2. DIJODOHIN?

567 67 4
                                        

"Umi," panggil Nalekha yang baru saja tiba di rumah.

"Iya, Nak. Umi ada di belakang,"

"Umi, kok di rumah sepi? Ke mana Mbak Az sama Abi?" Nalekha duduk di samping ibunya.

"Ya ampun, Nak. Ucapkan salam dulu mau masuk rumah," ujar Umi.

"E-eh maaf Umi. Lekha lupa, Assalamualaikum Umi cantik?'' kata Nalekha menunjukkan senyum malunya.

"Waalaikumsalam, dasar kamu itu. Abi dan Mbakmu lagi menengok teman Abi. Dengar-dengar dari Abi sih, beliau sedang sakit."

"Astagfirullah, Mi, Semoga beliau cepat sembuh, ya. Amin," doa Nalekha pendek.

"Assalamualaikum Umi, De." Azki, kakak perempuan Nalekha yang baru saja tiba dan langsung duduk menghadap sang adik dan ibunya.

"Assalamualaikum," disusul Abi dari belakang.
"Waalaikumussalam," serentak Nalekha dan Umi.

"Alhamdulillah Lekha, calon suami kamu itu ternyata tampan dan sholeh, insyaallah kalian cocok deh." Tutur Azki tanpa sebab, membuat Nalekha dan Umi mengerutkan dahinya.
Umi bertanya, "calon suami siapa sih kamu ini?"

"Tahu tuh mbak ngawur deh" Timpal Nalekha.

"Ya calon suamimu, Nalekha, masa aku? Kok Abi diam saja sih gak jelasin sekarang, Bi?" Azki melirik Abi dan membenarkan posisi duduknya.

"Nanti malam saja Abi jelaskan, selesai Lekha mandi dan bersih-bersih," ujar abi yang terlihat tenang.

"Siap, Abi." Nalekha memberikan hormat kepada Abi. Kemudian ia segera berlekas melenggangkan kakinya menuju kamar.

"Anak itu akan segera menikah, tapi masih saja seperti anak-anak" kekeh Azki yang masih bisa Nalekha dengar.

Nikah apa coba?

***

Gadis yang memiliki tinggi sekitar 165 cm itu ke bawah. Ia memakai kerudung yang tidak sama lebarnya dengan kerudung yang ia pakai tadi ke luar.

"Abi mau makan apa? Biar Lekha ambilkan," tawar dia.
"Apa aja yang kamu sajikan Abi makan, Nak."
"Segini cukup, Bi?"
Abi mengangguk tanda setuju. Kemudian Abi menepuk kursi yang ada di sampingnya, "Sini, Nak. Abi ingin berbicara sesuatu kepada kamu." Aku pun duduk di dekat Abi.

"Kamu rida gak, Nak, jika Abi jodohkan dengan putra teman Abi? Soalnya, kamu sudah pantas menjadi seorang istri. Walaupun Abi masih ingin merawatmu, tetapi Abi juga sudah memiliki kewajiban untuk menikahkanmu dengan pria yang baik. Insyaallah, dia pilihan yang tepat untuk berjodoh denganmu," jelas abi dengan hati-hati.

Nalekha yang sedang makan pun tersedak, karena terkejut sekaligus tidak percaya mendengar apa yang disampaikan Abi nya, mengenai perjodohan yang menurutnya dirinya tergolong masih sangat belia.

Umi pun tak mau kalah. Ia sangat mendukung apa yang dikatakan oleh suaminya, "Umi juga setuju. Lagipula ini adalah niat yang baik. Rasa-rasanya Umi juga melihat kamu sudah cukup dewasa untuk mengerti semuanya. Kamu sudah cukup untuk segera menikah dengannya."

Lagi-lagi Mbak Azki juga melengkapi pernyataan Abi, "Iya, Mbak juga nikah muda seusia kamu. Untungnya, sampai sekarang Mbak tidak mengalami kerepotan." Aku merasa dipojokkan olehnya, tidak tahu harus bagaimana aku meresponsnya. "Jawablah de? Kamu setuju, 'kan?" tanya Azki.

Setelah lama berkutat dengan pikirannya, akhirnya aku mengangkat pembicaraan, "Bagaimana, ya? Sebenarnya impian Nalekha itu mau lanjut kuliah, bukan menikah. Nalekha ingin pergi ke Kairo bersama Naila dan Nova," ucapku pelan.

"

Ke Kairo?" tanya Abi.

"Iya Abi" singkatku.

"Bagaimana bisa kamu ke Kairo sendirian? Kamu belum cerita apa-apa tentang ini, Nak?" balas Umi terkejut.

"Nalekha tahu, pasti Abi sama Umi tidak memberikan izin. Tetapi tolonglah, Umi, Abi. Ini cita-cita besar Lekha kepada kalian," jelasku sendu.

Setelah aku mengutarakan keinginanku, tak ada kata lagi di atas meja makan ini selain suara nyaring dari sendok dan piring. Tiba-tiba, ponselku berdering. Tertera nama Naila dilayar ponselnya.

"Nalekha angkat telepon dulu, ya," pamitku sambil menjauh dari meja makan. Segera aku memencet tombol panggil untuk menghubungkan panggilan dengannya.

"Assalamualaikum, Nai."

"Waalaikumsalam, Alhamdulillah.Kamu angkat juga telepon dari aku. Gimana?"

"Aku sudah menceritakan semuanya pada mereka, tetapi kau tahu berita burukku? Mereka akan menjodohkanku," pelan suaraku.

"Apa! Kok bisa cepat banget? Emang mau dijodohkan dengan siapa? Kamu sudah setuju atas permintaannya?"

"Belum, aku juga belum tahu siapa nama dan kapan bertemu dengannya," rasa kecewaku mulai menyudutkan pikiran. "Bagaimana denganmu?" tanyaku balik.

"Udah, aku dan Nova diizinkan dong. Mama dan Papaku malah senang dan sangat setuju aku bisa lanjut keluar negeri," seru ia. Hatiku terasa perih ketika tidak dapat bergabung melanjutkan studi bersama di Kairo.

"Alhamdulillah kalau begitu. Tunggu aku, ya. Doakan supaya kita cepat-cepat pergi ke sana."

"Aamiin. Eh, kamu juga harus ikut dong. Masa aku sama Nova doang." Aku pun tersenyum sinis. "Ya sudah, aku mau ke bawah dulu, ya. Mama memanggil aku. Besok kita lanjutin lagi, ya! Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam," tutup panggilan. Dering teleponku mati. Setelah menutup telepon, aku kembali lagi ke ruang makan.

Untuk malam ini aku meyakinkan mereka bahwa aku pasti bisa pergi ke Kairo demi mewujudkan mimpi berkuliah!
"Kalau begitu besok keluarga Herman, teman Abi, akan berkunjung untuk bertemu dengan kita, Nak. Tentunya Herman ingin melamarmu. Tetapi pilihan ada di kamu jadi besok kamu tinggal menilai dan menentukan apa pilihanmu," jelas abi padaku.

"Baiklah, Bi. Nanti akan Lekha pikirkan lagi. Aku pergi ke kamar dulu, ya. Nanti biar aku saja yang mencuci piring," jawabku meninggalkan ruang makan. Air mataku langsung meluncur dengan cepat. Raut wajahku berubah menjadi murung.

***

Nalekha [SUDAH TERBIT]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang