Aura dingin masih sangat-sangat kentara di keseluruhan ruangan. Mendadak rasa bersalah menyelimuti perasaanku. Harusnya aku pura-pura tidak dengar dan tidak menanyakan tentang Santi. Tahu akan begini, seharusnya aku tetap bersikap polos dan patuh pada Pak Bram. Mungkin dengan begitu semua akan baik-baik saja dan Pak Bram tidak akan berubah kaku seperti robot begini.
Pria itu masih saja diam terpaku di tempatnya dengan wajah muram. Apakah mood-nya berubah sedrastis itu hanya karena aku menyebut nama Santi?
Aku jadi semakin penasaran dengan sosok Santi. Apa hubungan Santi dengan Pak Bram? Apakah tadi Pak Bram sengaja menarikku sampai jatuh ke pelukannya karena dia mengira aku ini Santi?
"Lain kali, jangan masuk ke kamar saya lagi," nada suaranya pun benar-benar kembali dingin, persis sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya.
"Saya sungguh minta maaf, Pak. Saya—"
"Tidak perlu minta maaf. Mungkin seharusnya saya tidak terlalu membuka diri ke kamu, menceritakan semuanya dan membiarkan kamu masuk ke kamar saya."
Mendengar dia bicara begitu, hatiku seketika menciut. Pak Bram bahkan belum menceritakan semuanya secara detail kehidupan pribadinya, tapi entah mengapa dia seperti sangat terpukul karena telah menceritakan beberapa hal padaku. Apakah sesulit itu bagi dirinya untuk membuka diri pada orang lain? Kenapa dia harus menyesalinya? Apa karena statusku hanya sebagai pembantu di sini?
Padahal baru beberapa jam yang lalu dia akhirnya mau menatapku lebih lama, melihat tawanya, mendengar lebih banyak cerita darinya, peraturan konyol yang dia berikan, juga tingkah kekanakan yang sungguh di luar ekspektasiku sebelumnya. Aku memang sempat muak karena sikapnya itu, tapi aku tidak mempermasalahkannya, justru aku sangat terhibur dengan sikapnya yang begitu.
Dan sekarang ...
Ketika suasana justru sangat berbanding terbalik dari beberapa jam lalu, rasanya aku benar-benar ingin mengulang waktu. Saat-saat seperti ini sungguh menyakiti perasaanku. Membuat kedua mataku langsung memanas, bahkan nyaris menampung air, tapi akku berusaha agar tidak menangis.
Belum sempat aku menanggapi, Pak Bram sudah terlanjur bangkit berdiri. Aku terkesiap dengan tingkahnya. Apakah dia akan pergi begitu saja? Dia bahkan baru makan sedikit saja, dan itu makanan favoritnya.
"Saya akan memanggil cleaning service untuk membersihkan pecahan kaca itu."
"Tidak perlu, Pak, saya bisa membersihkannya." Tanpa menunggu komando terlebih dahulu aku langsung berbalik mendekati pecahan kaca yang berserakan di lantai tak jauh dari tempat cuci piring. Air mata yang sudah tak tertahan lagi pun berjatuhan mengiringi setiap langkahku. Cepat-cepat aku menghapusnya. Pak Bram tidak boleh tahu aku menangis karenanya. Yah, entah mengapa perubahan sikap Pak Bram yang kembali memburuk terasa lebih menyakitkan dibandingkan saat aku melihat Aditya bersama Kismaya tadi siang.
"Rany!" Dia tidak membentak meski ada sedikit penekanan pada nada suaranya.
Aku tahu Pak Bram tidak suka dibantah, tapi aku memutuskan tetap melangkah. Bagiku membersihkan pecahan kaca itu pekerjaan sepele. Kenapa harus memanggil cleaning service segala? Aku mengambil sapu dan serok kecil, berjongkok dan mulai memunguti pecahan kaca itu satu per satu sambil sesekali melirik ke arah Pak Bram. Pria itu tampaknya tidak ingin peduli dan sudah beranjak pergi menjauhi meja makan.
Dia benar-benar pergi. Meski begitu pandanganku masih tidak bisa berpaling dan mengikuti setiap langkahnya. Tapi ...
Aw!
Spontan aku berteriak kesakitan. Saat sedang menyapu serpihan kaca, tanpa sengaja telunjuk kananku tergores pecahan gelas yang ukurannya cukup besar. Darah merah seketika membentuk garis tebal di sepanjang telunjukku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembantu Jadi Cinta (Terbit)
RomanceREADY STOCK @90k Untuk pemesanan bisa WA : 085877790464 Cover : @marudesign Genre : romance-horror Siapa bilang pembantu itu tidak berpendidikan. Tidak semuanya begitu, dan tidak semua pembantu punya kelas rendahan. Aku misalnya. Kini aku...
