Suasana pagi masih terasa sejuk. Segelintir mahasiswa sudah datang ke kampus. Mungkin ada kuliah pagi atau ada perlu konsultasi skripsi kepada dosen. Beberapa pekerja kebersihan kampus sudah siap siaga membersihkan lingkungan kampus. Semua berjalan seperti biasa. Tiada yang berbeda.
Dari arah parkiran datanglah dua orang yang sangat terkenal. Siapa lagi kalau bukan Mustofa dan Udin yang secara nasib terus bersama satu kelas sampai semester 6 ini. Keduanya memberikan magnet tersendiri bagi perhatian mahasiswa di Fakultas Pertanian. Bedanya, perhatian kepada Mustofa karena dia cerdas dan tampan. Kalau perhatian ke Udin karena dia mengganggu pemandangan saat memandang Mustofa.
"Mus, gue serasa artis nih. Setiap kita jalan mesti orang-orang pada merhatiin kita," kata Udin bersemangat.
"Iya Din. Elu kan sudah terkenal sekarang," kata Mustofa yang sebenarnya sudah tahu kalau orang melihat Udin karena tidak suka dengannya.
"Hahaha, bangga gue Mus."
Sedang asyik berjalan keren, tiba-tiba ada sepotong bakwan melayang dengan cepat ke arah Udin. Namun, karena instingnya yang sempurna Udin langsung menyambar bakwan itu dengan mulutnya.
"Pintaar," kata pak Wisnu dari balik pos satpam. Ternyata dia yang melempar bakwan itu.
"Sue lu pak. Nanti kalau minyaknya nempel di wajah gue, asuransinya mahal lho."
"Udah jangan ngigau Din. Masih pagi juga. Makan aja bakwannya. Gratis untuk elu pagi ini," kata pak Wisnu.
"Waaaah terima kasih banyak pak. Tahu aja kalau pagi ini gue cuma sarapan obat maag," jawab Udin jujur.
Sampailah Udin dan Mustofa di depan kelas. Kelas saat itu begitu ramai. Padahal Udin dan Mustofa sudah berangkat satu jam sebelum jam kuliah. Tidak mungkin semua teman sekelas sudah lengkap semua. Sampailah Udin di ujung pintu. Betapa kagetnya dia ada Unin di kelas sedang dikelilingi banyak laki-laki. Hadirnya sosok Unin di kelasnya seperti oase di padang pasir. Begitu menyegarkan. Sebenarnya kelas Udin banyak cewek yang cantik, namun kelakuan mereka sering membuat para cowok menghindar.
"Nin, ngapain kamu ke sini ?" kata Udin padahal masih belum masuk kelas. Dia masih berdiri satu langkah di luar pintu.
"Kayaknya tadi aku denger suaranya mas Udin ya," kata Unin bingung.
Suara Unin itu memecahkan keramaian kelas. Kelas semakin ramai. Para cowok yang entah berasal dari dunia mana itu malah sibuk mencari yang namanya Udin.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Kuliah Si Udin
HumorSudah tamat Sisi lain keseharian si Udin selama kuliah yang tidak lumrah dan sebenarnya tidak berfaedah untuk dibaca. Namun perjuangan mencari cinta lah yang menjadikannya seorang mahasiswa "luar biasa".
