 0
                                    

Davin berbaring di atas tempat tidurnya sambil memandangi sebuah foto yang ia tempel di dekat meja belajarnya. Ia tersenyum tipis. Hatinya terasa bahagia sekarang.

Tok tok tok

Terdengar ketukan dari pintu kamarnya. Suara decitan pintu terbuka menampakkan seorang wanita cantik. Wanita itu masuk ke dalam kamar Davin dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

"Ada apa ma?" Tanya Davin ketika Santi duduk di pinggir ranjang. Davin pun duduk di sebelah ibunya.

"Kamu di suruh papa ke bawah."

"Ngapain? Mau ngomelin aku lagi?" Davin memalingkan wajahnya dan mengusapnya gusar.

"Kamu temuin aja dulu di bawah. Jangan su'udzon dulu sama orang. Dosa loh. Gimana pun juga dia itu papa kamu."

Jika ibunya sudah berkata seperti itu, Davin akan menuruti perintah ibunya. Dia menghela napas panjang.

"Udah yuk buruan, kamu turun ke bawah."

  
                   ✩✩✩✩✩✩✩✩

Suasana di ruang tamu cukup hening. Davin sama sekali tidak mengeluarkan sepatah kata.

"Davin, papa mau bicara. Soal kecelakaan yang kamu alami waktu i—"

"Aku nggak membunuh Luna, Pa. Aku nggak mungkin bunuh. Itu murni kecelakaan, Pa. Kalo papa mau aku di penjara, aku siap. Biar semuanya clear."

Feri dapat melihat wajah lelah milik anaknya itu. Selama ini, ia bersikap tidak baik kepadanya. Ia merasa bukan ayah yang baik untuk anaknya.

"Papa percaya sama kamu."

"Maksud papa apa?"

"Maafin sikap papa selama ini, Vin. Papa tau papa salah. Nggak seharusnya papa bersikap seperti ini."

Kening Davin berkerut memandang ayahnya dengan raut bingung lalu menoleh ke arah ibunya yang tersenyum.

"Papa minta maaf, Davin. Keluarga Luna saja sudah memaafkan dan kecelakaan itu tidak sepenuhnya salah kamu. Ada orang yang sengaja menjebak kamu. Dan, ada orang yang menceritakan semuanya ke papa. Dan, sekali lagi papa minta maaf."

Davin mengerjapkan matanya berkali-kali untuk memastikan jika ia tidak mimpi. Dan benar saja, ia sama sekali tidak bermimpi. Davin tersenyum penuh kelegaan.

"Davin juga minta maaf pa." Kata Davin dengan tulus dan terdengar lirih. Cowok itu menahan air matanya agar tidak jatuh.

Feri menghampiri anaknya itu lalu memeluknya. Ternyata, anaknya sudah tumbuh besar bahkan Feri melewatkan semua itu.

Air mata Davin luruh seketika. Pelukan yang masih sama seperti dulu. Ia rindu dengan pelukan ayahnya dan juga sosok ayahnya yang dulu selalu memberinya semangat. Sosok yang selalu menghiburnya. Bagaimana ayahnya bercerita mengenai cita-cita yang di inginkan oleh Davin kelak. Ia rindu semuanya. Dan sekarang, Tuhan kembali meluruskan semuanya.

                   ===========

Davin masih bertanya-tanya siapa yang sudah menceritakan kejadian semuanya. Davin harus berterima kasih kepada orang itu.

Davin membuka pintu rumahnya lalu sebuah terompet berdengung di sudut ruangan dan di dalamnya sudah banyak orang.

"Happy birthday to you,
happy birthday to you
Happy birthday, happy birthday, happy birthday to you."

Fika memegang kue lalu menghadap ke Davin sambil bernyanyi. Sementara Davin, bengong. Tak tau harus melakukan apa.

Bagaimana bisa? Ah, ia sendiri lupa jika hari ini ia berulamg tahun.

METAMORFOSA [Completed]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang