Pohon Banyan tua yang dimaksud sang pemandu berukuran raksasa dengan beberapa dahan yang terlilit sulur dan ditutupi lumut hijau. Begitu tubuh Asche mendekati pohon itu, dia dengan jelas melihat adanya cahaya-cahaya kecil yang bermain disekitarnya.
"Itukah roh hutan? Indah sekali ...."
Kekaguman Asche memang beralasan, keberadaan makhluk indah ini sebelumnya hanya bisa dia angankan saat membaca cerita fantasi. Sementara visualisasi yang ditawarkan anime yang dia tonton mengenai mereka, tidak memenuhi ekspektasinya.
Benar, harap nantinya jangan terlalu terbuai dengan keramahan mereka manusia fana; walau jinak mereka bisa jadi pisau bermata dua.
"Dimengerti."
『Selamat datang di persemayaman kami, wahai manusia fana pemegang Grimoire. Apakah maksud tujuanmu datang untuk menghilangkan kutukan yang diberikan oleh Lupus Rex?』
"Terima kasih sudah menyambut. Dikarenakan maksud tujuanku sudah diketahui, maka aku tak perlu basa-basi lagi untuk meminta bantuan kalian."
『Suatu kehormatan bisa membantu seseorang yang dipilih Grimoire. Namun, maafkan kelancangan kami untuk meminta sebagian energi kehidupan milikmu sebagai imbalan. Mohon dimahfumkan keterbatasan ini, kekuatan sihir kami belum sepenuhnya pulih akibat serangan bertubi-tubi dari kawanan Lupus.』
"Apa tak ada alternatif lain untuk hal ini?"
『Sesuatu seperti kumpulan jiwa dari Kimera yang tersimpan di Grimoire juga bisa menjadi pertukaran yang setara ....』
"Wah-wah, tak ada sesuatu hal yang lolos dari kalian ya?"
『Tiap helai daun, ranting, dan akar di seluruh hutan ini menjadi mata dan telinga kami.』
"Dan bagaimana caranya?"
『Anda hanya perlu menelungkupkan tangan anda ke halaman tempat jiwa itu tersimpan sambil mengucapkan permeātus untuk memindahkannya ke tubuhmu sebagai cadangan energi untuk diberikan kepada kami.』
Setelah mendapat persetujuan dari sang pemandu, Asche kemudian melakukan apa yang dikatakan roh hutan dan ketika jiwa tersebut masuk ke tubuhnya, dirinya melihat kilas-kilas ingatan yang asing dibenaknya; wajah sepasang suami-istri yang tak dia kenal tengah merengkuh dirinya dalam pelukan kasih sayang yang hangat, kemudian beralih ke kejadian naas yang merenggut nyawa keduanya dan berakhir dengan keranjang bayi yang diletak di depan pintu panti asuhan.
"Apa arti ingatan barusan?" batin Asche yang tanpa sadar menitik airmata.
『Kami akan memulai ritual, apakah anda sudah siap?』
Yang ditanya hanya mengangguk tanpa suara dan roh hutan mulai mengitari tubuhnya dengan wujud pendaran cahaya kehijauan. Perlahan bekas gigitan di pundak Asche dikitari aksara kuno yang berpendar hijau dan lukanya mulai menutup menyisakan bekas luka.
『Terimalah kantong berisi benih ini, lemparkan benih itu ke tanah untuk memanggil kami ....』
"Terima kasih atas pemberiannya," ucap Asche kemudian menyimpan kantong benih pemberian roh hutan tersebut itu kedalam Satchelnya dan kini saatnya untuk mengucap pamit.
Namun, ucapan pamit tersebut disela oleh kelebat penglihatan tentang sesuatu yang mengintai dari sesemakan tak terlalu jauh dari tempatnya berdiri.
"Rupanya Lupus Rex aku lawan punya pasangan," gumamnya, kemudian berbalik menghadap kearah sesemakan yang ditunjukkan dalam penglihatan sesaat lalu. "Jika balas dendam yang kau cari, maka kau akan mendapatkannya."
Asche langsung melesat maju dan menerjang beberapa Lupus kelabu yang masuk dalam jangkauan serang kemudian menggunakan 〘Provoke〙-salah satu kemampuan yang dia dapatkan saat melawan Kimera waktu itu-untuk menggiring Lupus Rex beserta kawanan Lupus kelabu yang tersisa menjauh dari pohon Banyan yang merupakan tempat sakral bagi peri hutan.
"Panggil sebanyak mungkin kawananmu," desisnya saat indera pendengarnya menangkap lolong panggil bantuan disela hindaran cakar dan gigitan yang menyergap dari arah sesemakan.
"Akhirnya!" ucap Asche ketika dirinya telah sampai di daerah terbuka di hutan ini dan berbalik arah untuk menyerang.
【Change bladeform: Kodachi】!
"Kembalilah kalian ke Endersrealm 【Lifethread Severing】!!"
Serangan secepat kilat itu membuat kelompok pengejar itu tak bisa berbuat banyak selain menggelepar merenggang nyawa karena terputusnya pembuluh jugular. Serangan ini tentu saja tidak berlaku bagi Lupus Rex yang telah terbukti sebagai makhluk yang merepotkan. Maka, pertarungan itu dilanjutkan dengan saling bertukar serangan mematikan hingga salah salah satu dari mereka terkapar bersimbah darah. Butuh waktu yang lebih lama bagi Asche untuk bisa mengalahkan lawannya kali ini, Lupus Rex yang dilawannya kali ini seperti memiliki nyawa lebih dari satu. Meskipun sudah ditusuk berkali-kali, makhluk itu tak kunjung merenggang nyawa. Hingga pada akhirnya, Lupus Rex itu pun takluk dengan Baselard bersarang di batok kepalanya setelah menerima luka di sekujur tubuhnya.
"Semoga mereka yang terakhir," harapnya kemudian menyarungkan kembali Baselard dan merapal mantra penyembuhan sebelum kembali ke pohon Banyan tua.
=====
"Saatnya kita pergi. Pamitkan aku sekalian," ucap Asche mengalih pandang ke arah sang pemandu setelah sebelumnya menatap anakan Luftwiesel itu.
Sang pemandu lalu mengeluarkan suara campuran serupa rengek, geraman, dan cicitan. Sebentuk komunikasi dunia hewan yang tak akan pernah Asche pahami sampai kapan pun, baik di dunia asal maupun di dunia ini.
Anakan Luftwiesel menelengkan kepalanya saat mendengarkan perkataan sang pemandu, entah sedang berpikir menggunakan otak kecilnya atau hanya sekedar gestur binatangnya.
"Baik-baiklah disini ya Fuu. Nanti kami akan berkunjung," toleh Asche untuk terakhir kalinya kearah pohon tempat anakan itu bertengger. Fuu akan tinggal bersama dengan roh pohon sampai waktu yang tidak ditentukan.
¤Tsuzuku¤
KAMU SEDANG MEMBACA
Al.Terra Chronicle : Archivar
RastgeleTerdampar ke dunia antah-berantah bisa dibilang hanyalah isapan jempol, khayalan konyol, imajinasi berlebihan bahkan hanya halusinasi. Namun, kala alam semesta menghendaki hal itu terjadi; apakah itu sebuah kekonyolan ataukah pertanda kalau kejadia...
