thirty-two.

3K 385 19
                                        

Setelah satu hari yang panjang, Jimin akhirnya membuka mata. Pertama kali yang ia rasakan adalah kehangatan yang menjalar dari jari-jemarinya. Menyebar keseluruh pembuluh darah sampai Jimin memerah ketika menoleh ke arah munculnya rangsangan.

Jimin menatap wajah tidur Jungkook, lengannya perlahan bergerak, mengusap pelan permukaan lembut dari wajah Jungkook yang menawan. Rasa hangat lelaki itu bahkan langsung masuk ke pori-porinya. Jimin berkhayal bagaimana rasanya seluruh tubuh itu menyelimutinya. Tempat paling didambakan semua orang.

"Cukup senang mengamati wajahku?"

"Ap-" Jimin cepat-cepat menarik tangan. Membuang muka ke tempat lain, tidak kemata Jungkook yang berkilat nakal. "Aku... ada nyamuk di pipimu."

Jungkook menaikkan sebelah alis, "Aku yakin aku membawamu ke rumah sakit paling bagus di Busan. Dan rumah sakit juga nyamuk, itu kombinasi paling konyol yang pernah kudengar tentang rumah sakit."

"Diamlah." Jimin makin memerah, Jungkook terkekeh.

"Kau tertidur seperti kerbau."

"Ya, terlihat seperti kau mengajak ribut orang sakit. Tidak gentleman sekali."

Jungkook menggedikkan bahu. Jimin menoleh perlahan ke lelaki itu, namun menatap melewatinya. Enggan bertatap muka dan semakin memalukan diri sendiri karna memerah.

"Hal pertama yang ingin kulakukan adalah menggodamu setelah bangun. Dan sukses setelah aku melihatmu memerah. Benar-benar anak itik."

Jimin berkedip-kedip tak percaya. "Aku tidak memerah! Aku cuman..." Jimin membantah kelewat keras.

"Memerah, malu, terpesona, kagum?"

"Apa, kau!"

"Baiklah, sekarang tatap aku."

Jimin perlahan menatap kematanya yang hitam dan dalam.

"Sekarang aku akan menanyakan sesuatu serius. Apa yang kau rasakan saat ini?"

Apa? Apa yang dirasakan, dia mengarah kemana? Jantungku yang berdetak cepat atau-

"Tubuhmu, ada hal aneh yang kau rasakan?"

"Oh," Jimin memerah. Jungkook mengernyit, berpikir tentang apalagi yang si itik ini pikirkan di otak konyolnya. "Agak aneh dan ini..." dia tertawa. "tidak tampak seperti tubuhku." Jimin terkekeh. Jungkook menatap datar. "Maksudku, aku... tidak bisa menggerakkan pinggangku. Kau tahu, aku berusaha duduk sedari tadi. Bukannya bersandar begini."

"Dengar Jimin," Jungkook sukses membuatnya menoleh cepat dengan suara dalamnya. "Apapun yang terjadi, kamu tahu, aku akan ada disini, mungkin sementara waktu, atau selama mungkin sesuai keinginanmu. Tapi kalau kau tak menginginkannya-"

"Berhenti Jungkook." Nafas Jimin memburu. "Apa inti dari perkataanmu tadi? Kau..."

Jungkook tahu, Jimin sudah melihat dirinya yang tak pernah ia tampakkan. Meski ia berusaha tenang, seberapa keras pun Jungkook mencoba, tubuhnya tak bisa berhenti bergetar. Dia tahu, seharusnya bukan hal seperti ini responnya.

"Jimin..."

"Jungkook, katakan! Ada apa?! Kau membuatku takut!"

FOLLOW THE BRAIN || jikookCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang