"Apa kau dalang semua ini?!" tuding Nataya dengan mata mengilat.
Mohon mahfumkan undangan tanpa sopan santun ini wahai makhluk fana. Namun ijinkan aku mengoreksi beberapa hal yang menjadi sumber tantrum-mu saat ini. Pertama, dirimu belum mati. Tubuh kasarmu saat ini tengah memulihkan diri dari luka dan yang kedua, makhluk perantara di hadapanmu ini hanyalah juru bicara dari sang Grimoire, dia lah yang punya kuasa untuk memanggilmu ke dunia ini.
"Persetan dengan kehendak sang Grimoire, cepat kembalikan aku ke tempat semula!"
Sayangnya itu mustahil, ingatkah kamu pada deretan kalimat terakhir dari buku bersampul tebal merah marun yang kau beli dariku?
"Sesuatu tentang sebuah artefak yang memanggil pahlawan dari dunia lain-" ada jeda sejenak sebelum Nataya melanjutkan. "..apa itu artinya akulah pahlawan dari dunia lain dan kini terdampar di dunia ini selamanya?!"
Itu kemungkinan terburuknya jika sang Grimoire tak juga mendapatkan kembali sumber sihirnya dan kebangkitan Gigantes terjadi..
"Itu tak terdengar bagus sama sekali..." Nataya menghela nafas sambil mengurut pelipis.
"Baiklah, bagaimana aku mengisi kembali energi sihir Grimoire?" putusnya kemudian.
Sebentuk buku bersampul tebal dengan warna familiar muncul begitu saja dalam kerjapan mata di hadapan Nataya. Wujudnya serupa dengan buku yang dibelinya namun tak ada secoret pun huruf tertoreh diatas sampul.
Di dunia ini, setiap aksara tergores mengandung sihir. Oleh karena itu, mengisi kembali halaman-halaman itu dengan aksara adalah satu-satunya cara agar dirimu bisa kembali.
"Itu menjelaskan kemana perginya aksara yang ada di dalam buku ini," Nataya mengucap disela sibakan halaman.
Lakukan pengembaraan dan biarkan Grimoire merekam kejadian penting kedalam deretan aksara.
"Semacam jurnal sihir?"
Kurang lebih demikian adanya dan dirimu sebagai manusia fana dari dunia lain yang dipilih oleh Grimoire untuk tugas ini dianguerahi gelar Archivar. Gelar yang memberimu kemampuan benama〘Learn〙yang nantinya berguna nantinya dalam pengembaraan-mu.
"Cukup adil.."
Sebentar lagi kau akan kembali ke alam sadar. Segala kebutuhan yang diperlukan dalam memulai petualangan ada di dalam satchel sihir.
Entakan serupa serangan kejut listrik menjalar di sekujur tubuh. Lalu satu per satu bisikan atau semacamnya memadati rongga kepala, menumpuk dan saling membatalkan. Kemudian pemikiran itu tergantikan serpih-serpih ingatan buram yang lupa pernah dimiliki dan mengakhiri parade ingatan ini ialah seberkas cahaya memaksa masuk ke pelupuk yang masih lekat terpejam akibat jiwa kembara yang belum sepenuhnya kembali.
"Selamat datang kembali Nataya Anggasta.." bisiknya setelah pencar kesadaran telah sempurna untuk bisa membuka mata.
Dirinya masih terbaring di tempat yang sama ketika tersungkur tadi, hanya saja luka yang membebani raga sudah tak lagi dia rasakan dibalik piyama yang telah koyak disana-sini akibat kena cakar dan noda darah.
"Gembel amat jadinya ini.." gelak Nataya lalu memposisikan diri untuk duduk bersila dan disanalah benda itu, benda yang disebut oleh sang makhluk perantara sebagai 'satchel sihir' tergeletak sejarak uluran tangan.
Tangannya merogoh spontan isi tas itu, di dalamnya tentu saja buku yang dia lihat di alam bawah sadarnya, pakaian ganti, sepatu boot dan sebuah Baselard, sejenis belati yang sangat populer pada abad pertengahan. Diraihnya benda itu dan mencabutnya dari sarungan, sederet aksara kuno tergores di sepanjang bilah. Entah apa efek yang ditimbulkannya itu urusan belakangan, yang jelas dirinya tak kerepotan lagi untuk pertahankan diri saat bertualang nanti.
"Yosh, nanti saja menyesuaikan diri dengan bobotnya," ucap Nataya menyarungkan kembali belati itu kemudian menyisipkannya ke sisi kiri sabuk.
Setelah memakai semua atribut yang ada, Nataya menarik keluar buku dari satchel yang kini berada dalam sampiran pinggang bagian kanan. Dirinya penasaran apakah kisah kedatangannya telah tertulis di halaman buku ini. Benar adanya, kisah itu kini telah tergores rapi di beberapa halamannya. Dari situ Nataya mengetahui beberapa hal tentang dunia ini, tentang makhluk yang memanggilnya manusia fana, serigala besar yang menyerang dirinya dan hutan tempat dirinya berada saat ini.
Puas dengan apa yang tertulis di buku itu?
Sela sebuah suara yang mulai akrab di telinganya dan berasal dari arah belakang punggungnya.
"Kupikir kau hanya akan berada di ruang bawah sadarku saja!"
Itu benar tapi tak sepenuhnya, diriku akan menemani dalam wujud tak kasat mata sebagai pemandu..
"Tidak masalah bagiku, toh aku masih buta dengan dunia ini.."
Sebagai awal, tak jauh dari hutan ini ada sebuah pemukiman petualang. Kita akan kesana untuk pertukaran bahan baku dan informasi..
"Pertukaran? Aku tak punya apa-apa untuk ditukar.."
Nantinya akan ada, karena hutan ini penuh bahan baku yang menunggu untuk dikumpulkan..
"Baiklah, ayo lakukan.."
¤Tsuzuku¤
KAMU SEDANG MEMBACA
Al.Terra Chronicle : Archivar
DiversosTerdampar ke dunia antah-berantah bisa dibilang hanyalah isapan jempol, khayalan konyol, imajinasi berlebihan bahkan hanya halusinasi. Namun, kala alam semesta menghendaki hal itu terjadi; apakah itu sebuah kekonyolan ataukah pertanda kalau kejadia...
