BAGIAN II
"Lalu siapa itu Pak Tugiyo?" aku kembali melanjutkan pertanyaan.
"Memangnya harus membahas kakek tua itu juga?" Dia pura-pura tak peduli. Tanpa kuduga tangannya bergerak meraih stoples kecil di tengah meja, membuka tutupnya, mengamati isinya sekilas. "Apa ini?" Tanpa basa-basi dia langsung memakan camilan di dalamnya.
Aku menoleh ke arahnya, mataku langsung terbelalak saat tahu ternyata stoples milikku yang diambil olehnya.
OMG! Itu cokelat kacangku!
Kukira tadi dia hendak mengambil stoples di sebelahnya, tapi ternyata tidak. Dia justru mengambil camilan yang kubuat dengan susah payah ketika dia pergi menemui kliennya tadi pagi. Ah, seharusnya aku menyimpannya di kamarku!
"Pak Bram jangan dimakan! Itu cokelat kacang punya saya!" karena lumayan terkejut aku jadi sedikit membentak.
"Ada apa, sih? Kamu ini ribut sekali," dia justru berkomentar santai dan kembali memakan cokelat kacang berbentuk hati di tangannya. "Enak juga, ya."
"Ya, tentu saja, karena dibuat dengan cinta!" ucapku tak terima.
"Oh, jadi kamu yang buat? Pasti untuk saya, ya?"
"Bukan!" dengan cepat aku langsung menyangkal.
Tentu saja itu untuk Aditya. Besok dia ulang tahun. Aku ingin membuatkan sesuatu yang spesial untuknya, seperti saat kami bersama dulu. Aku tidak peduli dengan Kismaya. Lagipula, Aditya lebih mencintaiku, bukan? Aku bisa saja menghubunginya dan datang ke rumahnya secara langsung.
"Hm, saya mengerti sekarang. Untuk pacar kamu?" tanyanya menebak-nebak.
Aku memilih diam dan memalingkan wajah.
"Yah, pasti itu benar. Pantas saja kamu menolak saya mentah-mentah, ternyata sudah ada pria lain."
Aku beralih menatapnya lagi. "Tidak, Pak, bukan begitu," nada suaraku kembali rendah, sadar jika tidak seharusnya membentak majikanku yang baik hati itu.
Ah, entah kenapa aku jadi merasa tidak enak hati karena sudah ketahuan,, ada pria lain di hatiku saat ini.
"Meski begitu, kamu membuat camilan ini pakai uang saya, kan?"
"A-apa?!" Astaga, aku benar-benar tidak menyangka dia akan mengungkit masalah uang pemberiannya waktu itu. "Kalau iya, memang kenapa? Bapak pasti tidak ikhlas memberikan uang pada saya waktu itu."
"Karena ini dibuat pakai uang saya, jadi saya berhak juga, dong, makan cokelat kacangmu ini."
Kupikir dia akan marah atau mungkin mengumpat kesal setelah tahu aku memiliki pria idaman lain. Tapi ternyata ... tanpa dosa pria tak tahu malu itu mengambil camilan itu dan memakannya lagi.
"Memangnya Bapak tidak kenyang, sudah makan ayam sebesar itu?"
"Saya memang harus banyak makan."
"Kenapa? Ada program penggemukan?"
Agak disayangkan kalau dia mau menggemukkan badan sebenarnya. Menurutku dia sudah perfect dengan dirinya yang sekarang.
"Berada di dekat kamu selalu menguras banyak energi saya."
Jawabannya membuatku tercenung seketika. Tidak, aku tidak boleh terbawa perasaan hanya gara-gara kalimat semacam itu.
"Saya perhatikan Bapak ini hobi makan, ya, sepertinya." Aku mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Mulai memperhatikan saya rupanya." Senyumnya mengembang dengan sorot mata berbinar ketika menatapku.
Sikapnya yang hangat membuatku tertegun. Dia selalu terlihat tulus, dan seringkali hal itu menepis segala keraguanku terhadapnya. Bisa jadi dia memang benar-benar tertarik padaku dan dia juga serius ingin menjaling hubungan denganku.
KAMU SEDANG MEMBACA
Pembantu Jadi Cinta (Terbit)
RomansaREADY STOCK @90k Untuk pemesanan bisa WA : 085877790464 Cover : @marudesign Genre : romance-horror Siapa bilang pembantu itu tidak berpendidikan. Tidak semuanya begitu, dan tidak semua pembantu punya kelas rendahan. Aku misalnya. Kini aku...
