Ketopark Oh Ketopark | 11

4.6K 637 81
                                        

Erchilla, Rose dan Izann segera meluncur ke Marisa Mall. Chilla menelepon nomer ponsel Devine tapi sudah tak aktif, kemungkinan besar ponselnya mati karena habis baterai seperti yang dikatakan sebelumnya. Mereka bertiga tak tahu pastinya di mana Devine, karena setelah mencari di lantai satu ternyata tak ada.

"Kita berpencar saja gimana?" tanya Izann memberi ide.

"Ini wajah dia," kata Chilla menunjukkan foto Devine.

"Oke, aku akan cari lagi di lantai satu, siapa tahu dia udah di sini." Izann pergi berpencar.

Chilla mengangguk, sementara Rose melipat tangannya enggan mencari.

"Kamu cari ke lantai tiga, siapa tahu dia nyasar ke sana, aku cari dia ke lantai dua," kata Chilla mulai bergerak.

"Aku di sini aja deh, nanti juga dia turun. Dia itu udah gede masa nyasar di mall ginian?" Rose mengomel.

"Sudah ayo cari dia, dia nyasar 'kan juga karenamu," kata Chilla dari kejauhan.

"Karenaku apanya? Dia yang pergi sendiri, siapa suruh pergi, sukurin kalau nyasar." Rose mengomel sendiri enggan bergerak mencari, tapi lama kelamaan kakinya melangkah menyusuri lantai tiga.

Chilla merasa perlu bertanggung jawab pada Devine, sebagai tamu tentunya. Jika diingat siapa Devine sebenarnya cukup membuat Chilla enggan bergerak mencarinya. Devine merupakan calon tunangannya tanpa ada perkenalan sekali pun selama ini. Papanya dan papa Devine sepakat membiarkan Devine datang menemuinya di saat hatinya gundah karena sikap Dean yang masih sama saja sejak dari dulu.

Chilla tak menemukan Devine di lantai dua, hingga ke bagian depan mall lantai dua. Chilla samar mendengar tawa lelaki itu tapi bukan dari lantai dua, melainkan dari bawah, samping mall dekat parkiran sepeda motor. Erchilla segera mencari tangga darurat dan turun dari sana, pergi ke parkiran dan benar itu adalah Devine. Tengah tertawa bersama penjual ketoprak yang duduk bersama.

"Oh, kau sudah datang. Mau makan kitopak?" tawar Devine menunjukkan piring berisi ketoprak yang dipegangnya.

"Ketoprak, Mas namanya," kata penjual yang membenarkan nama dagangannya.

"Ah, ya itulah pokoknya, Pak." Devine tertawa kecil sambil mengunyah makanannya.

"Aku, Rose dan Kak Izann nyari kamu ke dalam mall ternyata di sini," kata Chilla. Chilla duduk di bangku kayu yang diduduki Devine hanya beda ujung.

"Aku merasa lapar sangat, tak kuat rasanya menunggumu sampai, jadi aku ke sini ikuti hidungku, makanannya enak, aku suka." Devine menyendokkan ketoprak lagi ke dalam mulutnya.

"Nenek Ash nyariin kamu, khawatir. Kalau udah kita pulang," kata Chilla tegas.

Devine mengangguk, ia tengah sibuk memakan makanan yang tak pernah dimakannya tapi rasanya enak sekali. Chilla yang melihat betapa lahapnya Devine makan pun menoleh, pria itu tampan, benar-benar tampan tapi entah mengapa tak bisa menimbulkan getaran di hatinya. Devine menoleh ketika merasa diperhatikan, tapi Chilla menunduk seketika membuat Devine tersenyum tipis.

"Pak, tolong buatkan satu untuk calon tunanganku," kata Devine memesan ketoprak.

"Cabe berapa, Mbak?"

"Satu saja," kata Chilla. "Vin, Aku bukan calon tunanganmu."

Devine dengar apa yang dikatakan Chilla, sedikit menohoknya tapi ia lebih suka mengisi perutnya dengan makanan yang membuat hatinya senang. Ia membiarkan Chilla berkutat dengan pikirannya sendiri, begitu juga dengannya, berpikir bagaimana meluluhkan hati wanita cantik di sampingnya?

"Chilla, udah ketemu dia? Kakak udah cari tapi enggak ketemu juga," kata Izann yang menghampiri Chilla dengan napas tak teratur.

Devine melongo melihat ke Izann, kemudian melihat ke arah Chilla yang menggeser tempatnya duduk untuk memberi pria itu.

Equanimous #4 - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang