Calon Menantu | 7

5.6K 913 51
                                        

Erchilla tersenyum hangat pada orang yang masih mengingatnya, hatinya membuncah dan membuat pipinya merona. Kenangan yang ada telah berlalu bertahun-tahun, tapi Tante Arsha-begitu Erchilla memanggilnya-masih saja mengingat wajahnya. Erchilla meminta Arsha menunggu antrian sementara dirinya memeriksa pasien yang sudah datang lebih dulu.

Sari terkaget-kaget melihat ekspresi wajah majikan wanitanya yang berseri, seperti mendapatkan hadiah kuis yang ditunggu-tunggu. Sari memberikan teh manis panas kemasan cup pada Arsha, pun bertanya, ada apa gerangan majikannya itu tersenyum seperti demikian bahagianya.

"Ibu, ada apa kok senyum-senyum gitu? Mas Cian udah datang ya, Bu?" tanya Sari yang penasaran.

Arsha masih saja tersenyum, "Sari, kau tadi udah sarapan?"

"Sudah, Bu, sudah. Sari makan nasi sop sama ayam goreng seperti perintah Ibu, terus mau ke sini Sari baru beli teh panasnya biar masih tetep panas waktu diterima Ibu," jelas Sari polos.

"Baguslah, ibu senang punya asisten rumah tangga yang nurut dan baik kayak kamu."

"E, iya. Tapi, Ibu kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya Sari.

"Ibu ketemu wanita muda yang cantik, dia dulu sewaktu kecil suka habisin kue buatan ibu, Sari. Sekarang dia sudah jadi dokter muda yang cantik sekali." Arsha bercerita sedikit.

Sari hanya menggut-manggut mendapatkan penjelasan dari majikan wanitanya, ia sama sekali tak tahu menahu perihal masa kecil anak majikannya karena ia bekerja pada keluarga itu saat anak-anak majikannya sudah tumbuh dewasa ini. Sari yakin Bi Warsitalah yang tahu soal siapa wanita muda yang dulunya suka menghabiskan kue buatan majikan wanitanya.

Derap langkah cepat terdengar semakin mendekat seiring dengan wajah yang tampak di mata kedua perempuan itu. Alucian datang dengan wajah khawatir dan langsung bersimpuh di depan Arsha, bertanya apa yang sakit, sakitnya seperti apa dan masih ada pertanyaan-pertanyaan lain yang dilontarkan anak bungsu Arsha.

"Mama udah hubungi papa? Kak Dean? Atau kakak kembar?" tanya Alucian menatap mamanya.

"Mama enggak mau hubungi papa, papamu itu nanti khawatir, dia mungkin saja lagi temui kliennya. Kak Dean juga, apalagi si Kembar, mereka pasti sibuk, Cian. Udah ada Sari dan kamu udah cukup," kata Arsha.

"Udah ambil nomer antrian? Masih lama enggak, Sari?"

"Ini nomer antriannya, Mas. Sebentar lagi," kata Sari menunjukkan nomer antrian Arsha.

"Ibu Arsha Reynard, silakan masuk," panggil suster dari dalam ruangan dokter.

Alucian merangkul tubuh mamanya masuk ke dalam ruangan, sementara Sari menunggu di bangku tunggu. Arsha masuk perlahan ke dalam ruangan dokter, di sana duduk seorang perempuan muda memakai jas snelli dan mempersilakannya duduk. Alucian melihat senyum mamanya yang tak biasa menjadi heran, saat sakit seperti ini mamanya bisa tersenyum secantik itu.

"Apa keluhannya, Bu Arsha?" tanya dokter perempuan itu pada Arsha.

"Sakit kepala tiba-tiba, tapi bukan migrain, hanya sakit dan berkunang-kunang," kata Arsha tetap sambil tersenyum tipis.

"Kira-kira mama saya sakit apa, dok?"

"Ibu mari saya periksa dulu," kata dokter perempuan itu mendekat dan menuntunnya ke dalam bilik berkelambu.

Arsha memperhatikan wajah ayu dokter wanita yang tengah memeriksanya. Sejak kecil memang sudah dianugerahi wajah rupawan, hingga sekarang sudah dewasa pun makin cantik. Erchilla yang fokus memeriksa tensi darah Arsha pun menjadi sedikit terganggu.

"Tante enggak nyangka bisa ketemu kamu di sini, sudah jadi dokter pula. Gimana kabar keluargamu?" tanya Arsha.

"Seratus per enam puluh," kata dokter itu melepas peralatan tensi darah di lengan Arsha. "Keluarga Chilla baik semua, Tante."

Equanimous #4 - ENDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang