29. Pernikahan Aditya

3.5K 161 8
                                        

BAGIAN I

Mobil kami sudah berjajar rapi dengan banyak mobil mewah lainnya pada basement—entah di bagian mana—di sebuah hotel bintang lima, tempat di mana pernikahan Aditya dan Kismaya berlangsung.

Awalnya aku ragu untuk keluar dari mobil. Ini adalah momen yang cukup menyakitkan bagi diriku karena cinta pertamaku telah bersanding dengan wanita lain.

Tapi ...

Saat menoleh ke samping, aku mendapati Kak Bram yang diam terpaku di belakang kemudinya, terlihat jelas dia tak berselera datang ke tempat ini, ekspresi dinginnya sedari tadi membuatku takut. Tidak, aku tidak boleh ragu, aku sudah bertekad untuk menemaninya meski aku tahu itu hanya akan melukai diriku sendiri.

"Mau keluar sekarang?" tanyaku pada akhirnya. Sudah hampir setengah jam kami hanya berdiam diri begini. Kupikir, cepat atau lambat kami harus tetap masuk atau keberadaan kami di sini hanya akan sia-sia belaka.

"Ran, menurutmu ... apa aku ini kejam?" dia justru melontarkan pertanyaan yang tidak kuduga.

"Kenapa tiba-tiba kamu berkata begitu?"

"Dia menikahi wanita yang tidak dia cintai karena aku."

"Itu sudah jadi keputusannya, dan mungkin itu yang terbaik untuknya, karena ... belum tentu dia akan bahagia kalau menikahi wanita yang dia cintai." Ya, aku tidak yakin Aditya akan bahagia jika bersama diriku yang sejak awal memang sudah terluka. Aku sendiri pun tidak yakin apakah aku mampu membuatnya bahagia. Kurasa, lebih baik dia menghabiskan sisa hidupnya bersama wanita yang mencintainya dengan tulus.

Kak Bram mendengus sinis, senyumnya benar-benar penuh penghinaan. "Kamu tidak perlu berpura-pura setegar itu untuk menipuku."

"Tapi aku tidak menipumu." Aku tidak mengerti, menipu dalam hal apa yang dia maksud?

"Aku mau keluar sebentar. Kamu di sini saja." Tanpa menunggu responsku dia langsung membuka pintu dan keluar begitu saja.

"Bram tunggu!" Dengan gerakan cepat aku membuka pintu dan keluar. "Bram, tunggu!" aku berteriak lebih keras agar langkahnya tidak semakin jauh. Pada akhirnya dia berhenti dan aku langsung menyusulnya.

"Kamu selalu saja mau menang sendiri," komentarku saat kami sudah saling berhadapan.

"Dan kamu terlalu keras kepala untuk menuruti perkataanku," balasnya dengan nada datar.

Aku mendengus kesal dan langsung memalingkan pandangan. "Terserah kamu sajalah."

Kak Bram sedikit memiringkan kepala. Dia menatapku bingung, dahinya pun berkerut dalam. "Lalu?"

Uh, dia tidak peka atau apa? Pertanyaan singkatnya itu sungguh menyebalkan!

"Ah, sudahlah! Kamu mau jalan bersamaku tidak?!" kataku dengan nada sedikit emosi.

"Maksudnya?"

"Apa begini, ya, caramu memperlakukan pacarmu? Harusnya kamu menawarkan lenganmu untuk kugandeng, bukannya meninggalkanku seperti tadi!" protesku tak terima. Ya, sebagai seorang kekasih, aku tidak suka diperlakukan seenaknya. Kalau jadi pacarnya saja sudah begini, bagaimana kalau jadi istrinya?

"Memangnya tadi aku memintamu jalan bersamaku? Tidak, kan? Jadi jangan salahkan aku kalau aku terkesan seperti meninggalkanmu," jawabnya dengan super santai.

"Kenapa kamu jadi eror begini setelah kejadian tadi? Entah kenapa aku jadi menyesal pernah menciummu!"

"Oh, jadi kamu sedang berusaha memberiku kode, ya?" Dia melipat kedua tangan di depan dada dengan sorot jenaka yang menyebalkan.

Pembantu Jadi Cinta (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang