Jika Dean sadar, dia tak akan masuk ke dalam bandara dan mengekori Devine dan Erchilla yang berjalan sambil mengobrol. Dan jika Dean sadar juga, dia pasti akan segera pergi sambil mengumpat akantetapi dia masih di sini, di bandara berjalan bersinggungan dengan banyak orang tapi matanya lurus memperhatikan wanita cantik yang entah sejak kapan mengisi pikirannya begitu saja tanpa permisi.
Dean tak tahu benar mengapa Erchilla di sini bersama Devine, pria yang tak disukainya karena tampak begitu romantis memperlakukan Erchilla. Lelaki berkemeja vertikal itu lantas berhenti di dekat pintu keberangkatan luar negeri, dan wanita bekerja sebagai dokter umum itu pun ikut berhenti dan berhadapan. Dean segera menghentikan langkahnya dan berbalik sesaat, tapi kemudian kembali melihat ke arah mereka.
"Kau yakin mau berangkat sekarang?" tanya Erchilla melipat tangannya.
"Kenapa, takut sendirian ya? Akan kusuruh Rose ke sini segera," kata Devine menghibur Chilla.
Chilla tertawa kecil, "Tidak, aku rasa kau enggan pulang tapi harus pulang, Dev. Wajahmu berkata demikian."
Devine mengangguk sambil tertawa kecil. "Apa itu jelas terlihat ya? Ya, kau benar. Aku enggan kembali, dalam waktu dekat ini, tapi harus pulang karena cicitan mereka tak bisa direm lagi."
Erchilla tertawa. "Sudah dicek enggak ada yang tertinggal?"
"Sudah, sudah kucek semua terbawa. Hanya satu yang belum terbawa," kata Devine.
"Apa? Kue bolu nenek?"
"Hatimu." Devine menatap Chilla dengan senyuman berbeda.
Erchilla membalas senyuman Devine, ia tahu benar apa yang dirasakan Devine, pria yang berdiri di depannya itu benar menyukainya. Pengeras suara di ruangan besar itu menyalang memberitahu jika pesawat yang akan mengantar Devine segera berangkat.
"Pergilah dan kembalilah lagi... segera." Erchilla setengah sadar mengatakannya, entah karena efek tatapan Devine ataukah lelah berdiri sesari tadi.
"Aku pasti segera kembali, pasti." Devine ingin sekali meraih tubuh Chilla dan memagut bibir merah muda itu, tapi akan membuat mereka canggung dan jelas menjadi pusat perhatian.
Devine meraih jemari tangan Chilla dan menyematkan sebentuk benda melingkar berwarna emas dan mengecup tangannya. Chilla tertegun, tentu saja, Devine baru saja menyematkan cincin di jarinya kemudian mengecup tangannya.
"Ini apa?"
"Pengingat, aku janji akan segera kembali dan kau harus ingat aku terus, hanya aku." Devine menggenggam tangan Chilla kemudian terlepas karena petugas bandara menanyainya sekaligus menggiringnya segera masuk ke dalam pesawat.
Erchilla hanya membalas tatapan Devine yang tak mau pergi dengan senyuman dan lambaian. Ketika matanya menabrak benda mengkilap keemasan itu pun tertegun kembali, perlakuan Devine akhir-akhir ini memang romantis, tapi ini lebih. Di sini Erchilla terpesona dengam perlakuan romantis Devine, di sana Dean justru merasa kesal hingga ia meremas jengkel rambut seorang anak perempuan tanpa sadar.
Anak perempuan itu mendongak dan memegangi ekor kuncir rambutnya. "Paman, rambutku sakit!"
Dean menunduk dan kaget tanyannya memilin dan meremas ekor kuda anak perempuan. Tatapan tak suka dari wanita dewasa di sebelahnya pun membuat Dean akhirnya menjauh dan tersadar jika sedari tadi dia melakukan hal bodoh, mengikuti Erchilla sampai ke sini dan bertindak di luar nalarnya pada anak kecil juga.
"Mama, rambutku sakit dijambak paman itu," rengek anak kecil perempuan itu sambil menunjuk ke arah Dean.
"Aku pasti kerasukan bisa sampai ke sini segala!" Dean segera pergi dengan langkah cepat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Equanimous #4 - END
RomanceUpdate sebisanya | 21+ ⚠Don't Copy My Story⚠ Erchilla memutuskan kembali pulang setelah kepulangannya beberapa tahun yang lalu. Ia menganggap jika Dean telah berubah mau menerimanya menjadi teman, teman lama. Tapi, semua bayangan Erchilla tak sama...
