"Aku tidak percaya ini." Irene menahan tawa. Gadis bermata monolid yang ada di sampingnya hanya memandang gadis berambut hitam itu dengan tertarik.
Setela Irene sadar, Seulgi selalu menceritakan semua apa yang di alaminya kepada Irene. Entah itu cerita menyebalkan seperti Lisa yang mengerjainya dengan meletakkan ular-ularan plastik di kepalanya saat ketiduran di ruang ganti. Atau dia bercerita tentang dirinya yang bosan dihukum Tuan Park karena tidak mengerjakan tugas. Di lain kesempatan dia juga bercerita menggebu-gebu tentang persiapannya untuk memimpin Galaxy menghadapi final.
Apa yang Irene lakukan? Dia hanya menanggapinya dengan tertawa. Gaya Seulgi yang terlalu melebih-lebihkan ceritanya memaksanya untuk menggeleng-gelengkan kepalanya, seperti sekarang. Saat dia bercerita sebuah kejadian di tempat kerjanya.
"Aku bersumpah Angel, orang itu benar-benar menyebalkan! Padahal aku sudah bilang padanya bahwa masa berlaku promo itu sudah habis. Jelas-jelas di promo itu tertulis hanya ada sampai jam 07.00 malam, namun dia malah menyerang balik dengan mengatakan bahwa kami menipu pelanggan dengan promo. Benar-benar keras kepala!" Keluh Seulgi.
"Lalu apa yang terjadi?" Tanya Irene setelah tawanya mereda.
Seulgi menghela nafasnya kasar. "Untungnya Suho turun tangan. Kalau tidak, mungkin kami akan berkelahi. Dia sangat menyebalkan." Gerutunya kesal.
"Berkelahi? Kau ingin berkelahi dengan pelanggan?" Tanya Irene mengangkat alisnya. Sudah menjadi rahasia umum jika Seulgi memang suka melakukan hal yang tidak terduga jika sedang emosi. Itulah yang menyebabkan sahabat-sahabat Seulgi sangat khawatir padanya.
"Dia seumuran denganku, namun kelakuannya, ugh. Benar-benar seperti anak kecil." Sahut Seulgi kesal.
Irene meraih wajah Seulgi sebelum menempatkan tangannya di pipinya. "Kau selalu emosi. Kau tahu itu tidak bagus, Seul." Ujarnya lembut.
Seulgi mengangguk paham. "Aku tahu, tapi aku tidak― aku sudah berubah, tahu? Ya, kecuali ada idiot yang memang mencari gara-gara denganku."
"Itu bagus, aku tidak suka bila kau berkelahi."
"Hmmm." Seulgi berdehem pelan.
"Seul." Panggil Irene.
"Ya?"
"Aku merindukanmu."
Seulgi tersenyum kecil. "Aku juga."
"Juga apa?" Senyuman Irene merekah ketika mendengarnya.
Gadis bermata monolid itu memutar bola matanya cepat. Dia lalu meraih tangan Irene yang bebas dan menempelkannya di pipinya. Persis seperti yang Irene lakukan sebelumnya. Mata monolidnya memandang gadis berambut hitam itu dengan hangat. "Aku merindukanmu juga. Tuhan, kau tidak tahu bahwa aku sangat mencintaimu. Saat kau kesakitan dan aku tidak bisa melakukan apa-apa, aku seperti kehilangan sebagian diriku."
Banyak hal yang terjadi setelah mantan kekasihnya itu sadar. Setelah Irene sadar, gadis itu sering mengalami serangan panik akibat trauma. Dia juga menjadi sulit tidur. Kalaupun Irene bisa tidur, dia sering terbangun dalam kondisi berkeringat, detak jantung yang cepat, sesak nafas karena mimpi buruk akibat penganiayaan yang dialaminya. Pada kondisi normal, Irene sering menangis dan tangisnya baru bisa mereda ketika Seulgi yang menenangkannya.
Menanggapi hal tersebut, Dokter Carpenter menepati janjinya untuk mengajukan serangkaian tes kepada Irene yang dilakukan oleh Psikiater. Setelah melakukan berbagai pemeriksaan, Psikiater mendiagnosis Irene mengalami PTSD (Post Traumatic Stress Disorder) dan GAD (Generalized Anxiety Disorder) yang ternyata sudah di derita Irene sejak usianya masih muda. Kondisi itu juga diperparah dengan tindakan penyalahgunaan obat penenang dan alkohol yang menyebabkan Irene menjadi kecanduan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Kang 20
Hayran KurguSeulgi Kang, seorang striker kebanggaan Galaxy Academy percaya bahwa ia tidak punya waktu untuk cinta. Mimpinya sebagai pemain sepak bola dan tanggung jawabnya untuk menjaga adik dan neneknya membuatnya tidak tertarik untuk berkencan. Namun ketika I...
