#22

5 2 0
                                        

"Saya sudah siap tuan," ucap Kara yang terlihat lain dalam balutan pakaian yang tadi diberikan Asche. Rambut hitam panjangnya dikuncir kuda hingga menunjukkan lehernya yang jenjang, mata biru safirnya tampak penuh semangat dan yang terakhir cuatan kuping kucing yang bersatu dengan rambut.

"Ternyata kuping Elgatto seperti ini," gumam Asche menatap pucuk kepala Kara dengan alis terangkat sebelah.

"Maafkan saya tuan karena lupa untuk menyamarkannya!" apologi Kara begitu sadar apa yang tengah jadi perhatian Asche dan segera merapal sihir tudungan.

"Kenapa disembunyikan?"

"Tuan tidak jengah? Manusia fana selalu menatap jengah saat melihat kuping kami."

"Apa wajahku terlihat seperti itu?"

Kara menggeleng pelan, dia heran kenapa manusia fana di depannya tak merasa jengah seperti lainnya.

"Daripada mengkhawatirkan itu lebih baik kau jelaskan tentang keahlian seorang Caracal padaku."

"Klan kami memiliki kemampuan berburu seperti leluhur kami para kucing gurun yaitu kemampuan melihat dalam gelap, pendengaran dan penciuman tajam, dan juga kemampuan adaptasi."

"Menarik."

"Terima kasih atas pujiannya tuan."

"Asche, panggil saja namaku karena posisimu setara denganku. Ini perintah," ucap Asche ketika melihat ada raut tidak setuju atas perkataannya.

"Siap tu--eh, Asche."

"Bagus, sekarang ayo kita berangkat."

"Boleh saya tahu kemana tujuan kita?"

"Crona, kita akan ke Crona."

"Tidakkah itu cukup jauh dengan berjalan kaki? Apa tak sebaiknya kita memakai kereta kuda?"

"Maksudmu kereta kuda yang tadi kau ceritakan? Sebenarnya ingin, tapi aku tak punya keahlian kusir."

"Saya pernah diajari mendiang tuanku mengemudikan kereta satu kuda."

"Kalau begitu apalagi yang kita tunggu!"

Keduanya bergegas menuju tempat para penyamun itu menyimpan kereta kuda. Hewan penarik yang digunakan untuk kereta ini disebut Wadalla, monster biakan berwujud kuda yang cocok disegala medan.

Kemudian tak lama berselang, Asche dibantu Kara mulai memuat semua yang bisa mereka gunakan untuk bekal perjalanan dan benda-benda yang bisa dijadikan uang di Crona. Setelah kereta kuda telah sarat muatan, Asche membakar pondok penyamun itu agar tak bisa lagi dimanfaatkan oleh penyamun lain untuk markas mereka. Tempat itu cukup terpencil dan terjarak dari dedaunan, reranting, rerumputan kering dan benda lainnya yang bisa menjalarkan kobar api.

"Sebaiknya kita segera berangkat Kara."

Ucapan Asche memecah lamunan Kara yang masih menatap lekat pondok yang telah sepenuhnya ambruk dilalap api.

"Baik,"balasnya kemudian melecut pelan tali kekang kuda agar mulai jalan.

"Apa tuan akan lama di Crona atau hanya sekedar lewat?"

Asche termenung sebentar, dia lalu menanyakan apakah ibukota yang dituju keduanya ramah bagi anifolk pada sang pemandu yang saat ini lebih pilih diam daripada berbicara demi kewarasan yang dipandu dan hanya melakukan tindakan pencegahan yang perlu saja.

Crona sedikit tak ramah pada Anifolk, tetapi nona Kara akan baik-baik saja dalam lindungan dirimu

"Apa tujuanmu ke Crona itu rahasia Tuan Asche?"

"Tidak--tidak sama sekali, urusanku ke Crona utamanya mengantarkan sesuatu ke Gilda dan jika situasi memungkinkan aku ingin sedikit melihat-lihat kota."

"Apa tidak masalah mengajak anifolk seperti saya?"

"Masalah selalu datang walaupun tanpa adanya dirimu, lagipula kau bukan lagi budak melainkan bagian dari kami dan tak akan kubiarkan orang lain menyentuhmu sehelai rambut pun."

Kara tak bisa berkata apa-apa selain menatap takjub penuh haru manusia fana yang ada didepannya ini. Dia mengingatkannya pada sosok mantan tuannya yang telah kembali ke pangkuan Erdemére beberapa tahun lalu.

"Tak usah menatapku seperti itu, aku ini yatim-piatu sejak kecil dan kau sudah kuanggap saudara perempuanku jadi wajar saja akan aku lindungi sekuat tenagaku."

"Memangnya anda tidak malu punya saudara sepertiku?"

Asche menggeleng. "Aku lebih malu punya budak. Di tempatku, setiap makhluk itu bebas berkehendak."

"Dimanakah itu? Dunia yang tuan katakan itu seperti utopia yang diceritakan ibuku sewaktu kecil."

"Di suatu tempat yang belum bisa dijangkau bahkan oleh diriku sekarang ini."

"Jika kesempatan itu telah ada, maukah anda mengajakku?"

"Jika dimungkinkan, kau pasti akan kuajak."

Secercah senyuman hadir di wajah Kara, dia memang tak dijanjikan sesuatu yang pasti namun baginya perkataan sang Frithien itu sudah lebih dari cukup.

Kereta kuda yang dinaiki keduanya terus berjalan sampai cahaya langit perlahan redup kemudian merubah semua yang jelas terlihat oleh mata manusia hingga menjadi siluet.

Rombongan Asche sudah berada di perbatasan antara daerah hutan Samana dengan Ranah Sabbia. Keduanya mulai mendirikan tenda di dekat sungai kecil yang memisah dua daerah tersebut.

"Aku akan memasak," ucap Kara cekatan mengambil ketel uap, kuali sedang dan peralatan makan dari dalam sebuah peti.

"Yasudah, aku buat api unggun dulu," ucapnya lalu mengeluarkan kayu bakar dan pemantik api yang berupa dua batu yang digesekkan untuk mencipta bunga api dari satchel sihir. Dia benar-benar menggunakan sebaik mungkin media penyimpan ini untuk diisi barang yang sekiranya berguna dalam perjalanan ini.

"Anda menyimpan kayu bakar di satchel sihir?" tanya Kara dengan alis terangkat sebelah.

"Semua item penting yang berguna dalam perjalanan aku masukkan ke sini, aneh ya?"

Kara mengangguk pelan sambil lanjut berkata bahwa agak ganjil bagi seorang pengembara tanpa membawa ransel di punggungnya.

"Aku suka memakai benda yang ringkas agar tak menghalangi gerak dan bebani langkah. Lagipula, aku sebelumnya mengembara sendirian dan barang bawaannya pun tak banyak," ucap Asche sambil mematahkan reranting dan melemparnya ke api unggun.

"Hangatnya," ucap Kara meletak kedua tangan ke arah api unggun.

"Kamu bukannya tadi bilang mau memasak?" celetuk Asche yang ingat tujuan awal pembuatan api unggun ini.

"Oh iya," cengir Kara.

¤Tsuzuku¤

Al.Terra Chronicle : ArchivarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang