Episode 24

4.7K 400 83
                                        

Awan menunjukkan kemurungannya. Gelap, dingin, kesedihan merasuk melalui udara yang disebarkannya. Sebutir air turun lalu diikuti butir lainnya. Awan itu menangis. Tetapi, entah mengapa air yang turun membawa kebahagiaan. Banyak manusia dan makhluk Tuhan yang berbahagia menyambut air yang turun dari langit. Semua manusia tahu, setelah hujan turun akan terlihat langit cerah yang lebih hangat dan bersahabat. Rasanya seperti jutaan harapan bertebaran di bumi. Terpujilah Tuhan dengan segala ciptaanNya yang mengagumkan.

Udin menerjang hujan yang turun semakin deras dan menderu. Dia mencoba mengendarai mobil sepelan dan sehalus mungkin agar Unin yang masih tertidur tetap terlelap dalam nyenyak. Sebelumnya, Unin sudah cukup lama tidur di rumah Udin. Sebenarnya ibu Udin melarangnya untuk ke tempat KKN karena hujan dan Unin yang kelelahan. Tetapi, Udin tetap pada keyakinannya untuk melanjutkan perjalanan.

"Apapun yang terjadi, aku harus sampai ke tempat KKN sebelum malam," tekad Udin yang masih fokus mengendarai mobil di jalan berliku dan naik turun.

Lokasi KKN Udin tergolong dekat dengan pusat kecamatan dan pusat kabupaten tapi jalan ke kecamatannya harus melewati gunung. Udin terus memberanikan diri menerjang hujan yang turun semakin brutal di jalan yang hampir sepenuhnya gelap. Saat itu Udin sedikit tertolong dengan beberapa mobil yang sama-sama melewati jalan tersebut. Untaian doa keselamatan terus keluar dari bibirnya. Dia sadar, hidup dan mati ada di tangan Tuhan.

Sepuluh menit kemudian, Udin terbangun dari tidur panjangnya. Dia mencoba menyadarkan diri dan memandang sekitar. Mencoba menyatukan serpihan ingatan sebelum dia tidur.

"Mas Udin ?" kata Unin dari tempat duduk di belakang.

Udin setengah terkejut.

"Eh Unin. Sudah bangun ?"

"Sudah mas. Ini kita lagi dimana ?"

"Oh, ini kita lagi perjalanan menuju tempat KKN Nin," jawab Udin.

"Astaga, sudah hampir Mahgrib mas. Unin belum sholat Ashar," kata Unin terkejut ketika melihat jam tangannya.

"Yaudah kamu tayamum saja. Kita tidak mungkin menemukan masjid di jalan gunung kayak gini. Apalagi hujan deras," jawab Udin.

"Oke mas Udin. Jangan ngintip ya. Unin mau sholat jangan diliatin biar fokus," kata Unin dengan senyum ramahnya.

"Itu mah tanpa disuruh aku paham Nin," jawab Udin melegakan.

Unin bertayamum dan segera memakai mukena yang ada di kopernya. Dia begitu tenang dan hanyut dalam sholatnya. Udin sesekali melihat dari cermin mobil bagian atas. Dia tersenyum tipis dan bersyukur kalau temannya ini masih taat beribadah.

"Mas Udin ?"

"Iya ? Ada apa Nin ?"

"Unin takut di belakang sendirian. Unin duduk di depan ya," kata Unin menunjukkan wajah yang ketakutan. Saat itu, mereka melewati jalan gunung yang sempit dan gelap. Hanya lampu mobil yang menjadi lentera satu-satunya.

"Oh, yaudah nggak papa Nin, Emang bisa pindah langsung ke sini ?" jawab Udin.

Baru selesai bertanya, Unin sudah sigap pindah ke depan.

"Oh iya gue baru sadar, Unin itu setelannya laki-laki," gumam Udin dalam hati.

Unin hanya terdiam duduk di sebelah Udin. Matanya khawatir dan bibirnya gemetar. Nafas Unin menjadi tidak beraturan.

Catatan Kuliah Si UdinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang