04. Suara Misterius

6.7K 216 2
                                        

Dari ruang tengah, aku melangkah ke sisi kanan unit apartemen ini.
.
Gelap.
.
Sunyi.
.
Lampu utama semuanya mati. Mungkin karena masih sore. Sambil mencari kamarkx, mataku menelisik ke sekeliling.
.
Sejak pertama menginjakkan kaki di gedung tiga puluh lantai ini,  hanya dengan melihat sekilas saja aku sudah tahu apartemen ini merupakan hunian berkelas high end. Menurut berita yang kudengar paling murah harga sewanya 25 juta per bulan. Entah berapa harga belinya.
.
Aku menduga apartemen  milik Pak Bram ini merupakan tipe Royal Suite, tipe yang paling mahal setelah Grand Prime. Fasilitasnya lengkap, interiornya mewah dan berkelas luasnya mungkin sekitar 150 meter persegi, punya tiga kamar utama dan ... kamar pembantu, kamarku.
.
Ya, aku sudah menemukan kamarku sekarag.
.
Hah, sesak sekali dada ini begitu menyebut kata 'pembantu'. Rasanya aku masih tidak bisa terima dengan pekerjaan ini. Lalu apa gunanya sekolah tinggi? Apa gunanya kecerdasan maksimal yang kumiliki kalau ujung-ujungnya aku cuma jadi pembantu? Sungguh menyedihkan diriku ini!
.
Sedikit-banyak aku tahu informasi itu karena bebeberapa temanku menjadi pengacara top dan mereka tinggal di kelas yang sama, high end. Dalam hati aku tertawa penuh ironi. Tidak apa-apa, aku juga tinggal di apartemen kelas atas sekarang.
.
'Pembantuku'.
.
Apa?! Aku nyaris berteriak kencang kalau tidak langsung membungkam mulut. Begitu aku menoleh, tulisan itu terpampang nyata pada sebuah papan kayu persegi panjang yang digantungkan di sebuah pintu ruangan yang kuyakini adalah kamarku.

Kukira Pak Bram akan menuliskan namaku di papan kayu itu, ternyata ... huh! Menyebalkan!
.
Ketika akan membuka pintunya, tiba-tiba aku mendengar suara tangisan seorang wanita. Dari mana suara itu? Sangat pelan, jadi aku tidak begitu yakin asal usul suara itu. Mungkin suara itu berasal dari apartemen sebelah. Aku tak ingin peduli dan masuk ke kamarku.

-oOo-

Malam pun tiba. Jam baru menunjukkan pukul 18.30. Begitu sampai di ruang makan, Pak Bram sudah duduk di ujung meja sambil membaca sebuah buku.
.
Dia ... membaca? Dengan cahaya temaram begini?
.
Sungguh mengejutkan Pak Bram tetap tak menyalakan lampu utama di setiap ruangan apartemennya. Sayang sekali, padahal lampu gantung kristalnya sangat bagus. Dia hanya mengandalkan satu atau dua buah stand lamp di sudut ruangan untuk menerangi aktivitasnya.
.
"Maaf, Pak, lampunya-"
.
"Saya lebih suka begini, jangan protes," dia menyahut datar seperti biasa, dan tanpa menoleh padaku. Belum apa-apa dia sudah menyambar kalimatku.
.
Oh, dia benar-benar vampir yang suka hidup di kegelapan.
.
Dasar aneh. Ternyata ada juga manusia yang suka gelap-gelapan seperti ini.
.
Jujur saja, aku merasa was-was dengan keadaan yang remang-remang begini, apalagi aku hanya tinggal berdua saja di sini. Pak Bram yang mengaku tinggal sendirian bisa berbuat apa saja padaku, sementara aku tidak bisa keluar-masuk secara bebas karena enam lapis pengaman tempat ini yang berada dalam kendali penuh sang pemilik dengan akses kartu dan password.
.
"Sudah jam berapa sekarang?" Aku tidak mengerti kenapa tiba-tiba dia bertanya begitu.
.
"A-apa, Pak?" Entah kenapa pria ini selalu membuatku gugup dan jantungku berpacu lebih cepat dari biasanya.
.
"Kamu tidak dengar perkataan saya?" ucapnya dengan sarkastik. Tangannya bergerak membalik halaman buku berikutnya.

"Dengar, Pak." Buru-buru aku melirik ke arah jam dinding. "Jam tujuh kurang lima, Pak."

"Sepertinya waktu santaimu sudah terlalu panjang sampai meja makan pun masih kosong."
.
Meski diucapkan  dengan nada suara yang datar, sindiran itu sangat menusuk jiwa ragaku. Sayang posisiku di sini membuatku harus selalu mengalah. "I-iya, Pak. Saya mengerti."

Pembantu Jadi Cinta (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang