Episode 30

3.5K 306 54
                                        

Matahari mulai memaksakan sinarnya. Cahaya redup nan hangat menjadi panas yang menyengat. Asrinya pagi diwarnai wajah penduduk yang berseri sirna seketika saat siang melanda. Aktivitas di posko KKN Udin mulai ramai. Semua orang di rumah tersebut sudah sibuk mempersiapkan diri menyongsong semua program yang perlu diselesaikan. Mereka dibagi menjadi dua tim, pertama mengurus kegiatan penyuluhan pertanian di balai desa dan satunya membantu karangtaruna mempersiapkan semua hal untuk pasar malam nanti. Kelompok pertama terdiri dari Mustofa, Unin, Widya, Lintang, dan Laila. Kelompok kedua yang membantu persiapan pasar malam adalah Udin, Putri, Dewi, dan Septi. Namun ketika akan berangkat, Putri mendadak lemas dan ijin tidak ikut acara.

"Aku ijin dulu ya. Tiba-tiba badanku lemes setelah masak tadi. Boleh kan aku istirahat dari kegiatan hari ini ? Cuma hari ini saja kok," pinta Putri.

"Unin rawat mbak Putri ya. Kasian sakit gini. Badannya juga panas," jawab Unin iba melihat kondisi Putri.

"Nggak papa Nin. Kamu ikut temen-temen saja. Kasian mereka kekurangan orang."

"Tapi mbak Putri janji ya harus istirahat. Unin marah nanti kalau mbak Putri kemana-mana. Biar makan siang nanti Unin dan teman-teman yang nyiapin," kata Unin sambil menjulurkan jari kelingkingnya kepada Putri dan Putri membalas mengaitkan dengan jari kelingkingnya. Walaupun terlihat seperti anak kecil, tapi begitulah cara Unin mempercayai seseorang.

Tiada angin dan tiada hujan, Udin mendekati Putri dan menjulurkan jari kelingkingnya sama seperti yang Unin lakukan.

"Elu mau ngapain ?"

"Biar sama kayak Unin," jawab Udin.

"Kalau sama elu ini aja ya," kata Putri menunjukkan tangannya yang mengepal kepada Udin.

"Ampuuuun. Ini juga jarinya nakal," Udin langsung berbalik dan berbicara sendiri dengan jari kelingking yang ditepuknya terus menerus seperti ibu yang memarahi anaknya karena pulang kemalaman.

Hal itu membuat Unin hanya geleng-geleng. Begitu juga dengan lainnya. Akhirnya mereka berangkat tanpa Putri yang terkulai lemas di kamar. Pintu-pintu rumah ditutup dan dikunci dari luar. Mereka berangkat menuju ke tugas masing-masing. Putri yang merasakan demam terus meningkat dari dalam tubuhnya. Satu selimut tebal dia pakaian untuknya sendiri. Panas yang semakin tinggi membuatnya menggigil. Kelompok Mustofa memutuskan untuk berjalan kaki saja menuju ke balai desa. Semua perlengkapan dan makanan sudah siap di balai desa. Kali ini mereka dibantu oleh ibu-ibu kelompok tani dan beberapa warga yang kebetulan luang hari ini.

"Mas Mustofa nggak tahu kalau mbak Putri sakit ya ?"

"Aku nggak tahu Nin. Tadi pagi pas aku ajak jalan-jalan dia sehat banget."

"Apa jangan-jangan gara-gara mas ajak jalan tadi jadinya sakit ?"

"Lah, nggak mungkin Nin. Putri nggak selemah itu tahu," jawab Mustofa sambil memencet hidung Unin dan terkekeh pelan.

"Iiiiih mas Mustofa jail," jawab Unin cemberut dan mengembangkan pipinya.

"Lha kamu lucu," jawab Mustofa dengan tertawa lepas.

Widya, Lintang, dan Laila yang berjalan di belakang Mustofa dan Unin hanya diam dan saling memandang. Menyerngitkan dahi dengan kejadian yang mereka saksikan di depan mata. Apa yang ada dipikiran mereka sama, "Benarkah ini Mustofa yang selama ini kami kenal ? Perlakuan ke Unin beda sekali dengan sikapnya ke perempuan lain."

Berbeda dengan kelompok Udin yang berboncengan menuju ke lapangan. Sampai di tempat tersebut, Udin langsung berbicara dengan ketua karangtaruna.

Catatan Kuliah Si UdinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang