Episode 4

9.7K 667 36
                                        

Udin berjalan malas dari parkiran. Biasanya memang malas begini, tetapi hari ini Udin jauh lebih malas daripada sebelumnya. Kalau malas kuliah, biasanya dia titip absen atau malah mbolos. Entah mengapa instingnya kali ini mengatakan kalau dia harus ke kampus. Instingnya pun berkata kalau akan ada sesuatu yang akan terjadi di kampus.

Ah, mungkin ke kantornya pak Dekan ngadem bentar enak nih. Biasanya ada teh juga di sana. Siapa tahu dapet wejangan dari beliau agar mahasiswa kesayangannya ini semangat kuliah.

Udin berjalan lebih cepat menuju ruang pak Dekan. Semenjak hari itu, dia sering berkunjung ke ruangan tersebut. Bopila dan Uji pun beberapa kali diajak biar pak Dekan belajar anime dari mereka. Sampailah Udin di depan ruangan yang tertutup namun tidak dikunci tersebut. Hawa tegang dan serius pun tercium dari hidungnya yang tajam. Ya namanya makhluk jadi-jadian, kadang bisa menjelma jadi anjing yang sangat peka hidungnya. Udin pun ragu mau masuk namun karena tekatnya sudah bulat sempurna layaknya lingkarang yang dibuat dengan jangka, Udin tetap mengetuk pintu ruangan itu.

"Assalamu'alaykum bapak," Udin terbiasa memanggil bapak untuk pak Dekan.

"Wa'alaykumussalam, oh Udin. Masuklah nak," pak Dekan pun ikutan ngawur dibuatnya.

"Terima kasih wahai bapakku tersayang yang telah memberikan kesempatan anakmu yang hina ini untuk merasakan segarnya udara dan nikmatnya seteguk teh di ruangan mulia ini," kebiasaan Udin saat masuk ruangan itu sambil memberikan kode ke pak Dekan.

Pak Dekan langsung mendekati Udin. Sedikit berbisik kepadanya.

"Din, kalau mau teh buat sendiri sana. Saat ini jangan terlalu bercanda dulu Din. Saya lagi berbicara serius dengan salah satu mahasiswi. Dia lagi kena masalah yang benar-benar gawat," kali ini pak Dekan serius.

"Nggih pak," jawab Udin sopan. (Nggih adalah kosakata jawa yang artinya "iya" namun dalam tataran sopan yang biasa disebut bahasa krama. Bahasa ini biasa ditujukan dari yang muda kepada yang lebih tua)

Udin langsung menuju ke meja yang berisi kumpulan gelas, galon berserta dispenser yang bisa disetel dingin atau panas, gula, dan teh. Dia lalu menghidupkan mode panas lalu menunggu sebentar di kursi dekat meja tersebut. Dia menoleh ke arah pak Dekan dan mahasiswi tersebut. Manis, berjilbab, dan terlihat sopan sekali. Namun sayang, dia berlinang air mata dengan wajah yang memerah tandanya dia memang sangat bersedih. Udin mencoba sedikit menguping pembicaraan mereka. Ya maklum telinga dari manusia setengah hewan ini sangat peka.

"Saya turut berbela sungkawa mbak. Semoga beliau di terima di sisiNya. Namun, tolong pikirkan kembali mbak rencanamu untuk keluar dari kuliah. Kamu itu pandai, cerdas, juga aktivis kegiatan mahasiswa yang rajin. Saya sendiri tidak mau kehilangan mahasiswa berprestasi sepertimu mbak," kata pak Dekan pelan mencoba menyusun kata yang tidak menyakiti sang mahasiswi yang sedang berduka.

"Maaf pak, keadaan ekonomi kami saat ini sedang berantakan pak. Bahkan dulu saat mereka masih ada pun hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Ditambah lagi saya tidak mendapat beasiswa apapun. Selalu gagal dalam tesnya. Saya akan pertimbangkan kembali dengan keluarga saya yang lain," jawab mahasiswi itu sedikit terisak.

"Kalau begitu saya ijin pamit dulu ya pak, Assalamu'alaykum," mahasiswi itu langsung pamit.

"Iya mbak yang sabar. Wa'alaykumussalam," jawab pelan pak Dekan.

Udin pun menjawab salam tersebut pelan hampir tidak terdengar. Seusai mahasiswi tersebut keluar, Udin langsung menghampiri pak Dekan.

"Namanya Aisyah. Dia dari program studi Peternakan. Kemarin baru saja kedua orangtuanya kecelakaan dan meninggal di tempat. Saat ini dia hanya tinggal bersama kakek dan neneknya. Dia terpaksa jadi tulang punggung keluarga mulai saat ini karena kakek dan neneknya sudah tidak bisa beraktivitas seperti biasa lagi," kata pak Dekan yang sudah tahu maksud Udin mendekatinya.

Catatan Kuliah Si UdinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang