14. Aku Takut

5.2K 180 5
                                        

Suara bel pintu yang menggema kencang seketika membuyarkan semua lamunanku sedari tadi. Ah, sebal rasanya. Siapa yang datang malam-malam begini? Apa dia tidak tahu etika bertamu? Yah, sekarang sudah jam setengah sembilan. Wajar saja, kan, kalau aku sudah mengantuk?

Aku berniat tidak membukakan pintu. Lagipula, tamu itu pasti mencari Pak Bram. Percuma juga sekalipun aku menemuinya.

Sudah cukup lama aku mendiamkannya, tapi bel pintu itu terus berbunyi membuatku tidak bisa tidur. Dengan perasaan kesal dan malas mau tidak mau akhirnya aku turun dari ranjang. Aku terus menguap sepanjang langkah menuju ruang tamu.

"Siapa, ya?"

Aku sudah berdiri tepat di depan pintu. Aku melirik ke arah layar berukuran sekitar sepuluh inchi yang menempel di dinding tepat di sisi pintu. Biasanya layar itu digunakan untuk mendeteksi siapa orang yang sedang berdiri di depan pintu ini. Kamera kecil di luar sana akan mengirimkan gambar orang tersebut ke layar ini sehingga memudahkan pemilik rumah untuk mengetahui siapa orang yang berkunjung.

Maklumlah, rumah orang kaya. Kalau Pak Bram tidak menjelaskannya pun aku juga tidak akan tahu fungsinya. Kalau di rumah kontrakanku dulu, jangankan layar begini, bel pintu saja tidak ada. Semua tamu harus pakai bel manual, tangan pasti lecet untuk mengetuk kerasnya pintu rumahku.

Tidak ada jawaban. Bahkan tidak ada siapa-siapa di layar itu. Apa tamunya sudah pergi? Aku sudah berbalik badan dan hendak melangkah pergi ketika bel pintu kembali kudengar. Aku menoleh lagi ke layar itu, tidak ada siapa-siapa, tapi kenapa belnya terus berbunyi? Berdiri di mana tamu itu sampai tidak bisa terdeteksi oleh kameranya?

Karena bel terus berbunyi nyaring, kuputuskan untuk membuka pintu. Siapa tahu tamu itu ada keperluan penting yang mendesak. Bisa jadi berhubungan dengan pekerjaan, atau mungkin tamu itu adalah rekan kerja Pak Bram.

Begitu pintu kubuka ... aku langsung berhadapan dengan seorang pria tua. Sekilas tubuhnya tampak tinggi besar. Namun usia tentu saja tidak bisa berbohong, kulit keriputnya begitu kentara di mana-mana, bahunya pun agak terbungkuk. Rambut dan kumisnya nyaris memutih semuanya. Meski begitu pria ini berusaha menampilkan senyuman lebar padaku.

Siapa pria ini? Apa seperti ini, model teman Pak Bram? Kupikir semua teman majikanku itu juga berasal dari kalangan atas. Tapi pria ini ... kemeja putih dan celana kain warnah hitam yang dikenakannya lusuh, warnanya pun sudah pudar. Ah, meski di tempat remang-remang begini aku masih bisa menangkap ada gambar bunga mawar merah yang ukurannya cukup besar di bagian dada sebelah kirinya. Astaga, sudah tua saja masih berani memakai pakaian mencolok begitu.

"Maaf Bapak siapa?" pada akhirnya aku yang mulai bicara lebih dulu karena pria tua itu masih saja diam.

Pria itu kembali melebarkan senyuman kemudian mengulurkan tangan kanannya. "Perkenalkan, saya Tugiyo."

Apa? Jadi pria ini ... pria ini yang namanya Tugiyo? Orang yang selama ini menjadi tanda tanya di benakku, namun tak pernah ada jawaban dari Pak Bram.

"Oh, i-iya. Saya Rany." Aku pun menjabat tangan pria itu. Aku bisa merasakan tangan Pak Tugiyo yang dingin. Aku juga baru sadar wajahnya sedikit pucat. Pasti karena hujan deras di luar sana." Mari silakan masuk," kataku, begitu kedua tangan kami terlepas.

Pak Tugiyo mengikuti langkahku masuk menuju ruang tamu. Aku menyalakan dua stand lamp di sudut ruangan sebelum kemudian duduk di salah satu sofa tunggal tak jauh dari tempat Pak Tugiyo duduk.

"Oh ya, Bapak mau minum apa? Saya buatkan teh, ya?"

"Tidak perlu. Saya hanya sebentar di sini," sahutnya dengan nada datar.

"Tidak apa-apa. Saya akan buatkan teh untuk Bapak." Tanpa menunggu respons dari Pak Tugiyo, aku langsung bangkit berdiri dan melangkah menuju dapur.

Pembantu Jadi Cinta (Terbit)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang