Erchilla terbangun ketika alarmnya bekerja dengan baik, tak ingat sejak kapan mengenakan selimut tapi yang jelas, sapaan Devine pagi ini terlihat lebih baik. Dia tengah diperiksa suster sebelum dokter datang, dirinya memang dokter umum, tapi belum bersiap dan harus pulang lebih dulu.
"Selamat pagi, dokter Chilla."
"Pagi, sus." Chilla tersenyum tipis.
"Kau mau pulang?" tanya Devine yang duduk di tepi brankar.
"Ya, aku mau pergi menemui seseorang dan kembali ke sini nanti siang. Kau istirahat saja." Erchilla melipat selimut yang dikenakannya.
Rose menggerakkan tubuhnya perlahan, terlihat tak nyaman tidur di sofa dan akhirnya terjatuh. Rose mengerang memegangi pantatnya sambil mengomel melihat sekitar. Netranya menabrak sosok Erchilla kemudian Devine dan bangkit perlahan.
"Sejak kapan aku tidur di sofa? Aduh, punggungku." Rose berdiri dengan membungkuk.
"Sejak semalam, tidur ngorok pula. Berisik." Devine memberi tahu.
Rose terdiam melirik Devine, seperti memutar kembali apa yang terjadi sebelum ia tertidur di sofa semalaman. Kemudian Rose mencebik, berjalan tertatih menyambar tas mungilnya dan mengomel.
"Kenapa bisa kayak gitu sih semalam? Ganggu aja, enak-enak tidur harus papah kamu, berat pula. Makanya jangan makan sembarangan, rakus!" Rose mengomel lantas pergi.
Erchilla dan Devine saling pandang kemudian tertawa kecil melihat sikap Rose. Menurut Devine Rose gadis yang perhatian dengan caranya sendiri, meski mulutnya berkata pedas tapi tindakannya benar-benar baik, jika dia memang abai padanya semalam tak akan mungkin terbangun dan bantu membawanya ke rumah sakit. Erchilla pamit pulang dan berkata jika akan memberi tahu Nenek Ash dengan pelan-pelan jika Devine berada di sini.
Devine melihat kepergian Chilla dengan senyum tipis. Kemudian merebahkan diri, perutnya masih bergejolak tapi sudah tak seperti tadi malam, rasanya sungguh sakit. Devine meraih ponselnya, ada beberapa pesan dan email yang masuk, keluarganya yang bertanya bagaimana keadaannya di sini, soal pekerjaannya, sisanya percakapan pribadi dengan asisten pribadinya.
Ada sesuatu yang mengganjal pikirannya, soal map kuning entah siapa pemiliknya. Map tersebut disimpannya di laci paling bawah meja kerjanya dan kunci gandanya ada pada Nadav. Ponselnya bergetar, layarnya menampilkan wajah mama tercintanya.
"Selamat pagi Maa," sapa Devine hangat.
"Pagi, Dev. Kamu itu ke mana aja, Dev? Mama semalaman telepon kamu loh, kenapa enggak diangkat-angkat?" tanya mamanya di seberang.
"Semalam Devine tidur nyenyak, Ma di sini. Nenek Ash sangat baik padaku, jadi mengingatkanku pada nenek di rumah."
"Dev, apa kau sudah bertemu Erchilla? Gimana?" tanya papanya di seberang.
"Dia secantik yang di foto, Pa. Lebih cantik malahan." Dev tersenyum bahagia ketika bercerita soal Erchilla.
"Wah, wah, Ma. Anak kita di sana udah kesengsem sama Erchilla, calon menantu kita." Suara papanya sedang menggoda Devine.
"Iya, Pa. Mama boleh donk minta foto kalian bersama?"
Devine mengulum bibirnya, "Nanti ya, Ma. Devine akan kirim kalau sudah ada fotonya."
"Iya, Sayang. Dev, jangan lupa jaga kesehatan kamu, jangan makan yang pedas-pedas lambung kamu 'kan sensitif." Mama Dev berpesan.
"Iya, Ma."
"Kalau ada apa-apa hubungi kami segera, ingat itu Dev!" pesan papanya.
"Iya, Pa."
Devine menutup sambungan teleponnya tepat setelah Nenek Ash masuk. Nenek segera mendekati Devine yang terduduk di brankarnya dengan wajah khawatir. Nenek Ash tak datang sendiri melainkan bersama bibi dan membawakan beberapa keperluan pribadi Devine.
KAMU SEDANG MEMBACA
Equanimous #4 - END
RomanceUpdate sebisanya | 21+ ⚠Don't Copy My Story⚠ Erchilla memutuskan kembali pulang setelah kepulangannya beberapa tahun yang lalu. Ia menganggap jika Dean telah berubah mau menerimanya menjadi teman, teman lama. Tapi, semua bayangan Erchilla tak sama...
