26. Pacarku yang Sok Kegantengan

4.2K 153 6
                                        

"Kak, jangan ngebut-ngebut, dong, nyetirnya. Tempatnya, kan, dekat," protesku.

"Sudahlah, tenang saja."

Dia tidak memedulikan perkataanku dan tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan nyaris mencapai seratus kilometer per jam. Jalanan memang tidak terlalu ramai karena ini hari Jumat, masih hari kerja dan orang-orang belum pulang kantor karena jam masih menunjukkan pukul 14.30 sore. Lagipula, kenapa juga harus buru-buru? Kupikir dia akan memperlambat perjalanan kami karena ingin lebih lama berduaan denganku. Tapi, sepertinya dia tipe pria yang sulit ditebak, tidak seperti kebanyakan pria yang sering kutemui.

"Kejar waktu, biar tidak terlalu sore." Jawabannya cukup mengejutkan, dia bicara begitu seolah baru saja membaca pikiranku.

Ya sudah, terserah apa maunya saja. Sebenarnya aku juga tidak terlalu takut dengan kecepatan tinggi, malah sudah biasa. Dulu Aditya juga sudah sering kebut-kebutan begini. Kakak-adik pasti tidak jauh berbeda.

Baru saja hendak bersantai dan menikmati perjalanan, tiba-tiba saja aku melihat tanda lalu lintas yang membuatku seketika panik, tapi tampaknya Kak Bram tidak menyadari hal itu. "Kak, kita salah jalur!"

"Oh, benarkah?"

"Memangnya kamu tidak lihat tanda di ujung lampu lalu lintas tadi? Jalan ini, kan, satu arah?"

"Apa? Satu arah?"

Prrriiittt! Prrriiittt!

OMG, matilah sudah! Niat mau kencan malah ketilang polisi! Ya, sudah pasti bunyi peluit itu dari polisi yang mengejar kami. Tadi aku memang sempat melihat rombongan polisi yang sedang berjaga di sudut perempatan lalu lintas sebelum melintasi jalanan ini.

"Kak, cepat hentikan mobilnya! Di belakang kita ada polisi!" teriakku panik.

Tanpa pikir panjang dia langsung menginjak rem, membuat tubuh kami langsung terhuyung ke depan, untung pakai sabuk pengaman.

Yaelah, pikir-pikir dulu, dong, kalau mau injak rem! Aku terus mengumpat kesal di dalam hati.

Dia putar arah dan menghentikan laju mobil di sisi trotoar. Bagus sekali! Mobil kami pun jadi sorot perhatian semua pengendara yang lewat.

Astaga, mau bersenang-senang saja pakai ada masalah segala!

Tok ... tok ...

Seorang polisi mengetuk jendela di sisi Kak Bram. Pria setengah baya itu langsung memborong berbagai pertanyaan yang intinya menyalahkan Kak Bram karena dianggap telah melanggar tata tertib lalu lintas.

"Apakah Anda tahu kalau jalanan ini hanya berlaku untuk satu arah?"

"Ah, ya, maaf saya tidak tahu, Pak."

"Kenapa bisa tidak tahu? Tidak lihat petunjuk jalan?

"Ya, soalnya saya orang baru di sini, Pak."

"Pakai kebut-kebutan lagi. Anda seharusnya tahu, perilaku Anda bisa membahayakan diri Anda sendiri dan juga orang lain," kali ini polisi satunya yang bicara.

"Maaf, Pak, tapi saya buru-buru." Mendadak nada suara Kak Bram terdengar panik, entah kenapa. "Istri saya sakit parah, Pak. Saya harus segera membawanya ke rumah sakit."

Oh, tidak! Dia bilang apa tadi? Istri? Sedang sakit? Siapa yang dia maksud? Kenapa tiba-tiba dia harus bicara begitu? Perasaanku jadi tidak enak.

Kak Bram menoleh padaku, memberi isyarat dengan kedipan matanya. Di saat yang bersamaan, dua orang polisi yang menginterogasi kami menunduk, pandangan mereka sama-sama tertuju padaku.

Pembantu Jadi Cinta (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang