kamu seperti awan, aku berjalan mendekatimu, tapi kamu berjalan untuk mendekati yang lain, sesederhana itu, perasaanku tidak terbalas.
^
Saat cowok dengan julukan 'Playboy' berhasil berubah hanya karna satu cewek.ane...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktu bersamamu adalah hal menyenangkan, sekalipun aku hanya menjadi pengisi kekosongan mu.
☁☁☁☁
Farel memejamkan matanya, menghirup angin yang menerpa rambut dan wajahnya.
Pikirannya kalut. Tiba tiba saja ia memikirkan Arin, dan perkataan Meyra. Farel berharap lebih lama begini, tetap menjadi sahabat untuk Arin. Karna memang ada beberapa hal yang tidak sesuai dengan keinginan.
Ada beberapa hal yang lebih baik bila dicegah, dan Farel merasa ini keputusan terbaik. Farel mengakui, dirinya memang sering berganti cewek, atau apa pun itu sebutannya.
Ya, dia mudah tertarik, tapi jika perempuan itu adalah Arin?
Mata Farel terbuka,ia mengambil benda pipih disaku celananya yang terasa bergetar.
"Halo Farel? Gue mau numpang pulang ya?"
"Hm iya boleh."
"Lo dimana? Gue tunggu diparkiran!"
"Emang udah bel? "
"Lo bolos ya?"
"Hehe iya." Farel menjawab dengan cengengesan.
"IH FAREL! Kan sering Arin bilangin, ngga usah bolos bolosan, Farel itu ngga pinter, kalo Farel bolos terus mau jadi apa nanti? Masa otaknya jadi ngga pinter kuadrat!" Cerocos Arin panjang lebar, Farel bahkan sempat menjauhkan ponsel nya dari telinga.
"FAREL! NGGA DENGERIN ARIN NGOMONG YA!" Arin masih berteriak.
"Astaga, Tarsan, ini bukan hutan anjir, triak triak mulu, udah diem, gue ke Parkiran sekarang."
"Tap-"
Setelah itu sambungan telepon terputus,tidak memperdulikan Arin yang bahkan belum menyelesaikan perkataannya. Farel menghela nafas, kemudian berdiri dan meninggalkan rooftop.
Farel sudah sampai diparkiran, dan menemukan Arin yang tersenyum merekah seperti biasa,namun, beberapa detik kemudian senyum nya hilang,"FAR-"Belum sempat Arin berteriak Farel sudah menempel kan telunjuk nya pada bibir Arin.
"Nanti lagi ngomel nya," Ujar Farel, "banyak degem degem, malu dong gue?" Farel memperhatikan adik kelas yang lewat, sesekali Farel melambaikan tangan ataupun bersiul.
"Ih!"
Farel kemudian memberikan helm kepada Arin, memakaikannya, kemudian bersiap menyusuri jalanan.