Episode 19

5.7K 418 49
                                        

Sore yang mendung diwarnai gerimis kecil. Udin berjalan santai menerjang gerimis. Sore itu ada pengumuman kelompok Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler di kampus. Walau sebenarnya pengumuman bisa dilihat pada website kampus. Kebetulan Udin kehabisan kuota dan entah kenapa laptopnya sedari pagi tidak bisa memakai wifi kampus. Dia mempercepat langkahnya begitu memasuki halaman gedung lembaga pengabdian kampus. Hanya ada segelintir mahasiswa yang datang melihat pengumuman kelompok KKN. Sesaat setelah Udin sampai di depan gedung itu, gerimis berubah menjadi hujan deras.

"Beruntung gue udah sampai sini pas ujan deres," gumam Udin dalam hati.

Bukannya langsung melihat pengumuman pembagian kelompok, Udin malah terpaku melihat derasnya hujan. Melihat guyuran hujan yang mengingatkannya akan kenangan pahit masa lalu. Rintikan hujan yang selalu membawanya bernostalgia dengan masa lalu yang kelam. Udin terdiam cukup lama. Tiba-tiba ada seorang mahasiswi yang berlarian menerjang hujan menuju gedung tempat Udin berdiri.

"Wah, asyik banget ya itu mbaknya hujan-hujanan. Kalau bawa baju ganti gue pasti ikutan," Udin berbicara sendiri.

Mahasiswi itu berlari lebih kencang saat akan memasuki teras gedung.

"Awaaas mas !" Teriaknya dari kejauhan.

Udin yang masih bermain-main dengan kenangannya tidak punya waktu untuk menghindar. Tabrakan keduanya pun sulit terelakkan. Tetapi Udin lah yang terpental sampai tersungkur sedangkan mahasiswi itu masih berdiri memegang jidatnya yang kesakitan.

"Gile nih cewek. Badannya kecil gini tapi kayak tembok rasanya," gumam Udin.

"Aduuuh maaf mas. Saya tidak bisa mengerem tadi. Makasih ya sudah jadi tembok buat ngerem saya, hehe," kata mahasiswi itu.

(Kebalik woooi, elu yang kayak tembok)

"Iya mbak, nggak papa kok," jawab Udin sedikit cuek.

Mahasiswi itu mengeluarkan handuk kecil dari tasnya. Mengeringkan wajah dan jilbabnya yang terkena guyuran hujan tadi.

"Lah, ini mbaknya nggak ber make up to. Gue kira make up-an tadi. Wajahnya putih banget sama bibirnya juga merah. Kayak barbie aja. Cuma bedanya ini rada tembem, haha," gumam Udin dalam hati sambil cekikikan sendiri.

"Mas kenapa ? Kok ketawa sendiri ? Apa jangan-jangan udah konslet mas otaknya gara-gara tabrakan tadi ?" kata mahasiswi itu.

(Nih anak ngeselin banget. Baru kenal gue dibilang konslet. Untuk elu cantik sama imut. Kalau nggak udah gue tenggelamin.)

"Oh nggak kok mbak. Saya cuma pengin ketawa aja inget kejadian tadi, hehe," jawab Udin.

"Oh iya, nama saya Qurota Ayunin. Panggil aja Unin. Kalau mas namanya siapa ?" kata mahasiswi itu.

"Saya Udin mbak. Nama panggilan Udin."

"Udah ? Nama mas Udin gitu aja ?"

"Iya mbak. Udah bawaan lahir soalnya. Nama beken juga."

"Haha, masnya lucu. Oh iya, kalau mau lihat pengumuman kelompok KKN dimana ya mas ?"

"Saya juga mau lihat ini mbak."

"Wah kebetulan. Yaudah ayok barengan aja," kata Unin mengakhiri percakapan mereka.

Mereka berdua sibuk mencari namanya di papan pengumuman. Ribuan nama terpampang di situ. Mereka harus mencarinya satu per satu. Sesaat kemudian keduanya menemukan nama mereka hampir bersamaan.

Catatan Kuliah Si UdinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang