Belajar Melepaskan | 16

4.2K 735 88
                                        

Izann membereskan meja di gazebo rumahnya, klien yang datang menemuinya baru saja pulang. Ia menoleh ketika mendapati seseorang mendekatinya, bukan kliennya yang tadi melainkan seorang gadis yang dikenalinya sebagai adik dari Zena. Izann mempersilakannya duduk dan menanyakan mau minum apa? Tapi, adik perempuan Zena satu-satunya itu tak mau minum apa pun.

"Kak, aku ke sini karena tak tahan dan tak tahu harus berbuat, berkata apalagi pada kakakku." Amora bercerita sambil menatap Izann.

Izann menaruh map tebal itu di sisi lain meja dan memperhatikan ekspresi wajah Amora. "Kenapa dengan kakakmu?"

"Aku ingin sekali menyadarkannya, bahwa perasaannya itu tak terbalas dan itu nyata." Amora berkata serius.

Izann tertawa kecil, "Kamu serius sekali sih? Ada apa?"

"Aku tak mau berbelit-belit, Kak. Kak Zena menyukai, mencintai Kak Izann. Apakah Kak Izann punya perasaan yang sama?" tanya Amora.

Izann merasa pertanyaan Amora begitu menohoknya. Ia tak pernah menganggap Zena lebih dari sekadar dari teman biasa, teman semasa SD, teman satu kompleks perumahan. Zena terlalu serius mengikuti perasaannya, padahal sikapnya pada Zena sejak dahulu hingga sekarang tak berubah sama sekali, tetap sama dan akan tetap sama.

"Dan apakah Zena tahu perasaanku seperti apa? Ditolak langsung saat pernyataan cinta selesai diutarakan?"

Amora mengerutkan keningnya. "Pada siapa? Kak Zena enggak mungkin nolak Kak Izann."

"Aku menyukai wanita lain dan dia menolakku."

"Rasanya sakit tidak, Kak? Begitu juga dengan kakakku. Dia dengar Kak Izann nyatain cinta ke wanita lain itu dan terluka sekarang, nangis enggak mau berhenti." Amora menudong Izann dengan bola mata tajamnya.

"Dia dengar? Maksudnya gimana?"

Amora bangkit. "Intinya, Kak Izann enggak cinta sama Kak Zena?"

Izann menatap Amora. "Tidak."

"Kalau begitu, Kak Izann juga harus berhenti mencintai wanita itu dan mulai menoleh ke arah lain. Ada wanita yang tulus mencintai Kak Izann di luar sana, yang hatinya tengah terluka. Back down to earth, sadarlah." Amora meninggalkan Izann begitu saja.

Izann menatap kepergian Amora dengan hati tertohok. Gadis itu memang baru saja lulus sekolah, tapi sungguh perkataannya lebih dewasa daripada gadis seumurnya. Izann terduduk sambil menopangkan kedua sikunya di meja gazebo, perkataan Amora tentangnya dan tentang Zena terlihat berkaitan dalam benaknya.

"Sadarlah, huh, sadarlah." Izann mengulang perkataan terakhir Amora.

Izann bangkit perlahan sambil membawa masuk map tadi, memikirkan apa yang dikatakan Amora berulang kali. Ia menyukai Chilla, wanita cantik yang sedari kecil sudah menarik hatinya akan tetapi menolaknya karena menganggap dirinya sebagai kakak. Begitu juga dengan perkataannya pada Zena beberapa waktu lalu, saat Zena memberanikan diri memajukan wajahnya untuk mengecup bibirnya, Izann membuang mukanya ke arah lain dan berkata jika menganggap Zena tak lebih dari sekadar teman.

Apakah ini karma untukku? Menolak Zena dan akhirnya ditolak Chilla? Astaga, hatiku masih terasa sakit saat dia menolakku.

Izann duduk di sofa dekat meja kerjanya berada di samping ruang perpustakaan, tempat di mana papa angkatnya sering duduk di sini menghabiskan weekend bersama mama angkatnya sambil menikmati teh hangat dan senja yang masuk.

Mama Izann masuk membawa sebuah baki, terdapat dua cangkir di atasnya dan secawan kue bolu yang manis. Ia melihat raut wajah putera angkatnya itu sedikit muram dan berpikir berat. Izann tersenyum ketika menyadari keberadaan mamanya, tapi senyum itu tak seperti senyum-senyum lain Izann.

Equanimous #4 - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang