"Kapan-kapan bawa aku ke tempat favoritmu ya!" katamu waktu itu.
"Nanti kita tunggu sore, mudah-mudahan awan nggak lagi usil nutupin sunset. kalaupun mendung, juga tak apa, kita tunggu saja sampai malam. Kalau awannya masih iseng nutupin bintang, sudah keterlaluan sekali Tuhan. Nanti di sana kita bawa makanan yang banyak. kita beli beer kecil, yang kalengan itu, terus kita tuang ke gelas. sama Oreo, nanti dikoyak dulu bungkusnya, baru kita makan sama-sama." masih dengan semangat yang sama kamu bercerita.
"kenapa Oreo?" tanyaku
"Ya....aku masih penasaran, gimana rasanya Oreo dicelupin beer. tapi aku nggak suka selainya, jadi aku makan wafernya saja, biar pahit dicampur pahit, pasti enak." Kamu tak pernah berubah, selalu sedetail itu.
"Jadi kapan kita ke sana? ke tempat favoritmu?" kamu masih belum berhenti, masih cerewet. Persis seperti anak kecil yang dijanjikan ibunya untuk dibelikan mainan, dan langsung akan menagih saat itu juga.
"Yaaa sekarang...tempatnya di sini, di sebelahmu." kataku, dan kamu tersipu juga tertawa geli.
Mulut besarmu terdiam, karena sudah dipenuhi dengan senyum-senyum kecil yang malu. pipimu memerah,
tapi aku suka
dan aku selalu suka
aku dan kamu
tak pernah berubah
tapi kita--
Akankah selalu sama?
KAMU SEDANG MEMBACA
PUISIKOPAT
PoesíaTak pernah cukup kata-kata untuk mencintaimu, biar puisiku saja yang memilikimu lebih dari kenyataan. PEREMPUAN, CINTA DAN LUKA (KUMPULAN PUISI)
