Waktu saya kecil, waktu saya belia dan belum tahu apa-apa.
ibu sering berkata
"kau hidup harus punya cita-cita, nak."
Sedangkan waktu itu arti cita-cita saja saya belum tahu.
Lalu ketika pertama kali saya masuk sekolah, ketika saya sudah tahu apa itu cita-cita, ibu bertanya "mau jadi apa kalau kau sudah besar?"
Dengan suara lantang saya menjawab "mau jadi seperti ayah, bu."
Ibu tertawa "kau kalau mau bercita-cita...mbok ya yang baik-baik saja, yang bisa dibanggakan."
"Ya sudah, saya mau jadi presiden saja, bu." Jawab saya heran kenapa ibu tak pernah bangga memiliki ayah yang jelas-jelas sudah terbukti berhasil menghasilkan saya.
Lulus sekolah, masuk kuliah.
Sekarang dunia tak lagi sama, tapi tidak dengan ibu saya.
Umur yang sepuh sekalipun tak mampu menghilangkan cerewetnya.
Ibu tak kunjung berhenti bertanya. "Kapan kau wisuda?"
Ibu mungkin tak tahu, kalau wisuda hanyalah formalitas, dan kuliah adalah topeng, agar kita tak terlalu dianggap bodoh-bodoh amat ketika menjadi pengangguran.
Tapi suatu saat nanti saya yakin ibu akan mengerti, bahwa sarjana adalah kata lain dari pengangguran yang berkelas.
Selepas wisuda, ibu masih sama, masih suka marah-marah "kerja sana! beli beras pake rupiah!"
"oke, bu. Mulai sekarang saya diet nasi saja." Jawab saya.
"Nak, kalau terus-terusan bodoh begini, kau takkan pernah menjadi presiden, kau lebih cocok jadi menteri saja."
KAMU SEDANG MEMBACA
PUISIKOPAT
PoetryTak pernah cukup kata-kata untuk mencintaimu, biar puisiku saja yang memilikimu lebih dari kenyataan. PEREMPUAN, CINTA DAN LUKA (KUMPULAN PUISI)
