[Kategori : Fanfiction & Meme]
45 karya peserta FF Competition 2018 sudah dipublish pada work ini.
11 karya peserta Meme Competition 2018 sudah dipublish pada Instagram kami.
Silakan menikmati karya-karya peserta, dan jangan lupa tinggalkan komentar...
"Aku Adalah orang yang selalu mengalah setiap mulutmu berkata ingin putus dariku. Haruskah aku tetap bertahan?"_ DO KYUNGSOO
------
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Dia duduk sendiri dibangku taman itu, menatap langit yang seolah tengah mengejeknya. Menampilkan biru indah tanpa cela hanya sang raja siang yang berkuasa.
Entah ini kali keberapa ia menghembuskan nafasnya namun tetap saja rasa sesak menyerangnya. Bagaimana ia tengah menyaksikan seseorang yang ia cintai tengah berpagut mesrah di sana dengan seorang gadis. Jangan tanya kenapa ia tidak menangis, karena air matanya mungkin telah habis.
Sayangnya cinta membutakan semuanya, ia mau saja disakiti, ia mau saja tak dianggap, ia mau saja dijadikan pelampiasan dan yang pasti ia akan melakukan apapun demi kekasihnya yang ia anggap Piterpan dunia nyata itu.
Sampai ia tidak menyadari seorang pria yang kini telah duduk di sampingnya. Si pria mengikuti arah pandangnya, si pria tersenyum miring.
"Apakah rasanya sesak, Kyung?" ucapnya ringan.
Dia tersadar, ia tolehkan kepalanya ke samping.
"Se-Sehun?"
"Iya," pria itu tersenyum. "Ini aku, bagaimana kabarmu?"
"Kau menyinggungku?" dia tertunduk dengan lesu.
"Haha," ia tertawa hambar. "Tidak, sudah ku katakan dari dulu, Kyung. Berbaliklah, aku ada di belakangmu, aku siap mendekap dan menerimamu. Tak peduli kau bekas si brengsek itu, Kyung," pria menatap lekat pada sosok mungil bermata owl itu.
Dan yang ditatap hanya diam. Ia sangat tahu maksud dari kata-kata itu, tapi sekali lagi... ia bahkan rela mati untuk si brengsek di depan sana.
"Dan kau tahu, Sehun. Itu tak akan terjadi, demi apapun aku tidak akan meninggalkannya," ia kembali menaikkan kepalanya dan-
Deg
-mata bulat itu semakin membolah mendapati sosok di sana sedang menatapnya. Jantungnya bergemuruh seperti tabuh festival.
Sosok angkuh itu tidak lagi berdua, ia sendiri di sana berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah mereka.