#15

5 1 0
                                        

Setelah keluar dari gerai, Asche menyadari dua hal saat dirinya melihat bentangan peta yang ada di tangannya. Pertama, dirinya tidak memiliki tempat persinggahan setelah desa ini dan untuk mencapai ibukota Crona diperlukan hewan tunggangan. Ini masalah serius, karena desa ini sudah tak punya lagi hewan tunggangan yang bisa disewa maupun dibeli karena telah habis dimangsa Behemoth, monster tingkat menengah yang beberapa hari lalu mengacau di desa ini.

Kita bisa menumpang pedati pedagang yang datang atau hendak ke Crona.

"Dan apakah kau melihat pedagang ataupun pedati di sekitar sini?"

Baiklah, aku mengerti maksudmu.

Dua hari telah berlalu di desa Mura, semenjak Asche memutuskan untuk perpanjang waktu tinggal demi menunggu pedati pedagang untuk sirkulasi bahan baku dan keperluan lainnya. Menurut info yang ia dapat, hari ini semestinya jadwal pedati pedagang dari kota Crona datang ke desa.

"Selamat pagi tuan Asche. Sarapan anda sudah siap," ucap seorang pelayan penginapan yang terlebih dulu mengetuk dibalik pintu.

"Terima kasih. Aku akan segera turun," jawabnya lalu beringsut ke wadah menyerupai wastafel tanpa keran yang dipenuhi cairan bening seperti air untuk membersihkan diri. Dia kemudian menanggalkan semua pakaian yang melekat di tubuh kemudian menangkup 'air' dalam wadah ke wajah dengan kedua belah tangan. Cairan itu perlahan menyapuh wajah dan seluruh kepala sebagian lainnya merayap melingkari telapak kemudian naik ke lengan, bahu, dan terus merayap turun sampai ke sela-sela telapak kaki. Setelah selesai melakukan tugasnya, 'air' itu merayap masuk kedalam ember yang terletak dibawah wastafel dalam keadaan keruh diiringi helaan nafas tak nyaman, Asche perlahan kembali berpakaian, dia tak akan pernah terbiasa dengan cara mandi seperti ini.

Apakah di dunia ini memang tidak mengenal sabun, sikat gigi dan semua perintilan mandi normal lainnya?

Pertanyaan itu mengemuka saat pertama kali dia menginap, pertanyaan yang mendatang kernyit heran dari pemilik penginapan dan jawaban yang diterima tak pelak membuatnya menghela nafas dalam-dalam. Dunia ini hanya mengenal Waschen seperti yang barusan dia lakukan, sementara hygienitas mulut didapat dengan berkumur cairan peluruh sisa makanan yang disebut Solvent. 'Air' yang digunakan untuk itu sebenarnya sebuah organisme sejenis slime bernama Lavare yang cara kerjanya seperti terapi Doctor Fish yang hanya memakan jaringan kulit mati yang pernah digandrungi di dunia asalnya.

====

Suasana penginapan di kala pagi selalu menebarkan aura khas desa, nyaman penuh keakraban hingga membuat siapapun betah berlama-lama di desa ini. Pedati pedagang tiba di desa saat mentari masih setengah jalan ke puncak rotasi siang-nya, pedati itu dijaga oleh lima petualang berzirah mengkilap. Kedatangan pedati pedagang disambut antusias karena hal itu pertanda pulihnya peredaran barang.

"Mungkin sebaiknya aku mengecek apa saja yang dijual di pedati pedagang itu."

Kerumunan pun langsung terbentuk begitu sang pedagang membuka lapak. Ada ragam bumbu, obat-obatan, juga pakaian yang dijual.

"Sudah jelas sih, mana mungkin mereka menjual perlengkapan selain yang dipakai penduduk desa," gumam Asche yang pada akhirnya membeli beberapa potong pakaian selain persediaan wajib beli seperti obat-obatan dan bahan makanan kering agar terlihat merakyat dan status petualang miliknya tersamarkan.

"Bocah, apa kau ingin beli sesuatu yang menarik?" cegat seseorang dengan jubah lusuh yang menutup seluruh tubuhnya.

"Barang apa? Aku tak melihat buntelan atau semacamnya."

Sambil terkekeh, pedagang misterius menggunakan isyarat jari yang kurang lebih berarti 'ikuti aku'. Pedagang misterius itu, kemudian memandu Asche ke sebuah gang sempit tak jauh dari tempat mereka bertemu. Untuk menghindari kemungkinan adanya sergapan, Asche meminta rekan tak kasat matanya untuk memeriksa keadaan.

"Maafkan atas semua rasa tidak nyaman ini, aku harus lakukan ini karena barang jualanku tak bisa dengan mudah ditunjukkan pada sembarang orang."

"Tak masalah, bisa anda tunjukkan benda apa yang menurutmu akan buatku tertarik?"

Pedagang misterius itu lalu merogoh sesuatu dari balik jubahnya dan menarik keluar bola seukuran bola kasti dengan warna juga bentuk yang mengingatkan dirinya pada Master Ball dari game tangkap monster bermaskot tikus listrik warna kuning.

"Apakah itu media tangkap monster liar untuk mitra bertarung dan juga tunggangan?" celetuk Asche tanpa sadar.

"Bagaimana kau tahu fungsi Sfera ini? Benda ini baru saja aku sempurnakan!"

"Intuisi mungkin, sekarang lanjutkan penjelasanmu."

"Ah-itu-apa yah? Oh iya, didalam sudah ada seekor Struthion yang telah aku jinakkan dan harganya."

Asche sedikit gugup menunggu besaran harga yang akan diajukan dan berharap Lucre yang dimiliki cukup karena mendapatkan benda yang sangat mirip dengan game kesukaannya akan memberikan kepuasan tersendiri.

"Aku akan melepasnya dengan 70 perak!"

Rasa gugup Asche langsung luruh, harga yang disebutkan pedagang misterius itu sangat rasional. Akan tetapi, jika dia menyanggupi harga tersebut, Lucre yang ada di kantong uang tak akan tersisa banyak untuk perjalanan ke kota Crona kelak.

"Tak bisa kurang?"

"Maaf sekali, aku butuh uang itu sebagai imbalan permintaanku."

"Bagaimana jika aku saja yang melakukan?"

"Permintaanku ini bukan untuk petualang pemula," kibas sang penjual kala melihat penampilan Asche yang sangat 'biasa'

"Maaf saja ya, aku ini petualang tingkat menengah!" ucap Asche sedikit tersinggung sambil menunjukkan sebuah badge berwarna copper.

"Baiklah-baiklah, aku percaya. Kalau begitu, bisakah kau melakukan permintaan pengambilan?Jika berhasil maka sebagai hadiahnya Sfera ini milikmu."

"Aku mendengarkan ...."

"Di hutan Samana terdapat perkampungan jembalang hutan, dan aku ingin kau mengambil kembali senjata Morning Star  yang dicuri dari tangan pemimpin mereka dari ras Troglodyte bernama Amuk Threl."

"Dan apa yang istimewa dari senjata ini dan kenapa bisa tercuri?"

"Senjata itu merupakan memento dari mendiang mentor-ku dan tercuri karena kecerobohan semata."

"Demi Sfera, anggap saja tugas itu telah selesai sebelum kau menyadarinya!"


¤Tsuzuku¤

Al.Terra Chronicle : ArchivarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang