HARAPAN
By : SintaAnggraini30
ROMANCE
Rindu..
selalu seperti itu.
Mengapalah
cinta dan rindu sangat bersahabat.
Sangat suka pula menyakitkan.
Harusnya..
Rindu tak usah punya hobi seperti itu.
Aku rela menua dalam lajang. Aku rela menghabiskan waktu dalam lembab basah air mata. asal kau mau mengobati ruam hati ku. Yang lara.
Malam ini seperti biasa Aku selalu mengerjakan laporan dari pasien yang harus ditangani. pasien phobia ketinggian. Pasien yang ku tangani sudah pada tahap stres. Dengan membayangkan saja, penderita dapat merasa takut dan cemas. Bahkan sebagian lainnya dapat mengalami serangan panik.
Ingatan ku meluncur pada kejadian delapan tahun lalu. Stres juga pernah menghampiri ku walau bukan pada tahap akut. Karena stres yang diderita adalah stres akibat masa koas yang melanda. Delapan tahun lalu juga kisah perih ku dimulai. Melayang pada kejadian dimana seharusnya aku tidak gegabah.
Hiburan gaya anak muda selalu dinikmati dengan cara berbeda sesuai hobi. Alam selalu membawa kedamaian bagi ku. Stres yang sudah berkurang sepertinya akan bertambah parah saat Aku menyadari bahwa jalan yang sebelumnya ku lewati hilang. Kamera tak ku hiraukan, badan lecet tak ku rasakan. Namun, kesadaran membawa ku kembali saat merasakan bahwa aku tidak sendiri. Di hutan ini.
"Aku akan pulang lusa, aku harus menemani Luhan unnie mempersiapkan pernikahannya." Chanyeol mengusap layar handphone. "Cepat pulang, Park Yoo Jung perlu diurus, aku juga." Setelah sambungan video call berakhir pikiran ku kembali bertanya. Bagaimana bisa aku menikahinya dulu.
Pergi jika itu mau mu. Tapi kumohon, tolong gunakan sopan santun mu. Bagaimana bisa kau masuk dan pergi tanpa permisi. Lakukan apa yang membuat mu senang. Kerjakan apa yang menurut mu benar. Tapi kumohon sekali lagi. Tolong permisi.
"Harusnya besok adalah hari terakhir aku di kota ini..."
Aku menyadari ada manusia yang lebih merasakan genting, dia terlihat panik, namun mencoba kuat dan bertahan. Secara tidak langsung alam mengajarkan betapa pentingnya mengontrol diri. Tujuan utama mendaki bukan lah puncak. Namun, rumah. Tenang dan berfikir akan dibayar tiket pulang dengan selamat. Gegabah sama dengan mati.
"Alam itu bebas ya Chan.. selalu tidak pernah bosan menjamahnya.." Tangan mungil mengibaskan ilalang. Kami sampai pada titik laju. Setelah tiga jam yang lalu menapak ke area lebih tinggi untuk melihat jalan para pendaki.
Apa yang ku fikirkan. Bagaimana bisa aku benci menemukan jalan pulang.
"Besok acara pernikahan Luhan unnie. Kau datang kan Chan? Apa perlu aku siapkan pakaian terlebih dulu sebelum berangkat ke rumah eomma?" Sebenarnya minggu ini adalah hari terberat ku. "Tidak usah Baek... Kau urus saja pernikah Luhan Noona. Aku rasa kalian sekeluarga pasti sedang sibuk sekali" Sepertinya pesta besar adalah kebiasaan keluarganya. "Iya.. Maka dari itu aku hanya bisa mengantarkan makanan untuk kalian. Bagaimana.. enak tidak?" Setelah menikah tidak ada makanan yang tidak ku sukai. "Tentu saja.. Masakan istri ku tidak pernah mengecewakan" Baekhyun tertawa riang. "Kau ini bisa saja. Yasudah dihabiskan."
KAMU SEDANG MEMBACA
Chansoo Writing Competition 2018
Fanfiction[Kategori : Fanfiction & Meme] 45 karya peserta FF Competition 2018 sudah dipublish pada work ini. 11 karya peserta Meme Competition 2018 sudah dipublish pada Instagram kami. Silakan menikmati karya-karya peserta, dan jangan lupa tinggalkan komentar...
