"Din, nih buat elu," kata Mustofa yang berdiri di kamar Udin sambil memberikan satu bendel kertas.
Udin sesaat bingung. Dibolak-balik tumpulan kertas itu. Sesaat kemudian memandang Mustofa dengan menyerngitkan alisnya.
"Buka aja, kita rencana mau melakukan sesuatu di pemukiman itu Din. Besok kita bilang sama pak Dekan tentang rencana ini. Mungkin beliau akan menyetujuinya atau memberikan saran buat perbaiki rencana kita," kata Mustofa.
"Ini serius Mus elu yang buat ?" kata Udin menatap Mustofa tanpa sedikitpun berkedip.
"Tenang saja, gue udah mikirin ini sejak elu balik ke sini. Pokoknya elu baca dulu. Toh elu nggak mau kan Udin junior dan Aisyah cilik terlantar ?" jawab Mustofa.
"Iya sih Mus."
Keesokan harinya...
"Gimana menurut bapak ?" tanya Udin yang melihat pak Dekan membaca dengan seksama proposal pengabdian masyarakat itu.
"Saya takjub sama proposal buatan kalian. Ini bisa kita sampaikan di bagian penelitian dan pengabdian masyarakat. Saya sendiri mendukung program ini. Kita juga bisa kerjasama dengan dinas sosial dan pihak pengembang properti," kata pak Dekan.
"kalau pengembang properti, ayah saya bisa menanganinya pak," kata Udin.
"Oh iya saya baru ingat kalau ayahmu pengusaha properti. Rencana ini kemungkinan besar bisa direalisasikan. Saya pasti akan bantu sebisa saya Din," kata pak Dekan.
Udin dan Mustofa menghela nafas panjang. Tidak disangka pak Dekan menyetujui rencana 'gila' itu. Rencana menjadikan pemukiman kumuh menjadi kampung binaan universitas. Selain itu membangunkan rumah yang lebih layak, serta peningkatan kualitas SDM masyarakat di situ. Mustofa sendiri menuliskan untuk setiap unit kegiatan mahasiswa menjadikan pemukiman itu menjadi kampung binaan mereka. Didirikan sekolah serta peningkatan daya saing ekonomi juga merupakan salah satu rencana di proposal yang dibuat Mustofa. Mustofa juga menuliskan kampung tersebut nantinya akan bisa digunakan sebagai sampel penelitian kemasyarakatan.
"Gue laper Mus," kata Udin.
"Terus gue kudu ngapain ? Nyariin elu makanan gitu ?" jawab Mustofa.
"Ya itu konotasinya gue ngajakin elu makan."
"Elu mau nraktir ?"
"Gue cuma ngajak. Ngajak nggak ada hubungannya dengan nraktir."
"Tapi gue nggak mau makan i Din."
"Yaudah kalau nggak mau ribet amat sih," Udin mulai jengkel.
"Tapi kalau nggak bayar gue mau banget," jawab Mustofa lagi.
"Bilang aja elu penginnya ditraktir."
"Gue nggak bilang gitu. Gue penginnya makan yang nggak bayar."
"Gue pusing ngomong sama elu."
Disaat perdebatan mereka di depan kantor Dekan, Sinta kebetulan lewat dan ingin menyapa keduanya.
"Hai Mustofa sama Udin. Kalian lagi ngapain ?"
"Hai Sin. Ini nih gue lagi ngobrol sama cowok paling nggak peka," jawab Udin.
"Emang tuh orang nggak peka banget. Masa iya nggantungin cewek selama ini. apalagi gantunginnya dua cewek," jawab Sinta memalingkan muka dari Mustofa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Catatan Kuliah Si Udin
HumorSudah tamat Sisi lain keseharian si Udin selama kuliah yang tidak lumrah dan sebenarnya tidak berfaedah untuk dibaca. Namun perjuangan mencari cinta lah yang menjadikannya seorang mahasiswa "luar biasa".
