End : Nikah, Yuk!

7K 203 14
                                        

Ketika hari menjelang malam, Kak Bram memintaku membelikannya makanan. Tidak di restoran ayam receh tentunya, melainkan salah satu restoran mewah yang lokasinya lumayan jauh dari apartemen. Dia bilang itu restoran favoritnya saat jam makan siang bersama rekan bisnisnya.

Aku heran, kenapa juga harus memilih restoran yang jauh? Seperti tidak ada tempat lain saja, padahal di kompleks apartemen banyak restoran mewah, makanan di sana juga tidak kalah enak. Tapi ... terserah sajalah, pria itu memang banyak maunya.

Uh, padahal aku berharap bisa makan malam bersama Kak Bram. Bukan masalah tempat sebenarnya, asal bersamanya, di mana pun aku juga mau. Kami makan dan minum bersama, tertawa bersama, pasti sangat menyenangkan. Aku merindukan sikap konyolnya.

Ah, apa yang kupikirkan! Aku sudah terlalu banyak berkhayal tentangnya!

Aku sebal. Seharian ini Kak Bram mengabaikanku. Kerjaannya hanya duduk manis di sofa ruang tengah sambil melototi layar laptopnya, terkadang dia juga tak bosan-bosannya meneliti setiap dokumen yang dia tumpuk di atas meja. Aku yang hanya melihat saja merasa jenuh. Memang ada berapa banyak laporan yang harus dia buat? Sekalinya bicara, paling dia hanya menyuruhku ini-itu, entah minta dibuatkan teh, kopi, atau camilan lainnya.

Hello? Aku juga mau diperhatikan, keles. Oke, aku memang pembantunya, dan dia pun memberiku gaji. Ah, tidak, dia bilang hadiah dan bukan gaji, terserah saja dia mau bilang apa. Sungguh menyebalkan! Sebenarnya dia anggap aku pacar sungguhan atau tidak, sih?

Tapi ...

Mungkinkah dia memang sengaja mendiamkanku? Kemarin-kemarin, meskipun sibuk dia masih sempat mengobrol denganku. Kenapa hari ini tidak? Aku sempat berpikir, bisa jadi dia marah karena aku tidak menjawab pertanyaannya tadi pagi. Aku sangat menyadari itu, karena untuk ke sekian kalinya aku menolak lamaran tersirat Kak Bram. Apakah dia benar-benar akan membawaku ke Singapura? Tinggal selamanya di sana? Tidak, aku masih harus memikirkannya baik-baik. Bagaimana pun juga dia sudah jadi Warga Negara Singapura, kalau jadi istrinya sudah pasti aku juga harus mengikuti jejaknya. Sudah dipastikan pula aku tidak akan bisa leluasa lagi menjenguk makam orang tuaku di Jogjakarta.

Aku mendesah pelan. Perjalanan pulang-pergi dari restoran itu tetap terasa melelahkan sekalipun sudah menumpang taksi online. Ya, mana mungkin Kak Bram membiarkanku pergi sendirian naik ojek malam-malam begini. Belum lagi jalanan macet. Suara klakson berbagai macam kendaraan terdengar dari penjuru arah. Wajar saja, para pengemudinya pasti meronta minta diberi jalan. Mau bagaimana lagi? Kemacetan memang tidak bisa diprediksi kapan datang, padahal jalanan sudah selebar ini.

Ulala, sepertinya harus sabar tingkat Dewa, deh!

"Pak, apa tidak bisa lewat jalan lain saja?" tanyaku pada sopir. Aku sudah sangat bosan dengan jalanan padat merayap begini. Entah ada gerangan apa, bukannya ini sudah lewat dari jam pulang kantor? Makanan yang kubawa keburu dingin kalau terus seperti ini.

"Maaf, Mbak. Saya bukan orang sini, jadi tidak tahu daerah sekitar sini," pria setengah baya itu menjawab santun.

Yaelah, ada-ada saja. Aku juga tidak paham dengan daerah ini, apalagi jaraknya cukup jauh dengan apartemen Kak Bram. Perjalananku hanya mengandalkan Google Map. Aku terus menggerutu di dalam hati. Ah, coba kalau ada Kak Bram di sini, mau macet sampai berapa lama pun tidak akan jadi masalah.

Lagi-lagi, aku hanya bisa mengembuskan napas pelan, menyandarkan punggung ke belakang kursi sambil melipat kedua tangan di depan dada. Mendadak pikiranku melayang memikirkan pacarku yang selalu sok kegantengan itu. Kira-kira ... apa yang Kak Bram lakukan sekarang, ya? Apa dia masih sibuk dengan pekerjaannya?

Tiba-tiba dering ponsel mengejutkanku, pertanda ada panggilan masuk. Siapa yang menelepon malam-malam begini? Tidak tahu waktu!Mengganggu saja! Dengan malas aku merogoh isi tas dan mengambil ponsel lima inchiku di sana.

Pembantu Jadi Cinta (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang