#01

13 4 8
                                        

Dunia tak butuh pahlawan, dia hanya butuh seseorang atau sekelompok orang yang bisa mengatasi masalah ditimbulkannya. (Anonim)

Setelah sebelumnya Hutan Samana kacau-balau akibat gangguan monster tingkat menengah yang meneror seisi hutan, kini tempat itu kembali mendapat satu lagi gangguan dalam wujud ledakan cahaya yang membutakan mata. Sehingga membuat para penghuninya, sekali lagi menyorok diri di semak belukar dengan gigilan ketakutan.

Saat cahaya itu perlahan memudar, sesosok manusia dengan memakai piyama tidur dan bertelanjang kaki muncul di sebaliknya. Celingukan bingung menjadi respon pertama kala dia membuka mata.

Manusia fana, penyusup!!

Apa yang dipakainya itu?

"Yang kalian sebut dengan manusia fana itu siapa?" Nataya merespon suara-suara itu tertangkap oleh indera pendengarannya.

Dia bisa mendengar kita, paham bahasa kita!

Ancaman..

Takut..

"Aku tidak punya maksud jahat. Kalian tak perlu takut," tenang bocah itu.

Itu yang biasa dikatakan manusia fana sebelum mereka memburu kami, para penghuni hutan..

Pergi dari sini!

Setelah berkali mencoba dengan akhir yang sama, Nataya pun akhirnya melangkah pergi kemana pun instingnya memandu. Hingga derak dahan patah disertai sorot mata tajam dan geraman penuh ancaman perlahan mendekati dirinya.

"Sial, benar-benar sial!" decihnya dengan suara tercekat kemudian mundur perlahan sambil mencari celah untuk lepas dari bahaya yang menghadangnya.

===

Nataya mati-matian pertahankan diri dari penyerang yang berwujud serigala besar dengan sekerat dahan yang diraih sekenanya. Setelah setengah jam berjuang, dirinya akhirnya berhasil kalahkan penyerang yang kini tersungkur menunggu ajal.

Tubuh Nataya serta-merta ambruk, luka yang ia terima saat bertarung tak bisa lagi ditoleransi tubuh.

Saat kesadarannya mulai tercerai akibat kehilangan banyak darah, lamat-lamat dia mendengar sebisik suara mengucap bahasa yang asing di telinga kemudian sensasi hangat serupa mentari mulai menyelimuti tubuhnya.

Dalam keheningan tercipta, di ruang cahaya alam bawah sadar Nataya, sesosok yang familiar dalam rongga ingatan hadir menyambutnya.

Salam, makhluk fana dari dunia lain..

Dia hanya bisa meloloskan kata 'kau' tanpa kata lanjutan sebagai respon. Sosok yang tengah berdiri sempurna dalam pandangan tak pelak memutar ulang kejadian beberapa minggu lalu.

Berawal dari lapak buku loakan yang menggelar dagangan di dekat stasiun kereta yang biasa dilewati Nataya sepulang kerja sambilan.Hal ini entah kenapa langsung mengundang minat untuk mampir untuk sekedar melihat-lihat karena hal ini tak setiap hari ia dapati.

"Ada yang anda sukai?" tanya sang penjual saat melihat dirinya menimang-nimang beberapa buku kemudian meletakkannya kembali ke atas meja tampil.

Semua buku-buku ini harganya 25 ribu?

Pertanyaan itu dibalas anggukan oleh sang penjual.

Yang ini juga?

Sambil mengangkat sebuah buku bersampul kulit berwarna merah marun dengan torehan aksara Al.Terra Chronicle, sekali lagi sang penjual mengangguk.

Ada sensasi ganjil kala buku itu tersentuh tangan, Nataya pada saat itu menganggap hanyalah khayalan semata; sebagai efek samping dari kebanyakan baca komik.

Baiklah, aku ambil yang ini.

Adegan selanjutnya berpindah ke saat dirinya sedang memacu sepeda motor yang pada beberapa detik kemudian, harus meremas dalam tuas rem depan hingga terjungkal karena hadirnya sebayang mahkluk mungil dari balik bak sampah di pinggiran jalan yang tak ingin ia lindas. Untungnya jalanan pada saat itu sedang sepi, baik dari lalu-lalang orang maupun deru kendaraan.

Suatu kejadian ganjil yang baru disadari oleh dirinya saat ini, karena jalan yang dilaluinya merupakan jalan utama dan waktu kejadian bertepatan dengan rush hour. Jadi sesuatu yang sangat mustahil jika tak ada satupun kendaraan yang lewat di tempat itu.

Kau baik-baik saja makhluk kecil?

Pertanyaan itu terlontar disela menahan sakit yang mendera pergelangan kakinya saat menegakkan kembali motor yang tergolek naas dengan cat bodi terkelupas digerus aspal. Sementara yang ditanya hanya bisa menjawab dengan meongan lemah dan perlahan mendekati tubuh sang penanya.

Kucing yang malang, dia pasti lapar. Mengelus pucuk kepala kucing liar sejenak lalu ingat kalau ada biskuit di dalam tas punggungnya.

Maaf, hanya ini yang bisa kuberikan padamu. Maaf juga karena aku tak bisa membawamu pulang. Jadi, berusahalah untuk tetap hidup ....

Nataya meremah biskuit malkist agar lebih mudah dimakan oleh sang kucing, lalu bangkit usai mengucapkan kalimat itu.

Ada banyak lagi keanehan yang menurutnya punya kaitan dengan kejadian ini. Namun, desakan protes yang mengganjal di tenggorokannya harus segera dikeluarkan.

"Apa yang sebenarnya terjadi disini? Kenapa aku berada di hutan lalu terbunuh alih-alih diatas tempat tidur?" ledak Nataya pada akhirnya.

¤Tsuzuku¤

Al.Terra Chronicle : ArchivarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang