kamu seperti awan, aku berjalan mendekatimu, tapi kamu berjalan untuk mendekati yang lain, sesederhana itu, perasaanku tidak terbalas.
^
Saat cowok dengan julukan 'Playboy' berhasil berubah hanya karna satu cewek.ane...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Untuk kesekian kali kau mengabaikan ku, lalu meninggalkan ku.
☁☁☁☁
Matahari masih malu menampakkan sinarnya, tetapi para siswa sudah bersiap untuk pulang, kemah telah berakhir,pencarian jejak dibatalkan, acara api unggun semalam sudah menguras tenaga, ditambah,guru terlanjur mengetahui bahwa Arin sempat tersesat,sekarang saatnya mereka mengistirahatkan tubuh.
"Rin gue anterin ya." Ujar Mike setelah turun dari bis.
Arin sempat melirik Farel, ia masih sedih tentang kejadian semalam, "iya boleh." Ujar Arin.
"Ya udah ayo." Arin berjalan menuju mobil Mike, ia melihat Farel dan Niken tertawa senang.
Ternyata benar, Arin bukanlah suatu hal penting yang ada dihidup Farel, sekarang, ia hanya bisa tersenyum, karna seperti inilah cinta.
☁☁☁☁☁
Keesokan harinya, Arin berjalan di Koridor, pagi ini terasa cerah, berbeda dengan suasana hatinya, tadi ia berangkat bersama supir, Arin tidak mau terlalu merepotkan Mike.
Langkah Arin berhenti ketika melihat pemandangan didepannya, di balik tikungan koridor, lagi lagi, Niken bersama seorang cowok yang tentu saja bukan Farel, tapi siapa?
Arin berusaha mengenali cowok itu, tapi ketika melihat gerak gerik Niken, Arin berjalan menjauh.
"Pagi mey." Sapa Arin sesampainya di kelas.
"Hm."
Arin diam, tidak seperti biasanya yang selalu banyak cerita, hal itu membuat Meyra Menyerngit.
"Lo kenapa rin?"
"Hm? Gue ngga papa kok." Arin mengalihkan pandangannya, ia mengambil ponsel dan mengetik beberapa kata disana.
Farel
Temuin gue pas bel istirahat, dibelakang .
Arin menunggu jawaban Farel, pesannya hanya di deliv, padahal Farel sedang online, tapi sudahlah, Arin yakin Farel sudah membacanya
☁☁☁☁☁
Setelah bel berbunyi, Arin segera bergegas menuju belakang sekolah, tempat dimana ia meminta Farel untuk bertemu.
Ia duduk di sebuah kursi, menatap sepatunya yang digerakan kesana kemari, juga sang surya yang membuat matanya sakit.
Ia menunduk, lagi lagi melihat sepatunya, pandangan mata Arin jatuh ke arah jam yang ia pakai di pergelangan tangan.
15 menit, namun Farel belum juga muncul, tidak mungkin Farel tidak datang, memang setidak penting itu Arin bagi Farel?