Udin berjalan gontai ke ruang Dekan fakultas Pertanian pagi ini. Masih tergambar jelas beberapa hari lalu saat dia "melaknat" pak Joni. Dia terus berfikir keras mengantisipasi pertanyaan alasan dia meminta tanda tangan itu. Masa iya dia bilang melaknat pak Joni. Sepanjang perjalanan menuju ruangan Dekan Udin terus memikirkan cara menjawab pertanyaan itu. Otak yang selama ini bekerja terlalu santai itu pun akhirnya over heat. Pening langsung menyerang. Udin memantapkan langkah masuk ruangan itu.
"Assalamu'alaykum," salam Udin.
"Wa'alaykumussalam. Maaf mas di sini tidak menerima pengamen," jawab pak Dekan.
"Maaf pak saya bukan pengamen," balas Udin.
"Oh berarti mas debt collector ya ? Seinget saya, kemarin saya sudah lunasin full mas."
Udin udah merasa jengkel dengan jawaban pak Dekan.
"Ya kali saya pengamen yang jadi debt collector pak. Saya ini mahasiswa fakultas sini pak. Mahasiswa paling tampan calon lulusan terbaik dan calon orang tersukses sepanjang masa pak."
"Calon lulusan terbaik kok penampilannya begini. Celana jean* robek-robek, rambut acak-acakan, muka diserem-seremin. Ya kayak pengamen dan debt collector. Ada perlu apa mas ke sini ?" sindir pak Dekan.
Udin diam seribu bahasa. Kalah telak dengan sindiran pak Dekan. Namun bukan Udin namanya kalau tidak banyak akal.
"Wahai pak Dekan, ijinkanlah mahasiswamu yang hina ini memasuki ruangan bapak untuk merasakan sejuknya AC demi ketentraman hati ini wahai pak Dekan. Ini semua saya lakukan karena di kelas saya tidak menemukan keindahan dan kesejukan seperti di sini," Udin membalas menyindir.
Pak Dekan yang terkenal ramah itu tersenyum dengan balasan sindiran Udin. Sekali dalam seumur hidupnya baru kali ini ada mahasiswa yang menyindir terang-terangan seperti itu.
"Yasudah mas silakan duduk," pak Dekan mempersilakan Udin duduk di sofa tamu.
"Dengan mas siapa ini ?"
"Udin pak. Dari Agribisnis, tinggi badan 178 cm berat badan 68 kg. Kelahiran 1996 dan kota asal dari Wonogiri pak," jawab Udin lengkap.
Pak Dekan tertawa kecil. Baru kali ini dia menemui mahasiswa unik seperti Udin.
"Lengkap bener mas. Mas Udin mau minum apa ?"
"Lah bapak, jangan panggil mas. Umur saya masih muda. Lebih muda dari bapak. Panggil saja Udin pak. Kalau mas nanti orang melihatnya saya lebih tua dari bapak," celetuk Udin ngawur.
"Yaudah kamu jadinya minum apa Din ?" pak Dekan tidak sanggup lagi menahan tertawanya.
"Kalau ada jus melon pak. Sama nasi ramesnya. Laper nih pak, hehe."
"Haha, kamu mahkluk dari planet mana sih Din ?"
"Saya penduduk asli bumi pak."
"Tapi kok bisa setengah astral gitu ya Din ?"
"Mungkin saya punya DNA genderuwo pak," jawab Udin kesal.
Keduanya pun tertawa. Pak Dekan segera mengambil HPnya dan seperti sedang mengirim pesan ke seseorang.
"Tunggu dulu ya Din. Saya mau ke toilet dulu. Setelah ini saya mau ngobrol sama kamu," pinta pak Dekan.
"Baiklah pak, saya akan menunggu di sini dengan sabar dan penuh harapan," jawab Udin semakin ngawur.
Senyum lebar terkembang dari bibir pak Dekan sembari meninggalkan ruangan. Udin menunggu sendirian di ruangan itu. Untuk menghilangkan bosan, dia membuka ponselnya. Ya walaupun hanya membuka dan menutup kunci sandi ponselnya, itu sudah cukup menghiburnya. Maklum ponselnya sepi peminat. Teman setianya adalah operator yang begitu perhatian selalu mengingatkan saat saldo pulsanya habis. Sepuluh menit kemudian pak Dekan kembali. Kali ini beliau membawa segelas jus dan sepiring nasi rames pesenan Udin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Kuliah Si Udin
HumorSudah tamat Sisi lain keseharian si Udin selama kuliah yang tidak lumrah dan sebenarnya tidak berfaedah untuk dibaca. Namun perjuangan mencari cinta lah yang menjadikannya seorang mahasiswa "luar biasa".
