Jam 8.05.
.
Setelah mandi dan membersihkan kamarku, aku langsung pergi ke dapur hendak menyiapkan teh pagi untuk Pak Bram. Sebenarnya aku juga ingin memasak untuk sarapan, tapi aku takut Pak Bram tidak cocok dengan masakanku seperti semalam.
.
"Ini, Pak, tehnya." Aku meletakkan secangkir teh ke meja ruang tengah tepat di hadapan pria itu.
.
Pak Bram tidak memedulikan kehadiranku, tetap duduk santai sambil asyik membaca koran yang menutupi wajahnya. Tanpa sadar aku jadi memperhatikannya.
.
Sebenarnya pria ini siapa? Kenapa sekarang aku malah jadi pembantu pria ini dan bukannya Pak Tugiyo? Pertanyaan itu kembali terngiang di kepalaku. Ke mana perginya tua renta itu? Sampai detik ini aku masih belum juga mendapatkan informasi itu.
.
Oh ya, bukankah ini hari Selasa, kenapa dia masih duduk santai di sini? Apa dia tidak kerja? Mendadak aku jadi penasaran, apa pekerjaan Pak Bram sampai bisa punya apartemen mewah seperti ini.
.
Kukira semua orang kaya selalu sibuk dengan urusannya sendiri dan menghabiskan waktu di kantor. Bisnis dan uang selalu jadi prioritas mereka. Tapi bagaimana dengan Pak Bram? Sekarang bahkan sudah lewat jam masuk kantor. Kemarin siang saat aku datang kemari pun dia juga tampak santai seperti bukan orang kantoran, atau mungkin dia memang bukan orang kantoran.
.
Lamunanku seketika lenyap saat Pak Bram tiba-tiba saja menurunkan korannya, atensinya langsung tertuju pada secangkir teh yang tergeletak di atas meja sebelum akhirnya menatapku.
.
"Saya tidak minum teh di pagi hari," suara beratnya terdengar datar seperti biasa. Tanpa menunggu responsku terlebih dahulu dia kembali mengangkat koran. Tangannya bergerak membalik halaman berikutnya. "Lagian saya juga tidak suruh kamu buat teh," lanjutnya dengan nada tak peduli.
.
Huh, sebal! Ekspresi dinginnya itu membuatku muak. Sekilas aku bisa melihat tatapannya yang tak berselera ketika menatap teh yang kubuat. Memang apa, sih, masalahnya? Kenapa dia tidak mau minum teh di pagi hari? Bukannya ini sudah jadi kebiasaan umum untuk semua kalangan masyarakat?
.
"Maaf, Pak, saya tidak tahu kalau Bapak tidak minum teh di pagi hari." Ya jelas saja aku ini tidak tahu apa-apa. Pak Bram seakan-akan ingin aku bekerja dengan sempurna, mengerti semua yang dia mau, tapi dia sendiri tidak pernah menjelaskan apa-apa saja yang boleh dan tidak boleh kulakukan. Sayangnya aku hanya bisa mengumpat sebal dalam hati!
.
Dengan kekesalan yang tertahan, aku mengambil cangkir teh itu hendak membawanya ke dapur. Kalau tidak mau, ya, sudah, akan kuminum sendiri saja tehnya!
.
"Mau dibawa ke mana tehnya?"
.
Aku baru berjalan beberapa langkah ketika suara Pak Bram kembali menggema di telingaku. Aku segera berbalik ke arahnya. "Mau saya bawa ke dapur, Pak."
.
"Memangnya saya suruh kamu bawa tehnya ke dapur?" kata-kata datarnya bagaikan sindiran bagiku. Ya, dia memang tidak mengatakannya secara langsung. Tapi perkataannya tadi memberi isyarat padaku begitu.
.
"Bawa tehnya ke sini."
.
"Iya, Pak." Meski kesal aku kembali meletakkan cangkir teh yang kubawa ke atas meja. Ck, dasar plin-plan! Apa-apaan, sih, orang ini? Bukannya tadi bilang tidak mau minum?!
.
"Buatkan saya roti panggang. Sekarang," pintanya tanpa menoleh padaku. Kali ini dia terlihat sibuk dengan laptopnya di atas meja.
.
Rasa kesal jadi semakin menyelimutiku. Bagaimana tidak? Dari awal aku datang sampai sekarang, dia hampir tidak pernah menatapku. Aku seringkali mendapati Pak Bram menghindari kontak mata denganku. Kenapa dia selalu melakukannya? Apa aku ini buruk rupa? Sebagai seorang psikolog yang tertunda, aku jadi agak susah membaca ekspresi Pak Bram karena dia tidak mau menatapku.
.
"Baik, Pak," mau tidak mau aku harus berucap sopan padanya. Kalau aku bukan pembantumu, sudah kusiram wajah tampanmu pakai air teh ini. Dasar tukang suruh-suruh! Banyak maunya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembantu Jadi Cinta (Terbit)
RomanceREADY STOCK @90k Untuk pemesanan bisa WA : 085877790464 Cover : @marudesign Genre : romance-horror Siapa bilang pembantu itu tidak berpendidikan. Tidak semuanya begitu, dan tidak semua pembantu punya kelas rendahan. Aku misalnya. Kini aku...
