Lima belas

3.5K 221 0
                                    

(Puisi)

Laula..
Jangan pernah hentikan senyummu
Karena aku menyukainya
Jangan pernah berhenti menatapku
Karena aku menyukainya
Jangan pernah berpaling dariku
Karena aku tak mau kau hilang
Jangan pernah lari dariku
Karena aku tak mau kau pergi

Laula..
Bidadari yang bersinar bagai mutiara
Selalu menjadi penyejuk bagi jiwa
Menjadi obat bagi lara
Kau lah perempuan yang aku cinta
Sampai akhir
Sampai kapanpun
Meski kau akan pergi
Atau aku akan hilang
Mari berjalan disampingku
Ku tuntun kau menuju-Nya
Bila aku atau kau yang pergi
Kuatkan lah hati dan pertahankanlah cinta
Dan persiapkan diri dengan sebaiknya
Agar kau atau aku berjumpa dijannah-Nya

(Dzulfikar)

Aku tersenyum membaca puisinya. Entah kenapa hatiku selalu merasakan kebahagiaan yang lebih dari bahagia saat Dzulfikar ada.

"Laula kau kenapa?" Aku melipat kertasnya.

"Aku baru saja mendapatkan puisi cinta.."

"Dari siapa?" tanyanya dengan nada curiga.

"Dari seseorang yang sangat mencintaiku." Aku tersenyum, tapi tidak dengannya.

"Kau mau tau tidak?"

"Tidak!" jawabnya singkat. Dia memakai pecinya,

"Ayo sekolah!" ajaknya.

"Tunggu!" Aku menahan tangannya.

"Aku menemukan ini dibawah bantalmu." Aku menunjukkan puisinya. Dia hanya diam.

"Kenapa kau tak memberikannya padaku?" Dia hanya diam.

"Atau ini bukan untukku?" Dia menatapku. Mata penyejuk hatiku, tolong jangan pernah berhenti menatapku.

"Ada namamu.. " Aku tersenyum.

"Boleh ku minta sesuatu?"

"Apa?" tanyanya.

"Memelukmu.. " Dia tersenyum, lalu merentangkan tangannya. Aku memeluknya, dan mendengar detak jantungnya.

"Dzulfikar, kau anugerah terindah dalam hidupku. Kau bukan hanya suamiku, tapi kau penyejuk dan peredam kesedihanku. Aku mencintaimu, suamiku.. "

Tak ada kebahagiaan yang indah dari sebuah pernikahan. Jauh dari segala perbuatan yang Allah larang. Keindahan yang terdapat didalamnya bisa melebur segala duka dan lara.

Aku dan Fikar bersiap - siap berangkat sekolah.

Hari ini Ujian Nasional, ku harap soal-soalnya tidak semenakutkan yang ku bayangkan.

Hp Dzulfikar berdering.

"Wa'alaykumussalam, Abah. Ada apa?"

Aku tidak terlalu mendengarkannya. Tapi ku lihat raut wajah Fikar berubah menjadi muram. Dia mengakhiri percakapannya.

"Kau kenapa?" tanyaku. Dia menggeleng, lalu menyentuh pipiku.

"Apapun yang nanti akan kau dengar, jangan percaya. Percayalah padaku. Iya?" Aku bingung, tapi ku anggukan kepalaku. Dia mencium kepalaku.

"Ayo berangkat. Kerjakan ujianmu tanpa menyontek.." Aku hanya nyengir lebar, baiklah aku akan berjuang untuk ujian akhir ku..



***


Dzulfikar (✓)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang