Episode 15

5.7K 437 43
                                        

"Halo, Assalamu'alaykum," Mustofa mengangkat teleponnya yang berdering.

"Wa'alaykumussalam, Mus," jawab seorang perempuan dari balik telepon tersebut.

"Ini siapa ya ?"

"Ya ampun Mus, sama suara calon istri sendiri masa lupa ?"

"Hmmm, Haura ya ?" Mustofa mencoba menebak suara tersebut.

"Naah tuh tau. Elu mah nggak peka banget sih orangnya," jawab Haura.

"Kalau aku ngelamar kamu sekarang termasuk peka nggak Ra ?" kata Mustofa dengan panggilan berbeda yang biasanya elu gue.

Sesaat terdiam. Haura yang cerewet itu kehilangan daya mengeluarkan sepatah kata pun.

"Halooo Ra, kamu nggak ketiduran kan ?"

Haura masih terdiam. Hal itu membuat Mustofa semakin bingung.

"Heeey, kenapa diem sih Ra ?"

"E..eh iya Mus. Gue tadi terbang melayang Mus," jawab Haura setelah terdiam cukup lama.

"Oh kamu baru naik pesawat ya ? Emang mau kemana Ra ?" jawab Mustofa polos seakan tanpa dosa.

"Enggak Mus, gue tadi terbang naik elang raksasa," Haura mulai jengkel dengan ketidakpekaan seonggok Mustofa.

"Waaah, kapan-kapan aku mau naik juga Ra."

"Iiiiih, suka-suka elu lah Mus," Haura jengkel.

"Salah ya ? Emang terbang maksudnya apaan ?"

"Ngefly Mus ngefly," kata Haura sudah kehilangan kesabarannya.

"Astagaaaa Haura. Ternyata dibalik wajah imutmu kamu sering konsumsi obat-obatan. Aku nggak nyangka. Kamu kudu di rehabilitasi Ra. Sadar Ra sadaaar," kata Mustofa yang terkejut.

"Oke gue jelasin segamblang-gamblangnya. Gue seneeeng saat elu bilang tentang melamar tadi. Gue siap banget jadi istri elu Mus," Haura pun memberanikan diri.

"Biar waktu yang menjawab ya Ra. Oh iya, ada apa malem-malem gini nelpon aku ?" Mustofa mencoba mengalihkan pembicaraan.

"Oh iya gue hampir lupa maksud gue nelpon elu. Keasyikan digombalin sih, hehe. Gue mau cerita sesuatu tentang Udin. Gue udah tahu semua yang dialami Udin baru-baru ini. gue paham banget apa yang dirasain Udin," Haura mulai serius.

"Ceritain semuanya Ra. Aku pengin semua masalah ini selesai. Aku pengin Udin kembali seperti dulu. Tanpa dia, persahabatan kami berlima terasa kurang," kata Mustofa.

"Tapi janji ya ini rahasia kita. Kalaupun boleh, hanya sahabat-sahabat elu aja yang tahu hal ini."

"Oke..."

"Sebenarnya, Udin itu bukan anak kandung dari bapak dan ibunya sekarang. Dulu, Om dan tante yang sama-sama masih kerja kantoran saat itu pulang bareng. Di tengah hujan deras dan keadaan mulai gelap, om pun memacu mobilnya pelan-pelan. Sampailah di suatu tikungan mereka berhenti. Di pinggir jalan ada seorang anak berumur sekitar 5 tahunan menggigil kedinginan di depan toko yang sudah tutup. Ya emang sifat om dan tante yang baiknya nggak ketulungan, akhirnya mereka mengajak anak itu pulang. Anak bernama Udin itu adalah gelandangan yang sering mengemis di lampu merah dekat kantor tempat kerja om dan tante. Akhirnya, mereka memutuskan untuk mengadopsi Udin. Sudah beberapa tahun pernikahan mereka tidak dikaruniai anak. Om dan tante pun tidak mau menjalani tes kesuburan. Mereka tidak mau salah satu yang tidak bisa mempunyai keturunan nanti akan merenggangkan hubungan rumah tangga mereka. Om dan tante akhirnya hanya menganggap bahwa ini ujian Tuhan untuk mereka. Dan ketika Udin datang ke kehidupan mereka, om dan tante berubah drastis. Keceriaan selalu tergambar dari keluarga kecil itu. Sampailah akhirnya mereka sukses besar seperti sekarang ini. Kemarin, om dan tante sangat bersedih. Udin sudah jarang pulang. Padahal dia sudah tidak tinggal di dekat kampus lagi. Kalau menurut gue, Udin pasti kembali ke jalanan. Kembali ke kehidupannya yang dulu," kata Haura menjelaskannya dengan detail.

Catatan Kuliah Si UdinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang