Kau terlalu takut pada kisah-kisah lampau
Di sepanjang jalan sepi
Keluhanmu merongrong
Seiring dengan knalpot motorku yang bising.
Di sepanjang jalan sepi
Kau begitu khusuk bercerita pada punggungku
Sementara aku sibuk
Memutar-mutar spion mencari arah wajahmu
Ketakutan tampak jelas lahir dari matamu
Seperti bayi rusa yang belum sempat mengenal ibu
Kau hafal betul luka-luka lama
Yang pernah dinyanyikan kekasihmu
Kau lantunkan padaku.
Asap knalpot kendaraan mengepul memenuhi mulutmu
Kau tak benar-benar peduli
Masih saja sibuk merengut
Kau begitu takut
Dengan hari-hari
Yang bahkan belum pernah kita jamah sekalipun.
'Brengsek laki-laki mu itu.' kataku
'Kenapa?'
'Belum selesai aku mencintaimu, karena ulahnya, bertambah satu lagi tugasku-- menenangkanmu.'
KAMU SEDANG MEMBACA
PUISIKOPAT
PoesíaTak pernah cukup kata-kata untuk mencintaimu, biar puisiku saja yang memilikimu lebih dari kenyataan. PEREMPUAN, CINTA DAN LUKA (KUMPULAN PUISI)
