Asche menghela nafas panjang untuk kesekian kalinya. Suasana kereta kuda yang dinaiki sunyi mencekam, serasa di kuburan. Kara tak mengucap sepatah pun dari balik kemudi, sementara Rycca yang jadi penumpang tambahan hanya duduk diam memeluk lutut sambil menatapi pemandangan seadanya tersaji di belakang kereta.
Sebentar lagi kita akan sampai di gerbang masuk ibukota Crona, dirimu harus melapor ke pos penjaga sekaligus membuat plakat ijin masuk kota..
Aku sudah mengatur ulang stat milikmu juga milik nona Kara agar tidak menimbulkan banyak pertanyaan saat menyentuh tablet verifi..
Asche menggumam pelan ucapan terima kasih.
Ditengah jalan, rombongan mereka dihentikan oleh sepasukan penjaga berkuda dengan zirah pelat besi yang menutupi sebagian besar tubuhnya.
"Apa yang bisa saya bantu, tuan-tuan?" ucap Asche saat diminta turun dari kereta bersama kedua gadis Anifolk yang masih mengacuhkan satu sama lain.
Hanya pemeriksaan rutin, anda berasal darimana?" ucap sang kapten yang tetap berada diatas pelana sementara anak buahnya memeriksa bebarang yang dibawa dalam kereta.
"Desa Mura," jawab Asche singkat.
"Darimana anda mendapatkan bahan baku ini? karena ini semua berasal dari Easteria," pertanya kapten itu kemudian seusai dihampiri bawahan dengan membawa salah satu barang yang dibawa kereta itu.
"Oh, itu titipan dari seseorang yang menunggu kami di Crona, namanya tuan Kailash."
"Hei, bukankah itu nama seorang bangsawan Easteria yang diserang penyamun gurun?" sergah salah satu dari mereka yang langsung direspon siaga oleh lainnya.
"Harap sarungkan kembali pedang kalian tuan-tuan, saya hanyalah orang yang beritikad baik mengantarkan muatan ini kepada pemiliknya yang sah."
"Apakah anda punya bukti?"
Dari titik buta Asche merasakan pergerakan siap serang Kara dan akan sangat runyam urusannya jika dia mengamuk seperti tadi.
"Perkataan Tuan Asche benar adanya." sanggah si gadis Lusard yang akhirnya buka suara.
"Kau siapa? Jangan turut campur dengan hal yang bukan urusanmu!"
"Saya Rycca Lagartixa, salah satu abdi dari Tuan Kailash Al-Soudan." perkenalnya sambil menunjukkan plakat berwarna emas dengan ukiran pohon palem yang berada diatas silangan Scimitar yang merupakan crest salah satu keluarga bangsawan terpandang di Easteria.
"Maafkan kami atas kelancangan bawahanku barusan kalau begitu," ucap pemimpin pasukan setelah mengecek otentikasi plakat yang tadi ditunjukkan Rycca.
Huuft, selamat..
"Saya juga merasa lega kalau salah paham ini sudah berakhir. Dengan begitu kami bisa tenang melanjutkan perjalanan," sergah Asche.
"Bawalah carik kertas ini untuk memudahkan kalian mengurus ijin masuk kota," ucap pemimpin pasukan berkuda itu kemudian menyerahkan secarik kertas yang tergores kata 'verif' ke tangan Asche kemudian melanjutkan patroli mereka.
====
Sesampainya di gerbang kota, ketiganya turun dari kereta kuda dan melangkah masuk kedalam pos pemeriksaan. Tak lupa juga, Asche menyerahkan carik kertas yang diterimanya pada petugas pos pemeriksaaan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Al.Terra Chronicle : Archivar
CasualeTerdampar ke dunia antah-berantah bisa dibilang hanyalah isapan jempol, khayalan konyol, imajinasi berlebihan bahkan hanya halusinasi. Namun, kala alam semesta menghendaki hal itu terjadi; apakah itu sebuah kekonyolan ataukah pertanda kalau kejadia...
