#24

5 2 0
                                        

Salam tuan-tuan dan nona, namaku Asche. Seorang petualang yang kebetulan lewat di padang gurun ini dan tak berniat jahat,"

Dia memilih sekumpulan kalimat ini untuk menenangkan seorang ahli pedang yang sigap menghunus Scimitar dengan tangan gementar sebagai reaksi ringkukan ketakutan ayah dan anak perempuan yang tertutup cadar. Dugaan terbaiknya menyimpulkan beberapa hal. Pertama, ahli pedang yang ada di hadapannya ini pengawal pribadi dari keduanya dan nampaknya sedang terluka. Kedua, dilihat dari pakaian yang dikenakan ayah-anak ini dia yakin keduanya berasal dari kalangan bangsawan atau minimal saudagar kaya dari daerah Easteria dan Ketiga, anifolk yang diluar sana kemungkinan seorang budak.

"Syukurlah! Tolong ungsikan tuan Kailash dan nona Davidya," ucap sang pengawal pribadi yang baru percaya sosok dihadapan bukan penyamun ketika Asche menunjukkan badge petualang miliknya lalu menyodor sebotol Remedy.

"Dan apa mereka mau ditolong? Mereka tampaknya enggan,"

"Aku minta maaf atas nama mereka. Tuan Kailash dan nona Davidya punya pengalaman buruk dengan petualang yang disewanya dari Easteria, salah satunya yang sedang kami lawan saat ini."

"Kalau begitu, sepertinya kita punya masalah serius. Akan sangat sulit menolong seseorang yang tak percaya padaku."

"Apa yang membuat dirimu beda dengan petualang lain?" ucap sang bangsawan pria yang disebut tuan Kailash.

"Bisakah kau memberi bukti kalau kau bukanlah penyamun gurun?" sambung sang nona bangsawan dari balik cadarnya.

"Andai aku penyamun gurun, untuk apa repot menunjukkan diri tadi? Akan lebih efisien tetap tak kasat mata lalu menggorok leher anda dan pengawal anda kemudian mengambil nona itu sebagai bagian dari jarahanku untuk dijual sebagai budak yang pastinya akan bernilai sangat mahal!"

Asche bisa melihat kengerian di mata ketiganya saat dirinya secara gamblang menuturkan ini semua.

"Jadi kusarankan untuk terima saja uluran bantuan tanpa ada protes, setuju?" tutup Asche mengakhir penjelasannya lalu balik badan hendak pergi keluar kereta.

"Tunggu Asche, aku akan pergi bersamamu."

"Tak perlu, aku memberimu Remedy agar kau bisa kembali bertugas sebagai pengawal mereka."

"Tapi kau perlu bantuanku untuk meyakinkan Rycca, karena dia juga punya sejarah kelam dengan para petualang."

"Itukah nama Anifolk yang tengah bertarung membela kalian?"

"Dia mengabdi bersama denganku di kediaman tuan Kailash."

"Sebagai budak?"

"Sebagai pengawal pribadi nona Davidya, kami berdua bukan budak."

"Dimengerti. Perihal meyakinkan dia kau tak perlu kuatir, aku punya rekan wanita yang bisa berbicara hati ke hati dengan dia," pamit Asche menepuk pundak sang ahli pedang. Setelah pastikan tak ada yang melihat, dirinya lalu menudung kembali Incognito Cloak kemudian segera memanggil Pekko yang seketika mengepak sumringah begitu keluar dari Sfera.

Shruu~!

"Pekko, bisa pergi jemput Kara?" ucap Asche sambil menunjuk arah Kara seharusnya berada dan sang Struthion remaja itu pun melesat dengan kecepatan tinggi ke arah yang ditunjuk. Dia kemungkinan besar akan butuh kemampuan Kara memanggil transportasi darurat jika sudah tak ada opsi lain yang terpikirkan.

Sambil memikirkan opsi lain dan menunggu Kara, sesuatu yang menarik tercetus lantang dari mulut sang penyerang kereta; sesuatu benda yang menjamin ketersediaan Psyche walaupun di tempat tanpa regenerasi.

Al.Terra Chronicle : ArchivarCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang