Nataya punya ketertarikan kuat atas buku, terlebih khusus lagi yang membahas tentang folklor dan mitologi suatu negara. Demi hal itu dia menyisih sisa waktu luangnya berburu buku, baik loakan maupun diskonan.
Hari ini dia sedang beruntung bisa bertemu dengan penjual buku loak saat dalam perjalanan pulang dari café. Darinya dia membeli sebuah buku dengan sampul tebal berjudul Al.Terra Chronicle seharga 25 ribu. Buku warna sampul merah marun tersebut berkisah tentang sihir dan pedang di suatu dunia antah-berantah langsung menerbitkan keinginan membeli tanpa indahkan sensasi ganjil yang terasa ketika dirinya pertama kali menyentuh buku itu.
Begitu terbeli, buku itu teronggok begitu saja di atas meja belajarnya karena rundungan duka dan untuk kedua kalinya bersentuhan dengan buku itu saat insomnia menyerang dirinya di malam pergantian tahun.
Alkisah, sebuah legenda yang temurun diceritakan sejak berabad-abad silam di Al.Terra. Legenda tentang entitas yang mendiami daratan, laut dan angkasa.
Pada masa awal mula, semesta masih berupa ruang hampa tanpa batas berselimut kegelapan pekat. Lalu sang Maha Cahaya Criazon lahir, kemudian lamat-lamat berpendar kian terang hingga akhirnya terbebas dari kungkungan gelap.
Selama berabad lamanya, alam semesta benderang berlimpah cahaya. Begitu melimpahnya hingga berkas-berkas cahaya tidak mampu lagi terurai dan mulai berakumulasi membentuk gumpalan bercahaya yang lambat laun melahirkan sebuah entititas bernama Milleselene, sang dewi rembulan perak.
Criazon jatuh hati pada kecantikan sang dewi dan langsung meminta dirinya jadi pendamping. Dari prosesi peraduan mereka, dari ruang cahaya Milleselene lahirlah Trias; mereka adalah Eir, sang langit tanpa batas, Erdemére, sang daratan maha luas, dan Tethys, sang lautan dalam tanpa batas. Lalu, dirinya merengkuh ketiganya dalam satu lingkupan sperikal.
Merayakan kelahiran mereka, Criazon mengambil sebagian energi cahaya, memecahnya jadi titik-titik cahaya kemudian ia sebarkan ke penjuru semesta. Sebagian besar titik cahaya yang tersebar berkumpul menjadi gugusan gemintang dan beberapa dari mereka jatuh ke lingkupan sperikal.
Titik-titik cahaya itu diserap oleh sang Trias dan dari mereka lahirlah para entitas penjaga.
Dari Eir, lahir Aether; sang peniup angin dan pemintal awan.
Dari Tethys, lahir Megalodon; sang pembuat ombak dan pemelihara makhluk laut.
Dari Erdemére, lahir Gigantes; sang pembentuk gunung dan pembuat magma.
Ketiganya menunaikan tugas yang diemban pada ranahnya masing-masing tanpa hasrat untuk bersinggungan satu sama lain. Adalah Gigantes, entitas penjaga berwujud raksasa batuan magma yang perlahan menumbuhkan rasa iri terhadap keindahan ragam warna langit dan begitu luasnya lautan dibanding wilayah kekuasaannya yang gersang.
Berangkat dari ketidakpuasan tersebut, dia lalu mengobarkan perang besar yang mengguncang keseimbangan langit, darat dan lautan. Sebegitu dahsyatnya dampak dari pertempuran ini, hingga terjadi perubahan drastis dimana-mana. Daratan maha luas Erdemére drastis berkurang ditelan air bah yang menggelora akibat pertempuran antara Gigantes dengan Megalodon yang berwujud hiu berzirah. Bahkan Géantestrade yang dulunya menjulang menuding langit telah rata berkeping hancur.
Langit yang sedianya hanya dihuni pintalan awan dan hembusan angin abadi, kini penuh bongkahan besar daratan yang dilemparkan Gigantes sebagai pijakan saat bertarung melawan Aether. Lautan Tethys yang dulu tiada batas, secara perlahan membentuk dasar akibat endapan serpih demi serpih daratan yang dikikis oleh riak ombak dan hantaman ekor Megalodon.
Walaupun akhirnya Megalodon harus takluk di tangan Gigantes, dirinya telah berhasil menguras suplai energi lawannya yaitu tanah tempat berpijak dan gunung tempat dia bertahta sehingga kekalahan Gigantes hanya masalah waktu saja. Perang ini kemudian disebut oleh para pencatat sejarah sebagai Kekacauan Tujuh Hari.
Setelah ratusan abad lamanya kedamaian menyelimuti Al.Terra sepeninggal para entitas, segel pengekang Gigantes perlahan-lahan mulai melemah. Di beberapa tempat mulai bermunculan makhluk yang menyebut diri Schiavo yang ingin membebaskan tuan mereka untuk kembali menyebar teror di empat penjuru Al.Terra. Pada saat yang bersamaan, sang Grimoire yang merupakan kunci pembuka segel Gigantes mulai bersinar dan menghilang dari altarnya. Menghilangnya Grimoire diartikan oleh para pendeta altar sebagai pertanda bahwa Al.Terra sedang dalam bahaya dan artefak tersebut sedang mengembara untuk memanggil pahlawan dari dunia lain untuk menyelamatkan dunia mereka dari bencana ini.
Nataya langsung menggerutu saat menemukan halaman setelahnya kosong. "25 ribu melayang cuma buat cerita gantung semacam ini!? Hadeh, Ini sih sinopsis!" ucapnya mengatup kasar buku yang barusan dia baca, lalu melemparkannya ke bawah kolong tempat tidur sambil menggerutu.
Nataya yang sedang kesal mencoba memejamkan mata, tanpa mengetahui kalau buku yang barusan dia lempar tiba-tiba berayun terbuka tepat pada halaman kosong yang jadi sumber kekesalan pembacanya. Sederet kata mulai tergores cepat pada halaman kosong tersebut, deretan kata yang seketika ditelan oleh pendaran cahaya yang mulai benderang memenuhi ruang kamar. Hal yang selanjutnya terjadi, tubuh Nataya yang dibuat tertidur perlahan berpindah ke suatu tempat yang asing namun terasa familiar oleh ingatan alam bawah sadarnya. Layangan tubuhnya perlahan merendah dan kian merendah, hingga akhirnya kaki telanjangnya menjejak tanah yang tak rata dan sedikit liat. Sementara indera penciumannya menangkap bebauan yang diterjemahkan otak sebagai aroma hutan lebat usai hujan.
¤Tsuzuku¤
KAMU SEDANG MEMBACA
Al.Terra Chronicle : Archivar
RandomTerdampar ke dunia antah-berantah bisa dibilang hanyalah isapan jempol, khayalan konyol, imajinasi berlebihan bahkan hanya halusinasi. Namun, kala alam semesta menghendaki hal itu terjadi; apakah itu sebuah kekonyolan ataukah pertanda kalau kejadia...
