Full Time: Two Hearts Become One

1.1K 192 63
                                        

Note :

A very long chapter.

***

"Joy, tolong beri aku kesempatan satu kali lagi." Wendy memohon pada Joy dengan wajah memelas.

Joy menatap Wendy dengan malas. Dia baru saja pulang lari pagi dan langsung menemukan mantan kekasihnya di ruang tamunya. Entah bagaimana Wendy bisa masuk dia sendiri tidak tahu Gadis berambut merah itu menghela nafasnya kesal. Pasti Ibunya yang mengizinkan Wendy masuk. Padahal kemarin sudah jelas dia bilang pada Ibunya kalau hubungan mereka sudah berakhir.

"Sedang apa kau disini, Wen?" Joy yang tidak menaruh perhatian pada Wendy langsung menuju dispenser untuk mengambil air minum.

Wendy yang menyadari Joy mengacuhkannya langsung mengekor di belakang mantan kekasihnya itu.

"Aku ingin minta maaf padamu. Aku ingin kita memperbaiki hubungan kita." Wendy terus terusan memohon padanya dengan nada bersalah.

Joy mengangkat alisnya. "Oh iya? Aku rasa tidak ada yang perlu dimaafkan."

"Joy."

"Aku pikir yang aku bilang waktu itu sudah jelas. Hubungan kita sudah berakhir."

"Kau memutuskan secara sepihak. Aku tidak mau kita putus." Wendy tetap bersikeras untuk mempertahankan hubungan mereka.

Mendengar itu Joy hanya bisa mengangkat bahunya acuh. Mantan kekasihnya itu tidak pernah mau menerima kenyataan yang ada. Sejak dia memutuskan hubungannya dengan Wendy, gadis berambut pirang itu tidak pernah berhenti untuk mengejarnya. Entah saat dia latihan Cheerleader, saat selesai kelas, ketika mereka pulang sekolah, dan datang ke rumahnya seperti sekarang. Jujur itu membuat Joy sangat terganggu.

Apa dia tidak mengerti arti kata putus?

Jika dia bilang bahwa dia sudah tidak mencintai Wendy mungkin itu adalah sebuah kebohongan. Joy masih mencintai Wendy. Satu tahun yang mereka jalani sebagai kekasih bukanlah waktu yang sebentar. Sayangnya dia tidak bisa melupakan bahwa Wendy telah kelewatan. Membohonginya, melakukan sesuatu yang buruk di belakangnya, membalas dendam atas namanya yang bahkan dia sendiri tidak pernah menyetujui itu. Dia ingin memperbaiki ini, tapi dia merasa bahwa hubungan ini sudah terlalu toxic. Karena itu lebih baik jika mereka berada di jalannya masing-masing dan tidak saling mengganggu.

Gadis berambut merah itu berjalan menuju meja makan. Dia mengambil piring dan mengambil telur orak arik, roti isi dan menyiapkan dua cangkir kopi segar. Wendy yang melihat itu hanya diam saja. Dia pikir Joy ingin sarapan, maka dia tidak berkomentar. Tapi setelah selesai menyiapkan makanan, Joy malah menyuruh Wendy untuk bergabung dengannya. Meski bingung, Wendy tetap menuruti apa yang Joy mau dan duduk di sampingnya

"Makanlah, aku tahu kau belum sarapan. Jika sudah selesai, sebaiknya kamu pulang. Aku mau pergi bersama Jennie setelah ini." Pinta Joy yang membuat Wendy terdiam.

***

"Bagaimana kabarmu, Irene?" Tanya seorang wanita muda di depannya.

Wanita itu berambut cokelat dan berpenampilan rapi dengan blouse bunga-bunga dan rok span hitam. Pembawaan santai wanita itu membuat Irene sedikit tenang. Wajahnya yang ramah membuat obrolan mereka menjadi lebih mengalir dan tidak kaku. Setidaknya dia tidak merasa terbebani dengan konsultasi ini.

Sunny Lee merupakan psikiater yang menangani kasus Irene. Wanita ini menjadi psikiater diusia yang masih terbilang muda. Sunny menangani Irene atas permintaan pribadi dr. Sabrina Carpenter, karena dia adalah sahabat dekatnya. Tidak ada orang yang lebih di percaya Sabrina untuk menangani pasiennya selain Sunny.

Kang 20Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang