Episode 32

3.5K 315 58
                                        

Udin berjalan gontai dari kamarnya. Selepas pulang dari pasar malam, Udin tidak langsung istirahat dan tidur. Dia baru sadar hari ini ada pertemuan dengan pak Camat. Pada pertemuan itu, Udin diminta untuk menyodorkan proposal kegiatan untuk mengisi acara di hari kemerdekaan yang kebetulan tinggal tujuh hari lagi. Berdua dengan Mustofa, Udin menyelesaikan proposal yang hampir 70 lembar itu dalam semalam. Setelah Shubuh, Mustofa sudah tidak sanggup terjaga lagi. Udin yang memaksakan bangun akhirnya merasakan seisi ruangan berputar menyebabkan dia berjalan tidak seimbang.

"Mas Udin kenapa ?" Tanya Unin yang baru keluar dari kamar mandi menuju ke ruang tengah.

"Tolong print-in file di flashdisk ini. Aku sudah mengerjakannya dengan sepenuh hati," kata Udin sambil ngesot memegang tiang di samping ruangan.

"Nih anak kebiasaan nakut-nakutin !" Kata Putri yang mengikuti Unin dari belakang lalu menjitak kepala Udin tanpa permisi.

"Aduuuuuuh, mayday mayday aku dapat serangan dari monster. Uwaaaaaaa," kata Udin berguling kesakitan.

"Mau gue tambahin ?" kata Putri tanpa beban.

"Ampuuuuuuun," Udin langsung berlari sekuat tenaga kembali ke kamarnya.

Unin yang sedari tadi terdiam akhirnya tertawa lepas melihat Udin yang menakutkan di pagi hari.

"Kamu kenapa Nin ? Cekikikan sendiri."

"Nggak mbak Put. Seneng deh liat mbak Putri kayak gini. Kayak dulu lagi."

"Heeem. Udah cepet sana kamu print tuh filenya Udin. Atau pengin mbak Jitak juga kayak Udin tadi ? haha," Putri bermaksud bercanda.

Wajah ceria Unin seketika berubah. Wajah sembab dengan mata berkaca-kaca dan akhirnya seseggukan mendengar candaan Putri yang dianggapnya serius.

"Uluh-uluh nggak mungkin mbak Putri tega nyakitin kamu kayak tadi. Maafin mbakmu ini ya yang bercandanya keterlaluan," kata Putri lalu memeluk erat Unin.

Unin hanya mengangguk pelan ketika Putri menanyakan hal itu. Putri dengan lembut mengelus kepala Unin dengan penuh kasih sayang.

"Atau mau mbak temenin ?' imbuh Putri.

"Nggak mbak. Sama Laila aja," jawab Unin masih sesenggukan.

"Kalau mau keluar jangan cemberut gini dong," kata Putri sambil menghapus air mata Unin dan menyentuh bibir Unin agar tersenyum.

"Nah gitu dong. Udah sana berangkat sama Laila. Hati-hati ya," Putri kembali mengusap kepala Unin layaknya seorang ibu yang memberikan izin anaknya untuk bermain dengan teman-temannya.

"Yeaaay, Unin berangkat dulu ya mbak," kata Unin kegirangan.

Bagi Putri, Unin adalah sahabat terbaik sekaligus adik terdekatnya. Putri adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Dia ingin sekali mempunyai adik namun kesehatan ibunya mengaruskan dia mengubur keinginan itu dalam-dalam. Kehadiran Unin yang sering bermain dengannya sejak kecil membuat kebahagiaan sendiri untuk Putri. Dia tidak lagi kesepian dan keinginannya untuk punya adik terwujud walau bukan adik kandungnya.

Matahari mulai menunjukkan sinarnya. Hangatnya menusuk jiwa. Ketentraman yang mungkin akan dirindukan Udin dan lainnya ketika meninggalkan desa ini kelak. Dua tikar besar sudah digelar di ruang tengah. Di atasnya tersedia berbagai lauk dan satu wadah besar nasi putih yang menggoda. Putri memanggil teman-temannya yang masih bersantai di kamar. Begitu juga Udin dan Mustofa yang harus dia bangunkan untuk sarapan pagi. Tepat setelah itu, Unin dan Laila selesai melakukan tugas mereka dan langsung bergabung untuk sarapan. Suasana pagi yang selalu mereka rasakan tiap hari. Sarapan bersama seperti ini membuat kenangan tersendiri. Mereka sadar, kelompok KKN ini terdiri dari berbagai jurusan. Pastinya setelah KKN selesai, mereka harus kembali ke jurusan masing-masing dan menyelesaikan tugas akhir sendiri. Tanpa terasa waktu bersama mereka tinggal seminggu lagi. Semua program kerja yang telah disusun dalam proposal sudah mereka laksanakan. Jadwal satu minggu terakhir akan mereka isi untuk kegiatan di luar program kerja. Memaksimalkan kesempatan untuk menciptakan kenangan sebanyak mungkin. Seperti itulah yang mereka rencanakan.

Catatan Kuliah Si UdinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang