“Berjalanlah disampingku agar aku dapat menggenggam tanganmu. Biar aku tau kalau kau disini, tak hilang.”
Aku menyetarakan diri dan berdiri disampingnya.
Dia menggenggam erat tanganku. Aku berdebar, rasanya jantungku tidak karuan.
Kami melangkah bersama memasuki pesantren, tiba-tiba wajah kami diterpa angin yang berhembus lembut membelai.
Suasana pesantren yang baru aku tahui, mungkin menyenangkan bisa berada di lingkungan ini.
“Mereka disini sedang apa?” tanyaku. Fikar tersenyum padaku.
“Menghafal Al-Quran.” Aku menghentikan langkahku.
“Kenapa?” tanyanya.
“Apa kau juga?” Lagi, dia tersenyum.
“Sudahlah, ayo temui Abah.” ajaknya.
Aku berfikir sejenak.
Dzulfikar ternyata lebih dari istimewa. Aku pikir dia orang biasa sama seperti yang lainnya.
Aku semakin mengangguminya, tanpa henti aku mengucap syukur. Bersyukur bahwa Dzulfikar adalah suami yang mau dan mampu membimbingku.
Suami yang tak hanya mengerti ilmu dunia namun ilmu agama pula. Benar kata Ayah, bahwa Dzulfikar ialah orang yang berakhlak baik dan berilmu tinggi.
Ah, Fikar, aku mungkin tidak banyak mengetahui tentang kelebihanmu yang lainnya.
Tapi aku percaya, kau lebih istimewa dari orang biasa dan kau kenapa bisa memilihku? Aku yakin banyak perempuan yang setara dengannya. Ah
sudahlah, jangan pikirkan itu.“Fikar…”
“Kenapa?”
“Aku agak gugup.” Dia menghentikan langkahnya. Menatapku dengan penuh perasaan dan menyentuh pipiku.
“Abah baik kok, nggak doyan kamu. Beliau vegetarian.” Aku mencubit perutnya dan dia mengaduh kesakitan.
Lagian aku tidak berpikir bahwa Abah akan memakanku.
Berhadapan dengan Abah langsung itu yang membuatku takut, beliau kan seorang Kyai.
Dzulfikar mengetuk pintu.
“Assalamu'alaykum.”
“Wa'alaykumussalam. Kemari nak Laula.” begitu Abah melihatku, beliau langsung menyuruhku mendekat.
Aku menatap Fikar, dia mengangguk. Aku mendekat perlahan.
“Kau adalah menantu terakhir dikeluarga Abdullah dan kau yang paling istimewa bagiku." Abah berkata sambil memasang senyum, aku hanya berani menatapnya sebentar.
"Kau tak dicari tapi kau datang dalam mimpiku." wah aku baru tau, bahwa aku datang dimimpi Abah.
"Makanya ku pindahkan Dzulfi ke sekolahmu untuk menemuimu. Apa aku merusak kebahagiaanmu sebelumnya?” Aku diam.
Iya tapi aku sudah tidak mempermasalahkannya.
“Jika iya, maka aku meminta maaf." Ah, Abah tak perlu seperti itu.
"Kebahagiaan yang sejati harus dilalui oleh berbagai luka. Kau harus melapangkan hatimu untuk menampung semua kepedihan. Jadikan luas seperti laut, agar mampu meredam segala kepahitan, kau mampu?”
Aku menyimak nasehat Abah dengan seksama.
“In syaa Allah.” jawabku.
“Baiklah. Kau menginap disini bersama Dzulfi, biar aku yang meminta ijin pada Ayahmu.”

KAMU SEDANG MEMBACA
Dzulfikar (✓)
Fiksi RemajaCover by : @novendra_ardiansyah Aku adalah gadis remaja SMA. Menjalani kehidupan sama seperti remaja lainnya. Aku punya kekasih bernama Rizky Al-Farisi. Dia tampan dan baik sekali. Tapi, semua kehidupanku berubah ketika seseorang bernama Dzulfikar d...