25. Kencan Pertama

4.4K 161 9
                                        

Aku melangkah keluar dari apartemen Pak Bram setelah memastikan tidak ada yang kurang dengan penampilanku. Aku menyempatkan diri menelisik ke sekitar. Ya Tuhan, kenapa selama dua minggu tinggal di sini aku tidak pernah sadar jika lantai enam ini begitu sepi? Orang-orang paling hanya sekadar lewat, tidak ada perbincangan, suara yang kudengar hanya lift yang naik-turun setiap menitnya.

Benarkah semua unit apartemen di lantai ini kosong? Mengingat fakta yang pernah dikatakan Pak Bram, aku jadi merinding sendiri. Aku juga baru sadar perjalananku menuju lift kali ini hanya ditemani suara langkahku sendiri yang menggema di mana-mana.

Aku berhenti tepat di depan lift. Tiba-tiba rasa takut menguasaiku. Biasanya aku tidak pernah begini, langsung masuk, tak peduli meskipun hanya sendirian saja di dalam sana. Tapi kali ini, aku tidak bisa biasa-biasa saja. Bisa jadi sekarang aku hanya sendirian saja di lantai enam ini. Bagaimana kalau Santi kembali muncul?

Uh, di mana Pak Bram? Tega sekali dia meninggalkanku sendirian begini.

Aku menghirup napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan, berusaha menguatkan diri. Aku pun melangkah masuk ke dalam lift, menekan angka satu untuk sampai di lobi.

-oOo-

Sebenarnya pergi ke mana Pak Bram?

Hampir lima menit aku berdiri di teras depan apartemen, menolehkan kepala ke kanan dan kiri demi mencari sosok Pak Bram.

Tidak ada.

Di tengah orang-orang yang berlalu lalang di sekitarku, aku masih belum juga menemukan sosok pria itu. Sembunyi di mana dia? Padahal tadi bilangnya mau tunggu di depan gedung. Kupikir aku yang akan terlambat dan membuatnya menunggu lama hingga aku mempercepat aktivitas merias diri demi bisa segera menemuinya di sini.

Ah, menyebalkan! Jadi kencan tidak, sih! Bukannya tadi dia yang sangat berantusias mengajak kencan?

Karena sebal dan merasa dibohongi, aku memutuskan berbalik, berniat kembali ke unit apartemen Pak Bram. Tapi, baru saja aku hendak melangkah, kudengar suara klakson mobil dua kali, membuatku spontan menoleh ke arah sumber suara. Sebuah mobil mewah warna putih terparkir tepat di hadapanku. Pengemudinya keluar, berdiri di sisi mobil lalu menyempatkan diri menoleh padaku. Sorot matanya tersembunyi di balik kaca mata hitam yang membuatnya semakin ... keren. Ah, aku benci mengakui itu, tapi tidak bisa dipungkiri dia memang tampan.

Senyumnya melebar, beruntung aku langsung menyadarkan diri sehingga aku tidak sampai mematung terpesona karena dirinya yang rupawan. Dia kemudian melangkah mendekatiku, menelisik diriku dari ujung kepala sampai ujung kaki.

"Oh, wow. Kamu lebih cantik dari yang saya kira," Pak Bram berucap santai, sambil melipat kedua tangan di depan dada. Entah dia benar-benar memujiku atau sekadar basa-basi saja, nada bicaranya memang terkesan antusias dengan penampilanku, tapi ekspresinya yang biasa-biasa saja membuatku tidak bisa percaya kalau dia sedang memujiku.

"Bapak tidak sedang menghina saya, kan?" sindirku dengan sedikit rasa waspada. Ya, waspada, takut kalau dia marah.

"Ya tentu saja tidak. Saya lebih suka wanita yang tampil sederhana dan apa adanya."

Meski dia menunjukkan senyuman tulus, entah kenapa aku tidak bisa memercayai kata-katanya begitu saja. Aku memang lebih sering negative thinking pada semua orang.

Aku tidak tahu apa yang membuatku terlihat cantik di matanya. Aku hanya memakai blus selutut warna krem dengan lengan panjang. Rambut sepunggung kugerai begitu saja, hanya memakai jepit kecil supaya tidak terlihat seperti kuntilanak di siang bolong. Polesan make-up pun tipis. Ditemani tas kecil warna cokelat tua yang kuselempangkan di bahu sebelah kanan.

Pembantu Jadi Cinta (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang