Episode 20

5.3K 404 31
                                        

Langit-langit kamar berukuran 3x4 meter itu menjadi pemandangan yang memuakkan bagi Udin. Sudah lima hari ini dia hanya terkulai lemah di atas kasur. Ibunya pernah sekali menjenguk. Sebenarnya hendak dibawa ke rumah sakit. Tapi Udin menolak dan minta untuk ditunggu seminggu. Kalau belum sembuh baru mau dibawa ke rumah sakit. Selain itu, satu hari lagi Udin harus mengikuti pembekalan KKN di kampus.

"Ya ampun, ini badan udah nggak demam. Pusing juga enggak, tapi lemes banget rasanya," keluh Udin.

Matanya terus melihat sekeliling. Dilihatnya payung hitam yang tersandar di balik pintu. Udin pun tersenyum kecil. Melihat payung itu seperti melihat sesosok perempuan yang menabraknya saat hujan deras. Ketika membayangkan Unin, hanya pipi tembem dan sifat ceria yang berkesan bagi Udin. Senyum kecil itu semakin memudar. Dia sudah sangat rindu dengan suasana kampus. Rindu berangkat dan pulang bersama keempat sahabat lainnya.

"Andai saja kemarin mengiyakan tawaran ibu, pasti udah sembuh nih," keluh Udin lagi menyesali keputusannya.

Tanpa sadar Udin kembali terlelap di tengah rasa rindu yang menghujam keras hatinya.

"Udiiiiiiin....Diiiiiin.....," teriak Uji setelah pulang dari kampus

"Suee tuh orang. Tau temennya sakit dan lagi butuh istirahat malah diteriakin kayak maling. Udah gitu baru aja merem malah diganggu," Udin tak berhenti mengeluh.

"Apaa ?" jawab Udin datar dan dingin.

"Uluh-uluh lemes banget lu Din. Kayak udah nggak punya motivasi hidup," ledek Uji.

"Huuus, lu kira gue mau mati. Sembarangan," jawab Udin kesal.

"Bercanda kali Din. Gitu aja baper, terus nangis, Ah drama."

"Kok kesel ya gue liat muka elu. Yang ada tambah lemes."

"Duuuh sabar Din. Oh iya, elu percaya nggak kalau dulu ada bidadari yang turun dari kahyangan ?"

"Elu apaan sih Ji. Nggak jelas banget. Otak lu konslet ya abis diputusi si Miya ?"

"Jawab aja ribet amat lu Din. Kayak cewek lagi PMS. Udah gitu nyinggung-nyinggung si Miya. Gue belum nembak dia. Mau nembak aja dinajisin."

"Hidupmu teraniaya banget ya Ji, haha," balas Udin.

"Nih kalau elu nggak sakit udah gue tonjok berkali-kali Din," Uji berbalik kesal.

"Emang kuat ? Badan kayak triplek aja mau nonjok. Rasanya kayak dielus."

"Bodooo. Yang penting gue bawa sesuatu Din. Kami sadar elu tuh butuh motivasi buat sembuh. Makanya tadi gue culik salah satu bidadari yang turun dari kahyangan buat nyembuhin elu."

"Maksudnya ?" tanya Udin tidak mengerti maksud Uji.

Sesaat kemudian terdengar sayup-sayup suara perempuan.

"Itu siapa Ji ?" tanya Udin.

"Udah nggak usah banyak nanya. Buruan tuh ke ruang tamu. Keburu orangnya mau pergi lagi.

"Lah emang hubungannya sama gue apa Ji ?"

"Dasar makhluk nggak peka. Dia ke sini buat jengukin elu. Gemes gue sama elu. Pengin gue makan tuh kepala elu."

"Oalah, dasar manusia kanibal."

Udin segera keluar dari kamarnya. Mencoba mencari tahu siapa pemilik suara tersebut. Entah mengapa dia merasa sangat akrab dengan salah satu suara itu.

"Unin, ngapain kamu ke sini ?" Udin terkejut melihat Unin yang sudah duduk manis di kursi tamu dengan membawa beberapa bungkus makanan dan roti.

"Jenguk mas Udin. Katanya udah lima hari nggak sembuh-sembuh. Unin jadi merasa bersalah. Mas Udin sakit pasti gara-gara hujan deras waktu itu kan ?"

"Eh, nggak kok Nin. Emang dari paginya badan udah demam kok."

"Halah, laki-laki mah gitu. Sok cari perhatian banget sama cewek. Ini lagi, si semir sepatu lemah banget. Keujanan bentar aja lima hari nggak sembuh-sembuh," kata seorang perempuan yang hanya terdiam sedari tadi dan duduk di samping Unin.

(Nih cewek garang amat yak. Udah badannya tinggi, mukanya serius banget, belum kenal aja gue dibilang semir sepatu)

Uji yang mendengar hal itu hanya bisa cekikikan dalam hati.

"Eh, hehe. Ini kakak tingkatku dari SD. Dia anaknya pamanku mas. Namanya mbak Putri dari jurusan Olahraga. Dia juga sekelompok KKN bareng kita lho. Dia sekarang jadi ketua Taekwondo kampus kita," Unin mencoba mencairkan suasana lagi.

(Fiks, gue cuma pasrah. Daripada ditendang langsung terbang)

"Oh iya, salam kenal. Saya Udin," kata Udin gemeteran sambil mengulurkan tangan hendak berjabat tangan dengan Putri.

"Jijik gue jabat tangan sama elu. Najis," jawab Putri ketus.

"M..maaf mbak Putri. S..saya tidak bermaksud," Udin tambah menggigil.

"Iiiih mbak Putri jangan gitu. Kasian tuh mas Udin. Udah sakit ditambah ditakut-takutin gitu," Unin kurang setuju dengan sikap Putri terhadap Udin.

(Kamu memang terbaik Nin. Kamu sudah menyeamatkan hidup gue)

"Itu yang di luar rame banget siapa Nin ? Temen kuliah kamu ?"

"Bukan lah mas. Ih mas Udin gimana sih. Mereka kan satu kelompok KKN sama kita. Mereka langsung akrab tuh sama mas Mustofa," jawab Unin.

Udin pun melihat keluar. Memperhatikan dengan seksama. Mustofa sudah seperti artis yang diwawancarai oleh para reporter. Setiap ada Mustofa, cewek-cewek pasti lengket seperti lem.

"Aduh repot-repot nih. Bentar lagi juga sembuh Nin. Besok pasti bisa ngampus lagi kok," kata Udin.

"Pokoknya tak tunggu besok. Awas aja kalau nggak ngampus," jawab Unin.

"Siaaaap, haha," jawab Udin sembari tertawa.

Suasana berbeda terjadi di teras kontrakan. Ada lima cewek yang sedang bersendau gurau dengan Mustofa.

"Kalian nggak mau nengokin Udin di dalem ?" tanya Mustofa.

"Udah diwakilin tuh sama Unin. Kami di sini saja," jawab salah satu dari mereka.

"Nggak mau kenalan dulu gitu ? Nanti kan kita sekelompok KKN."

"Besok kan kita ada pembekalan KKN. Nanti di situ juga bakalan kenal Mus."

"Oh yasudah. Tuh Unin sudah selesai," jawab Mustofa yang sudah tidak tertarik ngobrol dengan mereka. Jawaban mereka yang seakan mendiskriminasikan Udin membuat Mustofa tidak respect lagi.

Mereka bertujuh pun akhirnya kembali. Setidaknya itulah kelompok KKN yang akan bersama Udin dan Mustofa selama 45 hari nanti.

"Lu kenapa Mus mukanya serem amat ? Abis berantem po ?" tanya Udin.

"Gue kesel aja dapet kelompok KKN yang kayak gitu."

"Lah wong cantik-cantik gitu kok nggak suka to."

"Ah elu Din dasar kurang peka. Udah sana istirahat lagi. Tuh makanan dari dedek Unin dimakan. Pasti sembuh dah."

"Oke deh. Elu mah emang temen gue banget. Ngerti aja kalau temen lagi kesusahan."

"Kalau elu sembuh kan kita juga yang bahagia. Ada yang ngepel, nyapu, dan masak-masak lagi. Itung-itung bantuin tuh anaknya pemilik kontrakan."

"Sueeee. Gue dianggep pembantu," keluh Udin dengan sepotong kue yang masih ada di mulutnya. 

Catatan Kuliah Si UdinCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang