22. Jadian

4.5K 178 8
                                        

BAGIAN I

Keesokan paginya, pukul 7.30.

Aku berdiri tepat di depan cermin besar kamarku, menutup mata rapat-rapat dengan pikiran dipenuhi untaian kata yang Pak Bram ucapkan kemarin sore.

Aku tidak tahu harus berkata apa saat itu. Jadi aku hanya mengatakan, "Saya akan memikirkannya dulu, pak."

Pak Bram tidak memberikan respons, hanya menghela napas berat. Mungkin dia sudah lelah membujuk rayuku.

Bukannya aku keras kepala atau sok jual mahal, hanya saja ... aku merasa tidak pantas jika harus bersanding dengannya. Dia terlalu sempurna bagiku. Dia pria terpandang, kaya dan tampan. Pasti ada begitu banyak wanita yang menginginkannya. Sementara aku, tidak lebih dari wanita miskin yang mencari peruntungan demi mendapatkan sesuap nasi. Aku hanya pembantu, hanya pembantu, hanya pembantu.

Aku tidak mau nantinya Pak Bram justru diremehkan orang-orang di sekitarnya karena menikahi wanita yang tidak jelas asal-usulnya seperti diriku ini.

Apalagi ... masih ada bayangan pria lain yang bersemayam di hatiku. Aku tidak ingin melukai Pak Bram. Aku tidak yakin kapan bisa melupakan sosok Aditya, jadi aku berpikir, mungkin lebih baik menolaknya di awal daripada mengkhianatinya di kemudian hari.

Tapi ...

Kenapa hatiku rasanya sakit sekali?

Logika jernihku memang ingin menolak demi menjaga perasaan Pak Bram, tapi entah kenapa hatiku tidak bisa menerimanya. Melihat antusias Pak Bram yang tampaknya begitu kuat ingin memiliki diriku, aku jadi bertanya-tanya, sebenarnya ada apa dengan pria itu?

'Saya sudah tahu kamu, jauh sebelum saya mengenal Santi.'

Tiba-tiba saja kalimat Pak Bram waktu itu kembali terngiang di kepalaku. Sebenarnya apa maksudnya? Bagaimana dia bisa tahu aku? Apakah kami pernah bertemu sebelumnya? Di mana? Kapan? Atau jangan-jangan ... dia hanya asal bicara untuk membuatku tertarik padanya.

Sebenarnya .. dia tidak perlu susah payah membuatku tertarik, karena sejak awal aku sudah cukup tertarik padanya. Terpesona dengan ekspresinya yang dingin, dan sorot mata merendahkan serupa vampir yang sudah tak berselera dengan mangsanya. Pertama kali bertemu dengannya, melihat seisi apartemennya yang gelap, caranya berbicara, tatapan matanya, aku bisa langsung membaca, ada begitu banyak hal yang dia sembunyikan dari orang-orang di sekitarnya.

Dia pria misterius yang dipenuhi ambisi yang menakutkan bagiku. Aku takut jatuh cinta padanya, terjebak dalam labirin kehidupannya yang menyesatkan. Meski begitu, aku tetap ingin menyelesaikan puzzle teka-teki setiap misteri dalam dirinya.

Ingin sekali rasanya aku pura-pura tidak peduli, tetap bersikap seperti layaknya seorang pembantu pada majikannya, dan tidak mudah terbawa perasaan. Namun rupanya itu teramat sulit untuk dilakukan, apalagi kini aku sudah tahu, sikap dingin dan tatapan merendahkan itu hanyalah topeng untuk menutupi lukanya saja. Sifat aslinya mulai terlihat, dia yang perhatian, konyol, kekanakan, sok keren, terlalu percaya diri, kata-kata gombalnya pun selalu ditutupi dengan nada suaranya yang terdengar serius.

Tapi menjalin hubungan tidak melulu soal rupa dan harta. Aku membutuhkan pria yang mau mencintai kekuranganku.

Perlahan, aku membuka mata, berusaha menyadarkan diri dengan lingkungan sekitarku yang remang-remang. Aku bahkan tidak bisa melihat wajahku dengan jelas, apalagi gorden yang terpasang di jendela kamarku cukup tebal sehingga sinar mentari pagi pun enggan untuk menyusup masuk.

Aku menghela napas berat. Kenapa romansa ini begitu rumit bagiku? Bahkan guyuran air ketika aku mandi pun tidak mampu mengusir semua perkataan pria itu dari pikiranku.

Pembantu Jadi Cinta (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang