Desau dedaunan membisikkan namamu
Di dalam rimba pada kaki-kaki gunung
Juga hembusan angin malam yang membawamu pulang kembali
Ke dalam puisi ini
Tepat sebaris sebelum sajak sepi
Huruf-hurufku mengeja namamu
Satu-persatu
Embun pagi membisikkan namamu
Menggigil karena dirinya sendiri
Deru nafas yang tersengal adalah nyanyian rindu yang pernah kau lantunkan
Pada tebing-tebing curam
Juga pada kabut yang menyelimuti para pendaki
Kisah kita tetap hidup dalam tubuh-tubuh yang dirasuki musim dingin abadi
Bukit-bukit membisikkan namamu
Pada bebatuan yang mati ribuan tahun silam
Juga pada tugu-tugu
Yang hanya menyisakan kenangan
Kau dan aku adalah sesuatu yang tak pernah kembali
Seperti jasad yang tersesat
padam bersama kisahnya sendiri
KAMU SEDANG MEMBACA
PUISIKOPAT
PoezjaTak pernah cukup kata-kata untuk mencintaimu, biar puisiku saja yang memilikimu lebih dari kenyataan. PEREMPUAN, CINTA DAN LUKA (KUMPULAN PUISI)
